Jumat, 21 Oktober 2011

Tangisan Permata Ibu

     Obat-obatan berceceran di sebuah ruangan yang kotor yang tak pernah dibersihkan. Berpuluh-puluh suntikkan tergeletak di sudut-sudut ruangan. Terlihat sesosok pria remaja bernama Rehan yang begitu pucat karena telah menggunakan obat-obatan dan meminum-minuman keras. Dia hanya bisa terdiam lemas karena mengalami efek dari obat-obatan yang disuntikkan masuk ke dalam tubuhnya. Dia melihat ke tumpukkan tempat di mana dia menyimpan semua barang berharganya itu. Ternyata obat-obatan yang dia beli dengan uang hasil memalaknya di sekolah dan mencuri dari lemari ibunya sendiri sudah habis. Dia mengambil handphone dan tas kucelnya untuk membeli obat-obatan ke orang yang biasa menyetorkan padanya. Saat rehan hendak keluar rumah. Terlihat ibu yang sedang duduk santai di tengah rumah. Ibu yang sangat lemah lembut itu bertanya pada anaknya.
            “Rehan.. mau kemana kamu nak? Sudah makan belum? Ibu siapkan makanan favorit kamu di dapur.”
            Tapi dengan wajah tanpa ekspresi apapun rehan keluar dan menutup pintu dengan kencang. Saat itu, ibu hanya bisa mengelus dadanya dan tersenyum. Anak itu sampai saat ini belum mengerti tentang orang tuanya. Ibunya berusaha semampu mungkin untuk memenuhi semua keinginan anaknya itu. Tapi ibu yang memiliki kenginan sedikit, yang hanya menginginkan anaknya menjadi anak yang soleh dan berbakti pada kedua orang tuanya, sulit untuk dia penuhi. Apa semua remaja  kini seperti Rehan? Tanya Ibu Widya dalam hatinya.
            Rehan pulang dengan wajah ketus dan emosi, karena dia tidak mendapatkan kebutuhannya itu. Dia mengamuk di kamar dan berteriak-teriak membuat Ibu Widya khawatir akan keadaan anak semata wayangnya itu. Ibu widya menghampiri Rehan yang ada di kamar. Pintu kamar Rehan terkunci. Entah apa yang dia lakukan di dalam. Ibu berusaha mengetuk pintu kamar rehan tapi tak ada respons sedikitpun dari dia. Untungnya ibu menyimpan semua kunci cadangan ruangan-ruangan di rumah. Ibu membuka pintu kamar yang di penuhi dengan poster-poster itu. Ibu begitu terkejut melihat anak kesayangannya itu seperti orang yang ketakutan di sudut kamar yang gelap dan juga sangat berantakan karena keberontakkan dari Rehan. Ibu memeluk rehan dan tak ingin terjadi apa-apa pada anaknya itu. Rehan hanya menggigil dan terdiam dalam pelukan ibunya itu. lama kelamaan rehan tertidur dalam pelukan Ibu Widya. Ibu meminta tolong pada pembantunya untuk mengangkat rehan ke kamar tamu untuk tempatnya beristirahat sementara. Anak sekolah menengah atas yang kini remaja dan mencari jati dirinya itu tertidur pulas di sebuah ranjang yang besar dan dihias senyaman mungkin oleh Ibu Widya. Dia terlihat begitu pucat dan lelah. Terlalu banyak obat yang dia masukan ke dalam tubuhnya itu. Setelah mengurus anaknya itu, Ibu Widya bergegas menuju kamar Rehan dan merapihkan kamarnya yang sangat menyeramkan itu. Ibu Widya menangis melihat banyak sekali suntikan dan bungkus obat-obatan bahkan sebuah lem keras yang entah apa fungsinya di kamar itu. Ibu begitu sedih melihat anaknya kini yang telah terbawa oleh pergaulan yang salah. Yapi ibu tak ingin menunjukkan kesedihan dan air matanya ini pada anak kesayangannya itu meskipun Ibu merasa gagal sebagai orang tua. Tomi atau ayah kandung Rehan sibuk mengurus pekerjaannya di luar kota hingga Ibu Widya mengurus anaknya itu sendirian. Ibu Widya membereskan ruangan itu sehingga terlihat rapih dan tidak menyeramkan lagi. Keesokan harinya Rehan baru sadar dari efek obat-obatan yang dia konsumsi kemarin. Dia merasa kebingungan mengapa sekarang dia ada di kamar tamu. Apa yang terjadi kemarin padanya? Dia melangkah dengan lemas menuju kamarnya. Saat dia membuka pintu kamarnya , emosi Rehan memuncak melihat semua obat-obattannya tidak ada dan semua  menjadi bersih tertata rapi. Ibu. Pasti dia yang melakukan ini semua. Rehan kesal mengapa ibu nya itu selalu merusak keinginannya. Apa yang di inginkan oleh ibunya itu.
            Terlihat Ibu Widya yang sedang duduk di halaman taman dengan secangkir teh dipangkuannya. Dia begitu tenang dan nyaman melihat bunga-bunga yang dia rawat selama ini. Tiba-tiba Rehan berteriak dari dalam rumah.
            “Mamaaaahhhhhh ....” teriak Rehan dari dalam rumah.
            Ibu widya menyimpan tehnya di kursi taman dan menghampiri rehan di dalam rumah.
            “Ada apa nak? Ko kamu teriak-teriak kaya gitu?”
            “Aaaahh jangan banyak ngomong deh mah. Mamah buang kemana semua obat sama suntikkan yang ada di kamar Rehan! Mamah jangan asal buang barang orang ! itu tuh penting buat Rehan.”
            “Mamah buang semua itu ke bak sampah dan mamah bakar nak.” Masih dengan nada lembut Ibu Widya menjawab sentakkan dari Rehan.
            “Mamah itu apa-apaan sih! Itu punya Rehan, mamah gak ada hak buat buang semua itu bahkan bakar. Mamah pengennya apa? Rehan gak ngerti sama pikiran mamah gimana?”
            Ibu widya menjawab dengan alunan lembut tapi berisi sentakkan.
            “Mamah yang gak ngerti sama pikiran kamu han. Buat apa kamu koleksi dan bahkan pakai semua yang rusak badan kamu sendiri. Kamu tanya pengennya mamah apa? Percuma mamah bilang karena belum tentu kamu bisa penuhi itu.”
            “Mah Rehan itu anak remaja. Wajar kalo Rehan pake itu. hampir semua anak remaja pake itu juga. Ini tren maah.. ayo mah bilang aja pengennya apa? Uang? Mobil? emas? Rehan buktiin rehan bisa dapetin semua itu.”
            “Anak remaja? Apa remaja harus lakukan itu? tidak nak.. tolong kamu berpikir lebih dewasa dan memikirkan efek dari semua yang kamu pakai bukan memikirkan tren. Tidak, mamah tidak inginkan itu. mamah hanya inginkkan kamu menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada mamah dan ayah kamu. Mamah mengandung kamu selama 9 bulan, mengurus kamu sejak kecil, merawat dan memenuhi semua keperluan kamu bukan untuk menjadikan kamu seorang anak pengobat seperti ini. Bahkan mamah sering melihat kamu melakukan seks dengan wanita yang tidak jelas di kamar kamu. Apa itu bagus nak? Mamah tak ingin melihat anak yang mamah sayang harus menikah dini. Kamu belum mapan nak .. mau kamu kasih makan apa anak dan istri kamu nanti? Mamah mohon nak.. kamu sudah dewasa tolong mengerti mamah. Jauhi semua itu. bereskan sekolah kamu dengan sungguh-sungguh. Mamah ingin kamu jadi yang terbaik untuk semua . bukan dipandang sebagai seorang pecundang oleh semua.”
            Ibu Widya menangis di depan Rehan. Ibu memeluk Rehan dan air mata Rehan menetes di baju Rehan dan bahkan menembus hingga dalam hati Rehan. Ibu selalu tersenyum di depan rehan meskipun perlakuan Rehan tak pantas untuknya. Kini Rehan memeluk seorang wanita tua yang merawatnya sejak kecil dan menyayangi dengan sepenuh hatinya sedang menangis karena tingkah laku Rehan sendiri. Betapa berdosanya aku. Rehan terlarut dalam tangisan ibunya. Dia menyesali tak bisa penuhi semua keinginan orangtuanya. Air mata ini membuat Rehan mengerti.
            Setelah kejadian itu Rehan merubah semua hal darinya. Dia mulai mengikuti rehabilitasi. Setelah itu dia menyelesaikan sekolah dan bekerja. Tak hanya itu, dia menjadi rajin beribadah dan bahkan dia membiayai kedua orangtuanya untuk naik haji. Ibu Widya tersenyum melihat anaknya sekarang yang sukses dan soleh. Bukan seorang anak berandal yang tak jelas arah hidupnya. Rehan berjanji dia akan bahagiakan ibunya di masa- masa tuanya. Rehan tak ingin lagi melihat ibunya menangis dan meneteskan air mata karena sikapnya. Masa remaja bukan mengikuti tren. Tapi mengikuti hati dan pikiran logika kita. Orang tua yang akan memberikan arahan hidup dan harus kita ikuti semua itu di jalan yang positif. Masa remaja akan indah jika kita menjalaninya dengan hal yang positif dan membuat sebuah kebanggaan untuk semua.

                                                                                                                        Karya : Roi Setiawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar