Selasa, 04 Oktober 2011

Karma


hembusan angin yang disertai dengan kicauan burung yang silih berganti seakan saling bersaut-sautan memanggil nama nya yang kini sedang aku pikirkan dan selalu aku rindukan. Entah apa yang terjadi pada diriku. Tetapi sambaran petir hapuskan lamunanku, dia mengingatkanku bahwa orang yang kau rindukan telah ada yang miliki, hatinya bukan lagi untukmu, yang dia pikirkan bukan lagi dirimu. Tertunduk dan menetes air mata yang menunjukan kepedihan hati ini. aku hanyalah wanita lemah yang tak bisa menahan rasa pedih di hati saat melihat seseorang yang aku cinta berdampingan dengan seorang wanita yang bukanlah diriku. Mengapa tuhan takdirkan ku untuk berpisah dengannya tapi tuhan tak takdirkan ku untuk bisa melupakan dirinya. Lelaki tampan bertubuh tinggi, dengan gaya rambut yang rapih dan menunjukkan kegagahannya,dia yang aku rindukkan, Rangga. Remuk hati ini saat ku mengucapkan nama indah yang dulu pernah terukir dalam hati ini dan sekarang tlah hilang dan pergi. Sampai kapan aku akan terus terpuruk di dalam rasa sakit hati dan juga putus asa dalam cinta. Lelaki tak hanya satu, tapi mengapa aku hanya mencintai satu lelaki dan yang telah dimiliki oleh wanita lain. Kursi taman dan juga rumput yang bergoyang menjadi saksi rasa sakit ini. akankah dia kembali? Kapankan dia mengisi hati ini lagi? Pertanyaan yang terus-terus menyerang diri ini.
 tak lama saat ku sedang melepaskan rasa pedih yang kurasa, terdengar alunan suara pria yang tak asing di telinga ini. dengan rasa gugup dan juga penasaran aku menolehkan kepala ini menuju sumber suara seseorang yang ku damba. Ternyata benar, dia rangga , dia pria yang ku tangisi saat ini. tapi, di belakangku dia sedang tertawa-tawa bahagia dengan seorang wanita yang dia genggam erat tangannya seolah tak mau bidadari hatinya itu pergi jauh dari dirinya. Aku tak bisa berkata, aku hanya bisa meneteskan air mata hati ini. disaat ku menangis, terdengar suara indah itu mendekatiku. Terasa telapak tangan yang memberatkan di pundakku
“Hey dis, sedang apa kamu disini” tanyanya dengan ramah
Dengan cepat aku menghapus air mata yang ada di pipiku
          “eh kamu rangga. Aku .. aku lagi nyari inspirasi aja disini buat novel yang baru aku buat. Kamu sendiri lagi apa disini? Lagi ngedate yahhh.. ?” dengan sedikit candaan yang menyakitkan ku menjawab pertanyaannya
          “oh gitu, sendiri aja dis? Hehe kamu tau aja dis .. iya niih aku lagi ngajak pacar aku jalan-jalan. Kenalin namanya desi. sayang ini temenku namanya gadis”
          “iya nggha aku sendiri aja disini. Ciye ciye . jdi ngiri nih. Oh iyah hey aku gadis. Salam kenal yah ..”
          “udah pada kenal kan? Bagus deh kalo udah kenal mudah-mudahan jadi akrabh yah. Eh iya diis , aku duluan yah soalnya aku mau keliling-kelling duulu di taman ini. awas jangan ngelamun terus ah nanti kesambet. Hehe bye diis”
          “oh iya ok nggha. Ah bisa aja kamu. Ok bye juga”
          Bagaikan terbang kelangit saat ku bisa melakukan percakapan kembali dengan seorang rangga satria yang dulu adalah orang istimewa dalam hidupku. Tuhan.. mengapa Engkau berikan waktu yang hanya sekejap untukku bertemu dengannya dan memberikan waktu yang tak tau berapa lamanya untukku melupakannya. Aku hanya bisa berharap, semoga Kau berikanku kesempatan kembali untuk bertemu dengannya.

          Mentari tlah terbangun dari tidurmya dan tersenyum untuk seluruh manusia, ayam berkokok menandakan hari tlah pagi dan saatnya untuk terbangun. Dengan mata setengah terbuka aku melihat sinar matahari yang masuk dan menyorot langsung ke dalam mataku. Terdengar ketukan pintu dari luar. Jam masih menunjukan pukul 07 pagi. Dalam hatiku bertanya, siapa yang mau bertamu pagi buta begini. Dengan nyawa yang belum penuh , aku jalan dengan sempoyongan, aku mendekati pintu rumah ku.
          “iya sebentaaarr” teriakkanku dari kamar
          Setelah ku tlah berdiri di depan pintu putih yang bercorakkan gambar-gambar berwarna gold aku membuka pintu itu. jantungku seakan dicabut dan paru-paruku seakan mengecil, ternyata tamunya adalah Dessiii... ada apa dia datang ke rumahku. Mungkinkah dia tau bahwa aku selalu memikirkan kekasihnya? Jantungku berdeguph sangatlah kencang.
          “eh desi, ayo masuk masuk. Maaf yah berantakan, maklum baru bangun.hehe ada apa ni?”
          “oh iya gak apa-apa ko dis. Maaf yah aku datang ke rumah kamu pagi pagi begini. Aku tau alamat rumah kamu dari rangga. Sebenarnya aku mau minta tolong sama kamu dis.”
          “minta tolong apa des? Aku bakalan bantu ko selagi aku bisa, bilang aja des , mau minta tolong apa?”
          “gini dis...”

          Desi menceritakan masalahnya. Dan ternyata dia ingin aku mendekati rangga lagi supaya rangga jatuh cinta lagi kepadaku karena desi tidak bisa berhubungan lebih jauh dengan rangga karena dia akan dijodohkan dengan lelaki yang dia lebih cinta. Aku tak mengerti mengapa ada wanita yang tega meninggalkan lelaki tampan, perhatian serta pengertian seperti rangga sedangkan aku malah mengharapkan dia. Karena aku ingin menolong desi, akhirnya aku mau menerima suruhan desi itu. meskipun ku tau, pasti rangga akan merasakan sakit hati yang kurasa karena harus melihat wanita yang dia cinta menikah dengan pria lain.
          Esok harinya desi merencanakan semua cara agar ku bisa bertemu dengan rangga. Sebulan aku pendekatan kembali dengan rangga dan sepertinya rangga mulai sayang dan suka kembali padaku. Aku tak tau harus bagaimana kalau rangga tau kebohongan aku dan desi selama ini. tapi aku tak mau rangga akhirnya akan ditinggal begitu saja oleh desi. Karena hari demi hari telah mendekati tanggal pernikahan desi. Desi memutuskan untuk bertemu dengan rangga dan dia menunjukkan sikap jelekh seorang wanita yang membuat rangga ilfiiel padanya dan akhirnya rangga mengakhiri hubungan mereka.
          Handphone ku bergetar karena ada satu pesan masuk untukku ternyata itu desi, dia mengucapkan terimakasih padaku karena dia telah putus dengan rangga. Hari itu adalah tanggal 22 juli 2011 dan desi akan menikah dengan prabu lelaki yang dijodohkan dengannya tanggal 25 juli 2011. Aku memiliki waktu 3 hari untuk bisa menghilangkan bayangan desi di pikiran rangga. Setelah selesai membaca sms dari desi. Ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku. Dengan langkah perlahan dan aku melihat lewat jendela ternyata orang di balik ppintu rumah ku adalah  rangga. Dengan sedikit merapihkan penampilanku aku membuka pintu rumah dan tersenyum manis menymbut rangga.
          “hey rangga, ada apa niih . tumben datang ke rumah”
          “ini dis, kmu lagi sibuk ga? Aku mau cerita nih sma kamu”
          “oh engga ko. Ayo masuk dulu nggha”

          Sekitar 30 menit dia menceritakan kejadian tadi saat bertemu dengan desi di sebuah cafe tempat biasa mereka bertemu. Dan dia aneh dengan sikap desi tadi, dia jadi gampang emosi, manja, matre, dan sikap-sikap jelek lainnya yang ga biasanya desi lakukan. Akhirnya rangga memutuskan hubungan mereka. Aku hanya bisa mencoba menenangkan ranga, dan memberikan saran agar dia tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan putus asa begitu saja. Setelah rangga merasa tenang, dia berpamitan untuk pulang dan berterimakasih padaku karena telah mendengarkan kekesalannya dan juga memberikan saran yang terbaik untuknya. 2 hari berlalu sepertinya rangga mulai pulih dan kembali seperti semula. Tepat tanggal 24 rangga mengirimkan pesan melalui handphone. Isi pesan tersebut begini.
          “dis, aku dapet undangan dari desi. Besok dia mau nikah. Ternyata 2 bulan ini dia cuman jadiin aku pelampiasan. Aku ga tau mau gimana. Aku emosi banget diis”

          Aku bingung harus bagaimana untuk bisa menjelaskan dan menenangkan rangga. Akhirnya aku memutuskan untuk datang ke rumahnya. Satu jam perjalanan akhirnya aku sampai di rumah megah rangga. Dengan hati yang gelisah aku menekan bell rumahnya. Pintu itu di buka oleh ibunya rangga.
          “eh gadiss.. mau cari rangga yah?”
          “iya tante, rangganya ada di rumah ga?”
          “ada dis, coba masuk aja ke kamarnya dari pagi dia ga mau keluar dari kamar”
          “oh iya tante, makasih..”

          Dengan ragu aku membuka pintu kamar rangga. Dan aku melihat pemandangan yang sangat buruk yag aku takuti. Kamar rangga begitu berantakan karena keberontakan dia, aku melihat rangga ada di pojok kamarnya tanpa menggunakan kaus dan memegang sebuah pecahan kaca. Aku dengan spontan berteriak menghentikan rangga.
          “rangaaaaaa .... ! jangan !”
          Aku berlari dan melepaskan pecahan kaca di tangan rangga dan menangis di depan rangga.
          “rangga.. kamu ga usah lakuin hal yang buruk kaya gini. Kamu udah kekubur sama rasa emosi kamu. Aku sayang sama kamu rangga , aku ga mau kamu ninggalin aku untuk kedua kalinya nggha . aku sayang sama kamu” dengan terbanjiri air mata aku terus mencurahkan isi hatiku.
          Rangga langsung memeluk erat tubuhku
          “maafin aku diis, aku udah sakitin kamu dulu. Aku udah khianatin kamu. Mungkin sekarang aku dapetin karma karena udah nyakitin kamu. Tapi di saat aku putus asa kamu masih teteph ada buat aku. Makasiieh diis . aku juga sayang sama kamu. Aku ga mau ninggalin kamu diis.”
          Rangga melepaskan pelukannya dan mengecup bibirku. Dia berjanji tidak akan meninggalkan dan khianati aku lagi. Dan dia akan selalu terbuka kepadaku di saat dia ada masalah. Aku dan rangga akhirnya merajut cinta kembali dari awal dan menjadikan kejadian dlu sebagai pelajaran. Janganlah kalian mengkhianati seseorang yang menyayangi kalian karena kelak kalian akan dikhianati oleh seseorang yang kalian sayangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar