Jumat, 28 Oktober 2011

Aku Ingin Menjadi Pelangimu


“aku ingin menjadi pelangi. Dapat mewarnai langit seusai hujan yang kelam,”
Aku masih menatap  pelangi yang semakin lama gambaran warnanya semakin hilang. Aku sangat mengagumi keajaiban dari Tuhan tersebut, warnanya begitu indah, tak ada warna yang kusam di sana. Begitu menggambarkan bahwa pelangi selalu ceria dan aku tetap ingin menjadi pelangi yang dapat mewarnai langit.
Aroma tanah sehabis hujan masih tercium begitu lembut. Disampingku pun masih terduduk seorang laki – laki berkacamata di lengan kanannya. Ia tak berhenti meratapi nasibnya sebagai orang kaya berotak encer dan mendapat beasiswa ke Belanda, namun ia berada di titik kebingungan. Ia tak mau meninggalkanku, kekasihnya.
“Ayo, Langit! Kita mengagumi pelangi yang berwarna indah itu.” Seruku pada Langit, kekasihku.
“bintang, kau tak mengerti? Aku sedang bingung. Aku tak mau meninggalkanmu hanya demi pendidikan gratis. Aku tak bisa jauh darimu, Bintang,” aku tersenyum. Langit membentakku. Tapi, aku tahu, itu hanya luapan emosinya. Sebentar lagi juga meredam.
“Langit, perlu kau ketahui. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Aku pun tak pernah bisa jauh darimu, kau lebih berarti dalam hariku. Tapi, aku yakin, ini yang terbaik,” Langit menatapku lekat, lalu ia memelukku erat. Aku pun menangis. Tetesan air mataku membasahi T – shirt berwarna hitam yang dikenakan Langit, “Aku akan menjadi pelangi untukmu, dimana pun kau ada.” Ucapku, lirih.
“Kau Bintang. Dan kau sudah lebih dari cukup memberikan kilauan berharga dalam hidupku selama ini.” Aku tersenyum lega.

Pagi ini, aku akan mengantar kepergian Langit untuk melanjutkan studi di Belanda atas nama beasiswa yang ia terima. Aku akan bertemu dengannya di Bandara.
Sekarang aku sudah berdandan rapi, tidak berlebihan tentunya. Ya setidaknya, sebelum Langit pergi, ia masih dapat melihatku berdandan rapi.
“Kha, tolong nanti kamu berangkat sekolah diantar Pak Kosim saja, ya. Mbak mau ke bandara, mengantar Mas Langit.”
“Ya, mbak. Salamkan kepada Mas Langit ya?! Maaf aku tak bisa ikut mengantarnya.” Khaniesa tersenyum. Khaniesa adalah satu – satunya adik perempuanku.
Aku buru – buru berangkat mengendarai sepeda motorku. Aku takut aku terlambat. This is last moment, aku tak  boleh melawatkannya.
Ada sedikit perasaan sedih dalam hatiku. Dalam beberapa bulan mungkin tahun, aku tak akan bertemu Langit yang selalu hadir dalam bahagiaku, sedihku, candaku, tawaku, jatuhku, ya hampir segalanya. Maklum, aku jauh dari kedua orang tuaku. Aku di Yogyakarta, tapi kedua orang tuaku di Jakarta. Mereka memiliki sebuah perusahaan tekstil yang lumayan besar. Jadi, mereka jarang sekali pulang ke Yogyakarta. Pantas saja kan? Jika aku melalui hariku bersama orang yang mencintaiku dan sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri.
Ternyata Langit belum tiba di bandara. Katanya dia on the way. Aku pun sabar menunggunya. Tak beberapa lama kemudian, Langit tiba di hadapanku dan ia langsung memelukku dengan masih ransel yang digendongnya dan koper yang digusurnya. Entah perasaanku saja atau memang Langit mempersiapkan semuanya, Langit terlihat berbeda hari ini. Ia tampak cerah dan lebih sedikit tampan dari biasanya.
“Sudah lama menunggu?” tanyanya. Aku menggeleng sambil tersenyum. Kini, matanya menatapku lekat, lagi. Hingga aku tak mampu menahan air mataku, namun aku masih tetap tersenyum. Aku tak mau menghancurkan hari ini. Aku ingin Langit tenang meninggalkanku. Meski aku tahu, Langit mempunyai perasaan yang sama denganku.
“Duduk dulu, yuk?! Pesawatnya baru berangkat tiga puluh menit lagi kok,” Langit tersenyum. Kami pun duduk bertiga–bersama Mbak Roro, satu – satunya kakak perempuan Langit. Tentu aku sudah sangat mengenalnya.
“Bintang, aku titip padamu. Jika suatu hari nanti aku kembali padamu, pastikan kamu masih menyimpan ini,” Langit menyerahlan sebuah kalung berliontin sepotong pelangi, “Ini pelangi punyamu, dan ini punyaku. Kau tahu, tak mungkin pelangi dapat berwarna sempurna tanpa potongan pelangi lainnya? Jaga ini. Aku pasti kembali.” Langit kemudian memakaikan kalung itu di leherku.
Tanpa terasa, ini saatnya Langit harus pergi. Meninggalkanku dan puing – puing kisahku dengannya. Meninggalkan jejak langkah yang pernah kita lewati.
Mungkin berjuta rasa takut kehilangan Langit tiba – tiba tumbuh di hatiku. Berkali – kali aku menarik napas panjang agar aku merasa sedikit tenang.
“Ingat titipanku dan harus kau tahu aku sangat mencintaimu. Maafkan jika aku banyak berbuat salah,” Langit menggemggam erat tanganku. Perlahan ia menuntun tanganku sampai pada kecupan tulus di punggung telapak tanganku. Napasku mulai tak menentu. Aku terisak. Sedihku tak terbendung. Aku tahu aku akan sangat merindukan Langit. Tapi, ayolah Tuhan, berikan aku kekuatan.
“I will very miss you, baby...” Langit tertunduk.
“I will be your rainbow, wherever. Keep smile please. Make me be a proud. Come on! Dunia menunggumu!” aku memberikan semangat untuknya. Aku tak ingin terlihat bersedih di hadapannya.

Berhari – hari tanpa kehadirannya, aku mulai terbiasa. Semalaman aku mulai terbiasa untuk
tidak tidur nyenyak, aku mulai terbiasa untuk galau, mulai terbiasa untuk bosan. Ya, memang ini perubahan yang sangat drastis. Bagaimana tidak? Setiap hari aku selalu ditemani Langit untuk pergi ke toko buku favorit kami, malam harinya kami masih berjalan – jalan keliling kota atau mengobrol ringan di sebuah tempat favorit kami, taman kota. Tapi sekarang? Semua seakan hilang ditelan bumi. Aku pergi ke toko buku sendiri, nongkrong di taman kota pun sendiri. Bukan berarti aku tak punya teman, tapi jika bersama temanku, rasanya berbeda. Tidak seperti aku dan Langit.

            Kemarin – kemarin  atau tepatnya sebulan yang lalu, itu kali terakhir Langit menghubungiku. Setelahnya ia menghilang tak ada kabar, entah kemana. Aku khawatir. Banyak rasa takut tumbuh di hatiku. Aku takut sesuatu terjadi padanya.
            Mataku memerah. Aku tak bisa tidur, aku hanya menangis sejak pukul 04.00 sore tadi dan sekarang sudah pukul 09.17 tepat. Aku pun memutuskan untukn pergi ke taman kota, sekedar mengenang atau mungkin aku menghibur diri di sana. Semoga aku terhibur.
            Terasa lebih dingin dari biasanya, ketika aku duduk dan tertunduk di kursi kayu yang biasanya aku duduki bersama Langit. Entah apa yang harus aku lakukan tanpanya. Serasa mati separuh tubuhku. Aku terbiasa dengan Langit. Ya Tuhan, jaga dia di sana.
            “Andai Langit di sini. Kau pasti tak akan sedih,” aku terkaget. Siapa yang berbicara itu. Itu perkataan di hatiku. Ku tengok sebelahku, ternyata Kak Dhean. Kakak tingkatku. Ia laki – laki baik. Aku menyadari itu karena ia juga teman dekat Langit. Ia sudah kami – aku dan langit anggap senagai kakak kami sendiri. Ia sangat dewasa. Bahkan saat sebuah masalah besar pernah melanda hubungan kami sampai akhirnya kita hampir putus, Mas Dhean lah yang membantu kami hingga akhirnya kami bersatu lagi dan baik – naik saja.
            “Eh,  Kak Dhean. Sedang apa di sini?” tanyaku.
            “Sedang menemanimu, dan ingin mendengar ceritamu. Aku tahu, kau butuh teman saat ini,” Kak Dhean menatapku dan tersenyum, “Berceritalah,” Aku malah memeluknya dan menagis. Saat ini ia sandaran kesedihanku. Setidaknya ada yang mampu membuat hatiku sedikit tenang.
            “Sudah. Berhenti menangis. Aku tahu bagaimana perasaanku. Karena aku pun sedang merasakan hal yang sama,” aku terperanjat.
            “Kakak juga sama? Kakak merindukan siapa? Mengapa tak pernah bercerita?”
            “Ku rasa, nanti kau pun tahu. Ia tak pernah pergi jauh dari sampingku, tapi aku merasa hatinya selalu jauh dari hatiku. Aku selalu merindukannya,”
            “Wow! Separah itukah?” tanyaku terheran – heran. Setahuku Kak Dhean tak pernah memperdulikan urusan cinta. Tapi ternyata, tak bisa dibayangkan bagaimana sakitnya.
            “Ya. Sudahlah, cepat atau lambat ia akan menyadari. Kembali ke ceritamu, Bintang,” aku terdiam. Aku tak tahu harus memulai cerita dari mana. Ceritanya terlalu panjang untuk dimulai, “Bintang?” aku tersadar dari lamunanku.
            “Eh, ya kak. Inti dan pokoknya, aku sangat mengkhawatirkan Langit. Sudah sebulan ia tak menghubungiku, kak,” aku tertunduk lagi dan lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.
            “Cukup satu yang harus ku katakan. Semangat! Suatu hari nanti, jika ia memang ditakdirkan bersamamu, ia akan kembali padamu dan menjadi milikmu seutuhnya,” Kak Dhean tersenyum sambil menepuk bahuku. Aku pun bersandar lagi di dadanya. Ia mengelus rambutku dan aku menangis. Biasanya Langit yang melakukan ini padaku. Tapi, sudahlah.

            Jenuh. Sepertinya Langit memang melupakanku. Sakit hati. Sangat sakit hati. Aku telah sabar menunggunya. Setidaknya ia mengirimku surat, jika ia tak bisa menghubungiku lewat kabel telepon. Tapi, bagaimana pun, Langit adalah seseorang yang ramah, pasti ia menemukan perempuan lain yang lebih bisa menemaninya setiap waktu.
            Aku tahu, long distance relationship itu berat. Tapi aku sendiri masih mampu, selama Langit masih memperdulikanku.
            Sekarang, saatnya aku berdiri sendiri. Tanpa Langit.

            Aku terburu – buru menaiki anak tangga menuju ruang kelasku. Masih banyak tugas yang harus ku selesaikan. Terlebih, jabatanku sekarang adalah asisten dosen. Jadi, tugasku agak bertambah.
            Sesampainya aku di ruang kelas. Masih sepi. Baru ada satu, dua orang saja. Teman yang dekat denganku baru hadir si Vero.
            “Hey, kenapa buru – buru, Bintang?” tanya Vero. Aku hanya menggeleng. Aku berusaha berkonsentrasi pada tugas – tugasku hari ini, “Aku tinggal tak apa?” tanyanya lagi, aku tetap menggeleng. Vero pun berlalu. Yang lain pun berlalu. Kini hanya aku sendiri di sini. Di ruang kelasku.
            Ku dengar detak langkah yang suaranya semakin mendekat. Aku tak terlalu memperdulikannya, aku hanya peduli pada tugasku.
            Detak langkah itu semakin mendekat saja, membuatku menjadi penasaran, “Siapa di sana?” ucapku agak keras. Kemudian muncullah seseorang yang mengagetkanku. Kak Dhean tampak di sana tersenyum sambil membawa 2 mangkuk sesuatu yang entah apa itu isinya.
            “Kak Dhean. Kakak bawa apa?” tanyaku, penasaran.
            “Kamu belum sarapan, kan? Aku bawakan bubur ayam. Lumayan, untuk mengganjal perut. Kan tugas kamu jadi banyak, setelah kamu jadi asisten dosen,” Kak Dhean tertawa kecil sambil mengacak – acak rambutku. Kami pun menikmati bubur ayam itu.
            “Oh ya, bagaimana dengan Langit?” pertanyaan itu membuatku sedikit tersedak. Kaget, “Eh, sorry, Bintang. Aku hanya bertanya,” Kak Dhean memberiku sebotol air mineral.
            “Sudahlah, kak. Aku tak mau membicarakannya lagi.” Aku tertunduk
“Sorry. Hmm, Bintang? Mau nggak, nanti sore temani kakak?”
            “Ke mana?”
            “Pokoknya mau saja, ya?” Aku pun mengangguk pasti. Kami pun melanjutkan sarapan kami. Setelahnya, Kak Dhean membantuku menyelesaikan tugas – tugasku.

            Kedua mataku ditutup oleh sehelai kain batik milik Kak Dhean, “Ayo, Bintang!” Kak Dhean menuntunku.
            Aku sangat penasaran. Sebenarnya Kak Dhean membawaku ke mana? Kak Dhean lalu mengajakku duduk dan menyuruhku untuk membuka penutup mataku. Dan tampaklah Kak Dhean berdiri tepat di hadapanku dan memberiku sekuntum bunga mawar merah, dan tempat itu adalah taman tempat aku dan Langit menikmati hujan dan aroma tanah sehabis hujan. Air mataku menitik, aku pun memeluk Kak Dhean.
            “Why?” kak Dhean menatapku, lekat. Namun aku hanya menggeleng pelan, “Berceritalah,” Kak Dhean melempar senyumnya.
            “Aku tidak tahu harus bercerita apa lagi. Aku hanya menginginkan Langit di sini, dipelukku bersama senyumnya.” Tangisku semakin tak terbendung.
            “Aku, tak bisa menghadirkan Langit di sini. Tapi, aku bisa membuatmu sempurna, seperti Langit menyempurnakanmu menjadi Bintang terang.” Kak Dhean memelukku lagi. Sekarang rasanya seperti pelukkan Langit. Bahkan lebih hangat dari pelukkan Langit.
            “Jika aku mencintaimu dengan hati yang tulus, kau akan menjadikanku langit untuk kilauanmu?” Aku mengangguk pasti.

            Hari ini hari sabtu, bulan ketiga aku bersama Kak Dhean dan bulan ketiga pula aku masih merindukan Langit. Hufff
            “Kak Bintang, tadi pagi ada yang menelpon ke ponsel – ku. Katanya Kak Langit akan pulang hari ini,” Khaniesa seperti mendeskripsikan sesuatu yang tak seharusnya ku dengar.
            “Yang menelepon itu, bilang, dia siapa?” tanyaku, penasaran.
            “Mbak Roro kalau tidak salah.” Ha? Mbak Roro? Kakaknya Langit. Berarti kemungkinan besar, benar berita itu. Langit akan pulang hari ini. Lalu, aku harus bagaimana? Bukannya Langit sudah melupakanku?  Oke. Aku akan pura – pura tidak peduli dengan kepulangan Langit. Biar saja, jika Langit memang masih membutuhkanku, dia pasti datang kapadaku.
            “Kak? Kak Bintang?” Khaniesa membuyarkan lamunanku.
            “Iya, kenapa Kha? Kamu jadi pergi sama Dandy? Pergi aja. Hati – hati ya, sayang.” Khaniesa pun berlalu dari hadapanku. Dia pergi tanpa sepatah kata pun, ia hanya tersenyum dan mengangguk.

            Sampai hari ketiga setelah katanya Langit pulang ke Indonesia, ia tak menghubungiku juga. WHAT? Oke lah, mungkin dia memang benar – benar sudah melupakanku. Ya, pahitnya, Langit mungkin datang ke hadapanku dengan menggandeng perempuan bule, calon istrinya yang ia bawa dari Belanda sana, dan ia akan meminta izin kepadakau, dan aku akan menangis di hadapannya, ia pun akan mengerti betapa aku mencintainya dan sungguh tak ingin dikhianatainya. *Ups! Sadis sekali.
            Aku tidak banyak fokus ke Langit, aku lebih fokus kepada tugas – tugas kuliahku. Fokus! Fokus! Fokus! Jika Langit saja bisa melupakanku dan fokus kepada tugasnya, mengapa aku tidak?
            Tiba – tiba ponsel – ku berdering berturut – turut tiga kali. Pertanda 3 pesan singkat masuk. Aku kaget, biasanya ponsel – ku sangat sepi tak bergetar sama sekali. Tapi kali ini, sampai tiga kali. Ckckck. Ternyata pesan singkat itu dari Raisa, adik dari Kak Dhean. Seseorang yang sudah ku anggap kakakku sendiri itu. Setelah membaca beberapa kali SMS itu, aku ternganga, tercengang, kaget dan tak percaya. Aku terdiam. Bertanya – tanya, apakah benar atau tidak? Aku segera membereskan buku – buku yang sedang kubaca dan kupelajari. Aku berlari menuju parkiran dan segera melaju menuju tempat Kak Dhean.
            Sesampainya di sana.......
            “Rai, mana Kak Dhean? Mana?” Aku terengah – engah. Raisa memelukku, ia menangis. Menahan rasa sakit. Bukan ‘sakit’ itu yang dimaksud, tapi sakit. Raisa merasa tak ada lagi tumpuan hidupnya selain kakaknya itu. Ya, Dhean memang kaka yang sangat baik untuk seorang adik perempuan bandel seperti Raisa, “Rai, katakan di mana Kak Dhean?”
            “Dia di ruang ICU, kak. Kak Dhean luka parah. Aku bingung harus kepada siapa lagi aku mengadu. Yang aku tahu, yang selalu dipedulikan Kak Dhean adalah Kak Bintang, dan tidak mungkin saat Kak Dhean dalam keadaan seperti ini, Kak Bintang tidak peduli,” Raisa menjawab sambil masih meneteskan air matanya. Aku tahu, dia sangat ketakutan jika Kak Dhean harus pergi sekarang juga. Jangankan Raisa, aku pun tak mau kehilangan Kak Dhean. Hanya ia yang peduli padaku. Kata Raisa benar.
            “sekarang kamu tenang saja dulu. Kakak peduli di sini.” Aku tersenyum.
            “Kak, seandainya Kak Dhean memang harus pergi sekarang, kakak akan melakukan apa untuknya?” pertanyaan itu sungguh menodong perasaanku. Entah aku harus menjawab apa. Ada sejuta jawaban di hati ini. Aku merasa nyaman, aman, bahagia, merasa dipedulikan, merasa ada, merasa hidup dan akhirnya aku mencintainya.
            “Kakak mencintainya, Rai, dan jika memang Kak Dhean harus pergi sekarang, kakak akan menjagamu. Karena kakak tahu, kamu lah yang sangat dicintai Kak Dhean, dan kakak berhak menggantikan Kak Dhean ketika ia pergi,” Raisa kemudian meneteskan air matanya lagi, tapi setelahnya ia tersenyum, “Kak, ayo kita ke ruangan Kak Dhean. Sepertinya ada yang ingin dikatakan Kak Dhean,” Raisa pun menarik tanganku.
            Ketika aku memasuki ruangan putih dingin ini, rasanya aku tak kuat menahan air mataku. Aku takut tak mampu melihat wajah Kak Dhean. Raisa kemudian menunjukkan ke salah satu tempat tidur, yang di sana terbaring lemah seorang laki – laki yang bercucuran darah di bagian kepala. Kak Dhean. Air mataku semakin menjadi. Di sana, di tempat tidur bersih itu terbaring laki – laki baik yang terlalu mempedulikanku selama ini.
            “Kak Dhean, ini aku, Bintang.” Aku membisik. Tapi, Kak Dhean tak merespon sedikit pun. Isyarat pun tak ada. Mungkin Kak Dhean belum sadar.
            Aku berniat untuk jaga di rumah sakit menemani Raisa. Aku korbankan acaraku yang tadinya aku ingin pergi ke toko buku.
            “Kakak nggak pulang?” aku menggeleng. “Kenapa? Kakak kuliah besok?” aku mengangguk. “Lalu?”
            Aku menarik napas panjang, “Kakak akan menginap di sini, Rai.” Jawabku.
            “Yang benar?” aku mengangguk pasti.

            Hatiku tak tenang. Aku masih ingin bersama Kak Dhean. Tapi, di sisi lain aku tak ingin melewatkan kuliahku. Sekarang, aku berada di ruang kelas yang sangat ramai, tapi aku merasa sendiri. Sudah jelas, aku mencintainya.
            “Bintang, Dhean kecelakaan ya?” tanya Deri, teman Kak Dhean. Aku menengok, “Iya, Der. Kak Dhean luka parah.” Aku menjawab sambil tetap fokus ke sebuah buku.
            “Kalau nanti kamu ke rumah sakit, tolong sampaikan salam untuk Dhean. Maaf aku tak bisa menemuinya,” Aku mengangguk. Deri pun menepuk – nepuk bahuku, menguatkanku.
            Ponsel – ku berbunyi. Aku merogohnya dari tasku, ternyata telepon dari Raisa, “Halo, Rai? Ada apa?” Di seberang telepon, Raisa hanya diam. Tak ada kata. Hening, “Rai? Halo Raisa?” kali ini terdengar cegukkan. Pasti Raisa baru saja menangis. Apa yang terjadi?
            “Raisa, bicaralah,” terdengar helaan napas yang kuat, “Kak, Kak Dhean.......” telepon terputus. Aku segera pergi untuk menemui Raisa yang setahuku dia berada di rumahnya.

            Di tempat ini tangisku masih saja tak berhenti. Di kursi ini, malam ini SENDIRI. Harusnya, jika tadi siang Kak Dhean tak “pergi” untuk selamanya, ia berada di sisiku saat ini. Menemaniku menatap bulan yang tak pernah lelah tuk bersinar, menggantikan Langit yang seakan sudah tak peduli padaku. Sekarang, aku benar – benar sendiri. Tak ada siapa pun laki – laki yang mampu membuat hariku lebih berarti.
            “Aaaaaarrrrggggghhh!!!!!!” aku berteriak sambil meneteskan air mataku yang tak habis juga. Tiba – tiba, saat aku menangis kencang, ada seseorang yang menepuk bahuku. Siapa yang tak kaget? malam hari, sendiri, dan ada yang menepuk bahu secara tiba – tiba. Tapi, aku hanya berharap itu adalah malaikat yang akan menjemput nyawaku untuk bertemu Kak Dhean.
            “Siapa?” tanyaku sambil masih menangis dan tak menengok. Ternyata itu seseorang. Ia duduk di sampingku, aku tak peduli. Mungkin itu supirku, atau mungkin orang lain yang ingin tahu aku sedang apa, atau banci yang lagi mangkal. Entahlah. Setelah sekitar 3 menit seseorang itu tak berbicara, aku mulai mengenali wangi dari orang itu. Aku menengok kepada orang itu, dan ternyata benar, “You?” aku memeluknya. Aku menumpahkan rasa sedihku pada laki – laki itu, walau dalam hati, aku geram, marah, dan benci pada laki – laki yang ku kira sudah melupakanku karena sibuk di luar negeri itu. Langit.
            “Sorry,” kata Langit penuh penyesalan. Aku tak mampu berbicara lagi. Aku hanya menangis dan menangis. Belaian dari tangan Langit, kini ku rasakan lagi, meski hatiku terasa sakit.
            “Kamu ke mana? Kau tahu, aku masih kekasihmu? Aku menunggumu di sini, setiap malam.” ucapku, lirih. Aku pun melepaskan pelukannya. Ia mencoba menghapus air mataku yang tak berhenti.
            “I’m so sorry, Bintang. Aku tak pernah bermaksud melupakanmu,” Langit menggenggam tanganku, erat.
            “Lalu, kau ke mana?” teriakku. Seketika Langit menunduk di hadapanku. Ia menangis di hadapanku, “Jawab, Langit!” teriakku lagi.
            Ia menengadah, menghela napas panjang, “Aku dijodohkan oleh mami dengan saudara jauhku. Aku tak mau, aku punya kamu. Aku kabur dari tempat tinggalku di sana. Segalanya ku tinggalkan, termasuk ponsel – ku yang tak sengaja tertinggal. Aku hanya membawa bekal seadanya. Uang hanya jatah dari beasiswa, dan itu tak cukup untuk membeli ponsel baru di sana. Aku sempat mencoba menghubungimu melewati telepon umum, tapi kau tak mengangkatnya,” Langit menatapku, lekat. Aku mencoba percaya dengan ceritanya, sampai akhirnya aku percaya sepenuhnya. Hatiku berkata yakin dengan ceritanya. Sempat air mataku berhenti mengalir, sesaat, tapi kali ini kembali menetes. Cintaku memang masih untuk Langit, rinduku pun masih untuknya. Aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku memang mencintai Kak Dhean, tapi ternyata tak lebih dari cinta antara sahabat baik saja. I love you so much, Langit.....

            Duduk dan tersenyum dengan memakai dress tosca. Aku tak tahu kejutan apa yang akan diberikan Langit untukku. Aku hanya disuruhnya untuk menunggu di taman ini, tempat dulu ketika aku tak hentinya berharap menjadi pelangi untuk Langit.
            Dari belakang ada yang memanggilku pelan, dan itu Langit. Ia beralih ke hadapanku, dan ia memberiku setangkai mawar putih. Setelah aku menerima mawar itu, Langit memberiku sebuah kotak kecil beludru berwarna merah, tentu saja itu sebuah cincin yang berkilau. Aku tersenyum, dan berdiri. Langit memelukku, aku menghirup wanginya dalam – dalam. Wangi yang kurindukan. Saat aku melihat ke langit biru sehabis hujan, di sana terlukis garis pelangi yang berwarna – warni, “Langit, look that!” aku menunjuk pelangi yang semakin jelas terlukis. Langit pun melepas pelukku, “Hey, do you remember about that?” aku mengangguk, “Aku ingin menjadi pelangi untukmu, Langit, tapi aku adalah bintang,” ucapku, tersenyum, “tapi, kilauanmu sudah lebih dari cukup untuk setiap detik hidupku,” Langit memakaikan cincin yang berkilau itu di jari manisku, dan menciumnya...
            Helaan napas penuh keyakinan beserta senyuman dari Langit, “you’re my rainbow, you’re my star’s. And i know, everything will be fine, with you.....”
*TAMAT*

I said: terkadang kau tak bisa memiliknya seutuhnya. Suatu waktu ia akan menghilang tanpa jejak, tapi jika ia takdirmu, suatu hari nanti ia akan kembali untuk membahagiakanmu! Believe it! J
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar