Kamis, 06 Oktober 2011

Cita - Cita Kami Untuk Mereka


Deras hujan di sore itu membuat Prilly semakin merasakan kesepian di setiap detik harinya. Dia sendiri dengan sejuta cita-cita dan keinginan untuk bahagia. Dia memandang suatu gambar sekolah yang dia gambar sendiri dengan penuh keinginan dan optimis dia bisa membuat gedung sekolah itu untuk semua anak-anak yang ada di setiap pelosok kota yang hanya bisa bernyanyi apa adanya tanpa not not yang benar, memasang wajah yang menunjukkan bahwa dia membutuhkan bantuan, bahwa dia belum merasakan sesuap nasi di hari itu. andaikan mereka semua sekolah, mereka akan mendapatkan keuntungan dengan hal yang tidak hina seperti itu. Prilly optimis bisa melakukan hal itu untuk mereka.
            Disaat hujan semakin deras terdengar suara bel pintu pukul 04 sore itu. Prilly bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu rumahnya. Ternyata itu Soni. Dia adalah sahabat dekat Prilly sejak SMA hingga kini mereka mendapatkan gelar Sarjana.
            “oh kamu Soni, ayo masuk. Hujan gini, ada apa kamu ke rumah aku?”
            “kasih aku waktu dulu dong prill buat duduk, diem, terus ngeringin baju.  Baru juga aku dateng udah di wawancara.”
            “hehe oh iya maaf, ini anduknya. Keringin dulu baju kamu sama badan kamu. Aku mau buatin dulu teh buat kamu.”
            “rajin banget kamu prill.. hehe makasih sebelumnya yah.. jadi ngerepotin nih”
            Prilly membuatkan teh untuk Soni. Mereka sudah terbiasa bercanda-canda dan tak ada rasa gengsi lagi antara mereka. Disaat Prilly sedang membuat teh, Soni dengan anduk yang ada di bahunya mengeringkan rambutnya secara santai dan melihat kertas-kertas yang ada di meja Prilly. Soni melihat kertas yang bergambarkan sebuah gedung sekolah yang megah. Dia heran mengapa prilly menggambar gedung sekolah ini. karena penasaran, soni menanyakan gambar itu kepada Prilly disaat Prilly baru saja masuk ke ruang tamu dan menyimpankan teh untuk soni di sebuah meja.
            “Ini gambar sekolah kan prill? Untuk apaan?” tanya soni sambil melihat terus gambar itu
            “Oh itu, itu cita-cita aku son.”
            “cita-cita kamu pengen sekolah lagi prill?”
            Prilly tersenyum mendengar jawaban soni. Prilly pun menceritakan maksud dari gambar gedung sekolah itu apa. Dan setelah soni tau, soni mendukung cita-cita prilly itu bahkan dia ingin membantu untuk mewujudkannya. Mereka berdua bekerja sama membangun gedung sekolah untuk para anak yang tidak mampu. Dari uang penghasilan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka masing-masing dan uang jajan yang mereka sisihkan,lalu mereka kumpulkan untuk membeli bahan-bahan membangun gedung sekolah itu.  mereka sangat semangat saat mencari buku-buku pelajaran bekas mereka dan buku buku bekas yang dijual di toko buku. Bahan-bahan untuk gedung sekolah mulai terkumpul, buku buku serta papan tulis sudah bertumpukkan di rumah Prilly. Mereka tidak menggunakan kursi tapi mereka menggelar karpet dan memberikan satu meja belajar untuk masing-masing anak nantinya. Prilly dan Soni sangat optimis untuk bisa membangun gedung sekolah yang bisa membuat para anak yang tidak mampu memiliki banyak ilmu untuk sukses di hari nanti.
            Di suatu hari, Prilly membutuhkan bantuan Soni untuk membantunnya membeli bahan-bahan yang lain dari uang yang diberikan dari orangtua Prilly. Tapi saat Prilly menelfon Soni. Soni tidak mengangkat telfonnya,malah sengaja menolak telfon itu. Prilly mengirimkan pesan kepada Soni untuk segera ke rumahnya dan membeli bahan bangunan gedung sekolah. Soni hanya membalas pesan itu dengan kata “iya”. Prilly menunggu beberapa jam tapi soni tidak datang juga. Prilly terlalu bersemangat hingga dia ingin cepat bangunan sekolah itu segera selesai. Tapi, dia merasa kesal karena tidak ada keseriusan dari Soni untuk cita-cita Prilly yang besar ini. akhirnya Prilly menyetir mobil sendiri dan membeli bahan-bahan gedung sekolah itu sendiri. Tapi saat di perjalanan, Prilly melihat motor milik Soni di sebuah restaurant. Prilly memarkirkan mobilnya menuju restaurant itu dan dari luar terlihat Soni sedang asik bercanda dan makan bersama seorang wanita. Prilly marah dan memutuskan untuk berusaha sendiri membangun gedung sekolah tanpa bantuan Soni lagi. Prilly mengirimkan pesan kepada Soni tentang kekesalannya dan menyuruhnya untuk tidak membantunya lagi. Prilly berusaha sendiri tapi ternyata Prilly tidak bisa, ada saja kekurang yang Prilly tidak mengerti. Prilly putus asa dan menyerah. Dia tak akan melanjutkan lagi cita-citanya. Dia pesimis bahwa dia akan berhasil. Soni beberapa kali mencoba menjelaskan tapi Prilly tak mau mendengarnya. Prilly melihat tumpukkan buku, alat-alat tulis dan yang lainnya yang bertumpuk di rumah Prilly, Prilly ingat wajah-wajah anak-anak yang ada di jalanan kota yang hanya bisa mengemis ke mobil-mobil mewah. Dari saat itu Prilly bangkit dan dia menenangkan dirinya. Dia menjual mobil kesayangannya dan melengkapi bahan-bahan yang kurang dan menyewa para tukang bangunan. Bahkan Prilly terjun langsung dalam pembangunannya. Dia yang mendesain semua gedung sekolah itu. Prilly semangat dan bangkit. Disaat Prilly sedang membantu salah seorang tukang bangunan itu, terdengar suara klakson mobil. Prilly melihat mobil yang dulu dia jual ada kembali dan Soni tersenyum melambaikan tangannya.
            “kenapa mobil aku ada di sini? Kan aku udah jual son”
            “aku beli lagi buat kamu. Kenapa kamu ga mau dengerin aku sih prill. Cewe kemarin itu pacar kakak aku cuman dia lagi ke toilet waktu kamu liat. Aku di suruh nemenin mereka cari tempat makan yang enak. Coba deh kamu liat dalam mobil kamu”
            Prilly membuka pintu mobil dan melihat banyak sekali buku tulis dan buku-buku pelajaran yang lainnya. Bahkan seragam-seragam pun ada. Prilly tersenyum dan memeluk Soni, dia berterimakasih sekali atas bantuan Soni. Beberapa bulan gedung sekolah ini pun jadi. Soni dan Prilly menyusun semua peralatan dan alat-alat lainnya berdua. Mereka sangat bahagia akhirnya cita-cita mereka bisa tercapai. Lalu soni dan Prilly menuju ibu kota untuk mengajak anak-anak disana untuk sekolah. Mereka sangat senang mendengar tawaran dari Soni dan Prilly. Mereka pun ikut dengan Soni dan Prilly. Mereka giat belajar di sekolah yang di bangun oleh Soni dan Prilly.
            Dalam rangkulan tangan Soni, Prilly tersenyum bahagia melihat anak-anak tertawa dan senang belajar di sekolah yang dia bangun bersama Soni. Kini Soni dan Prilly menjadi orangtua mereka dan juga untuk Liberty. Anak kandung Soni dan Prilly. Cita-cita mereka berdua menumbuhkan benih-benih cinta hingga mereka kini bahagia bersama sejuta anak yang mencari ilmu di sekolah mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar