Obat-obatan berceceran di sebuah
ruangan yang kotor yang tak pernah dibersihkan. Berpuluh-puluh suntikkan
tergeletak di sudut-sudut ruangan. Terlihat sesosok pria remaja bernama Rehan
yang begitu pucat karena telah menggunakan obat-obatan dan meminum-minuman
keras. Dia hanya bisa terdiam lemas karena mengalami efek dari obat-obatan yang
disuntikkan masuk ke dalam tubuhnya. Dia melihat ke tumpukkan tempat di mana
dia menyimpan semua barang berharganya itu. Ternyata obat-obatan yang dia beli
dengan uang hasil memalaknya di sekolah dan mencuri dari lemari ibunya sendiri
sudah habis. Dia mengambil handphone dan tas kucelnya untuk membeli obat-obatan
ke orang yang biasa menyetorkan padanya. Saat rehan hendak keluar rumah.
Terlihat ibu yang sedang duduk santai di tengah rumah. Ibu yang sangat lemah
lembut itu bertanya pada anaknya.
“Rehan.. mau kemana kamu nak? Sudah
makan belum? Ibu siapkan makanan favorit kamu di dapur.”
Tapi dengan wajah tanpa ekspresi
apapun rehan keluar dan menutup pintu dengan kencang. Saat itu, ibu hanya bisa
mengelus dadanya dan tersenyum. Anak itu sampai saat ini belum mengerti tentang
orang tuanya. Ibunya berusaha semampu mungkin untuk memenuhi semua keinginan
anaknya itu. Tapi ibu yang memiliki kenginan sedikit, yang hanya menginginkan
anaknya menjadi anak yang soleh dan berbakti pada kedua orang tuanya, sulit
untuk dia penuhi. Apa semua remaja kini
seperti Rehan? Tanya Ibu Widya dalam hatinya.
Rehan pulang dengan wajah ketus dan
emosi, karena dia tidak mendapatkan kebutuhannya itu. Dia mengamuk di kamar dan
berteriak-teriak membuat Ibu Widya khawatir akan keadaan anak semata wayangnya
itu. Ibu widya menghampiri Rehan yang ada di kamar. Pintu kamar Rehan terkunci.
Entah apa yang dia lakukan di dalam. Ibu berusaha mengetuk pintu kamar rehan
tapi tak ada respons sedikitpun dari dia. Untungnya ibu menyimpan semua kunci
cadangan ruangan-ruangan di rumah. Ibu membuka pintu kamar yang di penuhi
dengan poster-poster itu. Ibu begitu terkejut melihat anak kesayangannya itu
seperti orang yang ketakutan di sudut kamar yang gelap dan juga sangat berantakan
karena keberontakkan dari Rehan. Ibu memeluk rehan dan tak ingin terjadi
apa-apa pada anaknya itu. Rehan hanya menggigil dan terdiam dalam pelukan
ibunya itu. lama kelamaan rehan tertidur dalam pelukan Ibu Widya. Ibu meminta
tolong pada pembantunya untuk mengangkat rehan ke kamar tamu untuk tempatnya
beristirahat sementara. Anak sekolah menengah atas yang kini remaja dan mencari
jati dirinya itu tertidur pulas di sebuah ranjang yang besar dan dihias
senyaman mungkin oleh Ibu Widya. Dia terlihat begitu pucat dan lelah. Terlalu
banyak obat yang dia masukan ke dalam tubuhnya itu. Setelah mengurus anaknya
itu, Ibu Widya bergegas menuju kamar Rehan dan merapihkan kamarnya yang sangat
menyeramkan itu. Ibu Widya menangis melihat banyak sekali suntikan dan bungkus
obat-obatan bahkan sebuah lem keras yang entah apa fungsinya di kamar itu. Ibu
begitu sedih melihat anaknya kini yang telah terbawa oleh pergaulan yang salah.
Yapi ibu tak ingin menunjukkan kesedihan dan air matanya ini pada anak
kesayangannya itu meskipun Ibu merasa gagal sebagai orang tua. Tomi atau ayah
kandung Rehan sibuk mengurus pekerjaannya di luar kota hingga Ibu Widya mengurus
anaknya itu sendirian. Ibu Widya membereskan ruangan itu sehingga terlihat
rapih dan tidak menyeramkan lagi. Keesokan harinya Rehan baru sadar dari efek
obat-obatan yang dia konsumsi kemarin. Dia merasa kebingungan mengapa sekarang
dia ada di kamar tamu. Apa yang terjadi kemarin padanya? Dia melangkah dengan
lemas menuju kamarnya. Saat dia membuka pintu kamarnya , emosi Rehan memuncak
melihat semua obat-obattannya tidak ada dan semua menjadi bersih tertata rapi. Ibu. Pasti dia
yang melakukan ini semua. Rehan kesal mengapa ibu nya itu selalu merusak
keinginannya. Apa yang di inginkan oleh ibunya itu.
Terlihat Ibu Widya yang sedang duduk di
halaman taman dengan secangkir teh dipangkuannya. Dia begitu tenang dan nyaman
melihat bunga-bunga yang dia rawat selama ini. Tiba-tiba Rehan berteriak dari
dalam rumah.
“Mamaaaahhhhhh ....” teriak Rehan
dari dalam rumah.
Ibu widya menyimpan tehnya di kursi
taman dan menghampiri rehan di dalam rumah.
“Ada apa nak? Ko kamu teriak-teriak
kaya gitu?”
“Aaaahh jangan banyak ngomong deh
mah. Mamah buang kemana semua obat sama suntikkan yang ada di kamar Rehan!
Mamah jangan asal buang barang orang ! itu tuh penting buat Rehan.”
“Mamah buang semua itu ke bak
sampah dan mamah bakar nak.” Masih dengan nada lembut Ibu Widya menjawab
sentakkan dari Rehan.
“Mamah itu apa-apaan sih! Itu punya
Rehan, mamah gak ada hak buat buang semua itu bahkan bakar. Mamah pengennya
apa? Rehan gak ngerti sama pikiran mamah gimana?”
Ibu widya menjawab dengan alunan
lembut tapi berisi sentakkan.
“Mamah yang gak ngerti sama pikiran
kamu han. Buat apa kamu koleksi dan bahkan pakai semua yang rusak badan kamu
sendiri. Kamu tanya pengennya mamah apa? Percuma mamah bilang karena belum
tentu kamu bisa penuhi itu.”
“Mah Rehan itu anak remaja. Wajar
kalo Rehan pake itu. hampir semua anak remaja pake itu juga. Ini tren maah..
ayo mah bilang aja pengennya apa? Uang? Mobil? emas? Rehan buktiin rehan bisa dapetin
semua itu.”
“Anak remaja? Apa remaja harus
lakukan itu? tidak nak.. tolong kamu berpikir lebih dewasa dan memikirkan efek
dari semua yang kamu pakai bukan memikirkan tren. Tidak, mamah tidak inginkan
itu. mamah hanya inginkkan kamu menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada
mamah dan ayah kamu. Mamah mengandung kamu selama 9 bulan, mengurus kamu sejak
kecil, merawat dan memenuhi semua keperluan kamu bukan untuk menjadikan kamu
seorang anak pengobat seperti ini. Bahkan mamah sering melihat kamu melakukan
seks dengan wanita yang tidak jelas di kamar kamu. Apa itu bagus nak? Mamah tak
ingin melihat anak yang mamah sayang harus menikah dini. Kamu belum mapan nak
.. mau kamu kasih makan apa anak dan istri kamu nanti? Mamah mohon nak.. kamu sudah
dewasa tolong mengerti mamah. Jauhi semua itu. bereskan sekolah kamu dengan
sungguh-sungguh. Mamah ingin kamu jadi yang terbaik untuk semua . bukan
dipandang sebagai seorang pecundang oleh semua.”
Ibu Widya menangis di depan Rehan.
Ibu memeluk Rehan dan air mata Rehan menetes di baju Rehan dan bahkan menembus
hingga dalam hati Rehan. Ibu selalu tersenyum di depan rehan meskipun perlakuan
Rehan tak pantas untuknya. Kini Rehan memeluk seorang wanita tua yang
merawatnya sejak kecil dan menyayangi dengan sepenuh hatinya sedang menangis
karena tingkah laku Rehan sendiri. Betapa berdosanya aku. Rehan terlarut dalam
tangisan ibunya. Dia menyesali tak bisa penuhi semua keinginan orangtuanya. Air
mata ini membuat Rehan mengerti.
Setelah kejadian itu Rehan
merubah semua hal darinya. Dia mulai mengikuti rehabilitasi. Setelah itu dia
menyelesaikan sekolah dan bekerja. Tak hanya itu, dia menjadi rajin beribadah
dan bahkan dia membiayai kedua orangtuanya untuk naik haji. Ibu Widya tersenyum
melihat anaknya sekarang yang sukses dan soleh. Bukan seorang anak berandal
yang tak jelas arah hidupnya. Rehan berjanji dia akan bahagiakan ibunya di
masa- masa tuanya. Rehan tak ingin lagi melihat ibunya menangis dan meneteskan
air mata karena sikapnya. Masa remaja bukan mengikuti tren. Tapi mengikuti hati
dan pikiran logika kita. Orang tua yang akan memberikan arahan hidup dan harus
kita ikuti semua itu di jalan yang positif. Masa remaja akan indah jika kita
menjalaninya dengan hal yang positif dan membuat sebuah kebanggaan untuk semua.
Karya
: Roi Setiawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar