Terik matahari saat itu cukup membuatku tak tahan panasnya selasa siang ini. Untung saja, di sampingku masih ada seseorang yang mau menyejukanku dengan kehadirannya, Rady, sahabatku. Siang itu, kami berjalan menuju ruang kelas kami, untuk melanjutkan mata kuliah setelah jam istirahat. Kami baru saja menunaikan ibadah shalat dzuhur di mesjid kampus.
“panas banget, Ar,” ucap Rady. Aku hanya tersenyum.
Kami pun melanjutkan perjalanan kami. Tak terasa, kami pun sampai di kelas kami. Sejenak, kami beristirahat di teras depan kelas.
“Tumben kamu ngga ke Vioni. Ada apa?” tanyaku disela – sela istirahat kami.
“Aku lagi berantem sama Vioni. Dia udah bosan kali sama aku.” Rady terlihat murung.
“Harusnya, kamu samperin dia. Jangan didiemin gini aja, dong. Kalau, gini terus, masalahnya ngga akan selesai – selesai lho, Rad.” Aku tersenyum.
Rady hanya tertunduk, diam. Entah ada apa dengan hubungannya dengan Vioni. Sudah 2 hari tidak kulihat mereka jalan berdua, ke mesjid berdua, bahakan Rady lebih memilih ke mesjid denganku 2 hari belakangan ini.
Kulihat, dari kejauhan Syara mendekati kami. Seperti ingin membicarakan sesuatu. Entah apa. Syara cukup tersenyum padaku.
“Rad, kamu ngga kasian sama pacar kamu? Dia tiap hari pulang sendirian melulu.” Ucap Syara menggemparkan setiap sudut hatiku.
“Hubungan kita kan emang lagi ngga beres, Syar.” Sahut Rady, santai.
“Trus, kenapa ngga kamu beresin?” tanya Syara, lagi. Rady kesal. Ia menarik tanganku dan kami pun pergi meninggalkan Syara.
Di kantin, aku dan Rady hanya terdiam. Asyik dengan gadget masing – masing. Yang membuatku diam hanyalah mengapa Rady sebegitu kesalnya pada Syara yang ingin membantunya meluruskan hubungannya dengan Vioni. Tapi, aku tak tahu apa alasan Rady, mengapa ia memilih terdiam juga.
Belum ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut kami. Lagi pula, apa yang harus dibicarakan? Jika aku mencoba bertanya tentang Vioni, mungkin hanya akan meruntuhkan reputasiku di daftar persahabatan Rady.
“Besok aku jemput kamu!” rady menggenggam tanganku, “Kita berangkat kuliah bareng,” lanjutnya. Sejenak setelah itu, aku tercengang. Rady pun meninggalkanku di kantin sore itu.
Apa yang terjadi pada sistem kerja otak Rady? Apa maksudnya ia menggenggam tanganku tadi sore? Dan apa maksudnya Rady ingin menjemputku besok pagi?
Mungkin akan ada beberapa juta pertanyaan yang akan terus aku pertanyakan tentang perlakuan Rady padaku belakangan ini.
Pukul 00.17 aku masih terjaga. The real Insomnia, memang. Hal yang membuatku benar – benar tak bisa tidur malam ini adalah, perlakuan Rady padaku.
“Aku di depan rumah kamu, Ar,” ucap Rady di seberang telepon.
Saat aku membuka pintu gerbang rumahku, kulihat senyuman manis Rady yang menyodorkan sebuah helm berwarna putih bertuliskan ‘V © R’. Ironis memang, karena aku tahu betul helm itu yang biasanya dikenakan Vioni jika berboncengan dengan Rady.
“Kamu ngga bareng Vioni?” tanyaku saat dalam perjalanan. Rady hanya menggeleng. Kurasa jawaban itu cukup menerangkan bahwa, masalahnya dengan Vioni memang cukup rumit dan saat ini ia sedang tidak ingin membicarakannya.
Saat kami tiba di parkiran, kami – khususnya aku, dikejutkan dengan kehadiran Vioni dan Syara disampingnya. Vioni terlihat biasa saja ketika melihatku turun dari mator Rady, tetapi, Syara melihatku dengan tatapan sinis. Sebenarnya aku heran, mengapa Vioni begitu datar, sedangkan Syara begitu sinisnya terhadap aku? Atau jangan – jangan.......
“Kamu kok tadi pergi pas ada Vioni?” tanyaku sambil menyerahkan kunci motor yang ditinggalkan Rady di parkiran, tadi.
“Aku ngga suka, Ar,”
“Kenapa? Cerita dong. Aku kan sahabat kamu,” aku tersenyum.
“Ya, begitulah. Mungkin aku sama Vioni udah ngga cocok lagi. Tapi, aku belum tahu, bagaimana menyelesaikan perasaanku pada Vioni. Aku takut, Vioni hanya sedang kacau saja, jadi melampiaskannya pada hubungannya dengan aku,”
“Kamu kan bisa omongin baik – baik. Lagian, pasti ada jalan keluarnya, asalkan kamu mau berusaha mencarinya.”
“Tapi, aku udah ngerasa ngga nyaman sama Vioni,” ucap Rady mengagetkanku. Berarti, ini bukan masalah Vioni. Vioni hanya mengimbangi Rady saja.
“Lho, memangnya kamu nyamannya sama siapa?” Pertanyaan yang seharusnya tak pernah aku tanyakan pada Rady. Aku takut jawabannya menyakitkan hatiku. Karena, jujur saja, aku merasa nyaman berada di dekat Rady.
“Aku ngerasa nyaman kalau aku deket sama.....” tiba – tiba kedatangan Syara memotong perkataan Rady. Sejenak, Syara melirikku dengan mata sinisnya – seperti biasa. Ia kemudian menatap Rady dan pergi.
Apa maksudnya?
Sampai detik ini, Rady belum mengatakan siapa yang membuatnya nyaman, dan bukan Vioni. Aku sempat bertanya – tanya. Siapa orang itu?? Tiba – tiba dering ponsel – ku mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku.
“Halo?” sapaku.
“Ar, aku mau ngomong. Kamu bisa keluar sebentar?”
“Bisa,”
Saat aku membuka pintu gerbang rumahku, Rady berdiri tegak dengan kaos kumal berwarna coklat muda dan celana jeans robek – robek, lengkap dengan rambut yang acak – acakan mirip gembel nyasar.
“Ada apa?” tanyaku masih bingung.
Rady menyodorkan setangkai mawar merah cantik dan rapi, berbeda dengan tampilannya malam ini. Kuterima mawar itu dengan senyum bahagia, meski aku belum tahu apa maksudnya ini.
Kemudian, Rady segera menyalakan motornya, mengenakan helmnya. Sesaat sebelum ia meninggalkanku, ia membuka kaca helm – nya, “Aku nyaman sama kamu, Ara!” rady meluncurkan sepeda motornya secepat mungkin, hingga membuat angin mengibaskan rambutku yang terurai.
Aku tertunduk menuju ruang kelasku pagi itu. Teman – teman sekitarku begitu ‘terpana’ melihat penampilanku pagi itu. Siapa yang tidak ‘terpana’ jika melihat seorang gadis mengenakan kaos yang sudah blel dan celana jeans robek – robek, lengkap dengan rambut yang dijepit dengan asal. Mirip orang gila nyasar. Ada apa denganku hari ini?
Dari belakang aku mendengar ada yang memanggilku sedari tadi tapi tak kuhiraukan. Aku pun berjalan semakin cepat, karena aku tahu siapa yang memanggilku itu. Tiba – tiba ada yang menarik tanganku dari belakang, aku tak berani menengok ke belakang. Aku takut itu......... Rady.
“Ara, kamu kenapa?” aku hanya menggeleng dan meneruskan langkahku. Tapi, Rady bersikeras untuk mengejarku, “Kamu kenapa? Maaf kalau kamu ngga suka sama perkataan aku tadi malam,”
“Ngga. Bukan itu.”
“Lalu?”
“Aku kesiangan, Radyyyyyyyyy!!!!!” kami pun tertawa.
Istirahat siang ini, aku memilih untuk diam di kelas saja. Sepertinya, badanku sedang kurang sehat hari ini.
Sementara aku mengikat rapi rambutku, Rady menghampiriku sambil membawa 2 botol teh manis dingin, “Nih, minum!” Tersenyum padaku, “Kamu kenapa sih?” tanya Rady.
“Aku ngga enak badan.”
“Nanti sore aku antar kamu ke dokter, ya?”
“Kamu berlebihan, Rad. Makasih.”aku tersenyum dan menyedot es teh manis yang diberikan Rady, “Gimana Vioni?” tanyaku santai.
“Eh, kamu ngerasa nyaman juga kan deket aku?” Rady mengalihkan pembicaraan. Aku hanya mengangguk. Aku tertunduk. Terdengar detak langkah menuju kelasku. Syara. Seperti biasa, ia menatapku dengan sinis dan kali itu cukup membuatku kesal dan kubalas dengan tatapan sinis pula.
“Eh Ar, aku ke Vioni dulu ya?! Daaah..” pamit Rady membuatku sedikit lega, karena mungkin, masalah mereka sudah beres.
Vioni menghampiriku dengan wajah penuh amarah, “Kamu punya hubungan apa sama Rady, hah?” tanyanya.
“Aku sahabatnya. Kenapa emang?”
“Mulai detik ini, kamu ngga usah deketin pacar aku lagi!” Vioni pun pergi dengan langkah cepat.
Aku tahu, pasti harus ada yang mengalah, dan akulah yang akan mengalah. Lagi pula, apa enaknya kita selalu bersama dengan seseorang yang membuat kita selalu nyaman, tetapi tanpa ikatan yang jelas? Aku lelah.
Kami hanya terdiam. Aku tahu, Rady sudah cukup mengerti apa yang akan aku bicarakan siang itu.
“Maaf,” Ucap Rady.
“Aku yang maaf. Maaf aku udah bikin hubungan kamu sama Vioni cukup rumit. Aku ngga maksud.” Aku tertunduk. Rady meraih tanganku dan mngecupnya. Tanpa sadar, air mataku menetes. Aku terlalu sakit untuk mengakhiri ‘kenyamanan’ ini. Dering ponsel Rady mengagetkan kami. Sepertinya sebuah pesan singkat. Tapi, pesan singkat itu membuat Rady berkaca – kaca. Ada apa?
“Kenapa Rad?” tanyaku. Rady memberikan ponsel – nya padaku dan memberiku isyarat agar membaca pesan singkat tersebut. Aku menelan ludah. Rady menarik tanganku dan segera menyalakan motornya. Kami pun melaju menuju tempat tujuan kami.
“Maafin aku, Vi. Aku ngga bisa jaga kamu.” Setetes air mata jatuh dan menyerap ke kain batik yang digunakan untuk menutup tubuh Vioni yang sudah terbujur kaku, membisu. Aku hanya dapat menguatkan Rady dengan menepuk – nepuk bahunya dan meninggalkannya. Tapi, Rady menarik tanganku dan kami pun berpelukan, “Sebelumnya, Vioni bilang ke aku, bahwa Ara Vellysta Praramadhani Putri yang layak menggantikannya dalam hatiku.” Rady berbisik, dan bisikkan itu membuatku ingin berlama – lama bertahan dalam pelukannya. Tapi, aku harus melepaskan pelukannya, aku pun berlutut di samping jasad seorang Vioni – yang meninggal karena overdosis obat – obatan terlarang, “Aku akan menjaga Rady dengan sepenuh hatiku, Vioni....”
"Soal Syara, dia emang mata - mata Vioni, takutnya rahasia Vioni yang gemar mengonsumsi obat - obatan terlarang, aku bicarakan sama kamu," Rady tersenyum dan menecup keningku....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar