Muhammad robby akbar. Seorang anak pria
yang lugu, baik dan pintar. Dia begitu pandai dan kreatif di sebuah panti
asuhan. Dia anak yang rajin dalam beribadah. Banyak pembimbing di panti itu
sangat mengagumi anak itu dan kadang menjadikan dia sebagai contoh untuk anak
yang lainnya. Dulu orangtua robby menitipkan robby ke panti asuhan ini dan
mereka entah pergi kemana. Sejak 2 bulan, robby tinggal bersama
pembimbing-pembimbing cantik yang ada di panti itu. tapi tak hanya Robby yang
memiliki nasib seperti itu, masih banyak teman-teman di panti itu yang memiliki
nasib yang sama dengan robby. Di dalam panti itu robby memiliki banyak teman
yang sudah dia anggap sebagai saudara dia sendiri.
Suatu
hari ada suatu pasangan suami istri kaya yang datang ke panti itu dengan sebuah
mobil mewah yang harganya bisa mencapai milyaran. Anak-anak begitu ramah dan
sopan menyambut kedatangan mereka. Mereka senang karena masihada yang mau
berkunjung ke rumah kecil mereka. Saat itu robby, bocah berumur 7 tahun itu
sedang memimpin teman-temannya dalam shalat berjaaah. Dia begitu khusu menjadi
seorang imam untuk teman-temannya, meskipun sesekali temannya tidak mengikuti
gerakan-gerakan shalat dengan benar. Maklum saja , mereka belum terlalu
mengerti. Nita dan ridwan pasangan yang baru saja datang ke panti itu,
berkeliling mencari ibu pembimbing karena ada suatu keperluan. Setelah bertemu
dengan ketua panti dan membicarakan keperluan mereka yaitu mereka ingin
mengadopsi salah satu anak di panti itu untuk dijadikan anak kandung mereka, ibu
Ratih mengajak nita dan ridwan masuk ke dalam rumah tempat anak-anak berkumpul.
Sebenarnya nita tidak terlalu menyukai anak kecil tapi karena ini perintah dari
mertuanya atau ibunda dari ridwan maka nita pun terima perintah ibunya itu.
nita melihat begitu banyak anak yang nakal dan tak mau diam bahkan susah untuk
di atur, kecuali seorang anak pria kecil yang menggunakan kacamata tebal dan
switer coklat bermotifkan natal yang sedang membaca buku di sebuah sofa di
tengah rumah. Hanya dia yang diam dan tak berlarian seperti teman-temannya yang
lain. Akhirnya nita dan ridwan mengadopsi anak pria itu. dia adalah robby.
Saat
nita dan Ridwan memutuskan untuk mengadopsi robby. Pembimbing bertanya dahulu
kepada robby. Apa dia mau untuk diadopsi oleh mereka. Robby menerima permintaan
dari pasangan itu. saat robby memutuskan untuk ikut dengan pasangan itu.
teman-teman panti asuhan robby sangat sedih. Mereka kehilangan kawannya yang
pintar, mereka kehilangan seorang imam saat mereka shalat berjamaah. Tapi demi
kebahagiaan robby. Mereka merelakan kepergian robby.
Robby
dibwa oleh pasangan itu ke rumah mereka yang cukup megah. Robby sebenarnya
kesepian karena dia tidak memiliki teman di rumah itu. dia hanya ditemani
sebuah catatan kecil dari pembimbingnya. Dia hanya bisa menonton televisi dan
tak ada kegiatan lain yang bisa dia kerjakan. Suatu hari saat robby sedang
menonton televisi, nita atau ibunya mengajak pergik supermarket di kota. Nita
akan berbelanja kebutuhan-kebutuhan di rumah. Saat itu robby bergegas ke kamar
dan berganti pakaian tapi tiba-tiba terdengar suara kumandang adzhan dzuhur
saat itu. robby berlari mengambil air wudhlu dan menunaikan shalat dzuhur
dahulu. Di saat rakaat ke 2 terdengar suara teriakan nita yang tak sabar
menunggu anaknya itu.
“robbiiii...
ayoo cepaaatt.. lagi ngapain sih kammuu !”
Robi
mencoba tetap khusu dalam shalatnya. Baru saja selesai melaksanakan shalat
dzuhur. Dan sedang berganti pakaian untuk mengantar ibu angkatnya itu belanja.
Nita sudah menggeret robi dengan keras dan mencubit tangan robi hingga merah
karena kesal. Robi meminta maaf pada ibunya karena dia lupa untuk meminta ijin
untuk shalat terlebih dahulu. Tapi ibunya teru menggeret membuat robi merasa
kesakitan. Tak hanya ibu angkatnya saja yang menyiksa robi tapi ayahnya pun
sama begitu. Saat itu tidak sengaja robi menyenggol gelas kopi ayahnya dan
mengenai kemejanya. Saat itu juga robi di siram dengan kopi yang masih panas
itu hingga kulit perut robi melepuh. Sering
mereka menyiksa ataupun melampiaskan emosi mereka pada robi. Tapi robi tidak
pernah menangis di depan mereka. Robi hanya membagi ceritanya kepada allah di
saat dia melaksanakan shalat. Dia menangis. Dia merasa kesakitan. Tapi robi
tidak pernah merasa benci kepada orangtuanya itu meskipun perlakuan mereka yang
selalu membuat robi kesakitan dan menangis. Robi selalu menuliskan do’a untuk
ayah dan bundanya itu dalam buku catatan kecil berwarna biru dipenuhi dengan
hiasan kaligrafi huruf arab buatan robi
sendiri. Di buku kecil itu robi mencurahkan semua isi hatinya yang begitu
menyayangi orang tuanya.
Pagi
hari nita heran mengapa tidak ada suara mengaji dari robi, padahal dari saat
dini hari robi selalu shalat hubuh dan mengaji di kamarnya tapi kali ini tidak
terdengar. Dari bawah nita berteriak memanggil robi tapi sama sekali tidak ada
suara dari kamar robi. Nita naik ke lantai atas dan masuk kamar robi. Dan
terlihat robi masih ada di dalam selimut ungu kesayangannya. Muka robi terlihat
bersinar saat itu. dari luar pintu nita sudah mengomel melihat robi yang masih
tidur.
“ya
ampun jam segini belum bangun.. ! pemalas sekali kamu robi. Ayo bangun.
Pekerjaan kamu banyak hari ini. ayo cepat.”
Tapi
tidak ada sedikitpun gerakan dari robi. Nita berteriak memanggil ridwan yang
sedang menonton televisi sambil menikmati secangkir kopi saat itu. ridwan
menyimpan cangkir kopinya lalu menghampiri istrinya.
“Liat
tuh anak angkat kamu ! pemalesnya ga ada duanya. Jam segini dia masih
enak-enakkan tidur. Cepet bangunin sama kamu.”
Ridwan
kesal dan menggoyang-goyang badan robi tapi tak ada sedikitpun gerakan dari robi.
Ridwan memegang denyut nadi di tangan robi ternyata tangan robi sudah dingin
dan tidak ada denyut nadinya. Anak angkat mereka kini meninggal dunia. Dia
meninggal dalam keadaan muka yang begitu bersinar dan tersenyum. Ridwan melihat
buku catatan biru yang ada di samping robi saat itu. ridwan membuka buku itu
dan ridwan juga nita membaca catatan yang ada dalam buku catatan kesayangan
robi
“bismillahhirohmanirohim.
Ya allah robi sayang ayah dan bunda. Lindungi mereka ya allah, ampuni dosa-dosa
mereka. Robi ingin ayah dan bunda selalu bahagia. Amiin”
Saat membaca itu air mata nita berlinang dan
ridwan begitu kaget melihat tulisan anak polos yang tidak berdosa ini begitu
berarti untuknya. Di halaman ke dua ada sebuah kata-kata dan catatan untuk nita
dan juga ridwan.
“untuk ayah dan bunda :
Ayah .. bunda.. terimakasih
kalian sudah mengangkat ku sebagai anak kalian dan merawatku, aku begitu
bahagia memiliki orangtua seperti ayah dan bunda. Aku ingin sekali membuat ayah
bunda bahagia dengan aku menjadi anak yang shaleh dan berbakti. Harapan ku saat
ini, aku ingin mengunjungi rumah allah di Mekah bersama ayah dan bunda. Tapi
mungkin saat ini aku belum bisa mewujudkan itu. maafkan aku ayah dan bundaa..
selama ini aku selalu membuat ayah dan bunda kesal dengan sikap maupun sifatku.
Aku meminta maaf sebesar-besarnya. Aku akan selalu mendo’akan ayah dan bunda.
Aku sayang ayah dan bundaa..”
Begitu tersentak hati ridwan dan nita
melihat goresan-goresan tinta dari anak mereka sendiri yaitu robi. Selama ini
mereka tidak pernah memberikan kebahagiaan kepada robi. Baru mereka menyadari
begitu berartinya anak ini. mereka menangis memeluk robi. Mereka terus menerus
meneteskan air mata yang membasahi baju robi yang saat itu telah tertidur
selamanya. Begitu berdosanya mereka kepada robi. Penyesalan yang amat sangat
besar mereka rasakan. Kini mereka sadar mengapa Allah tak memberikan anak
kandung kepada mereka karena Allah tak mau titipan sucinya akan berakhir
seperti robi. Mereka terhanyut dalam sendu saat menguburkan robi bersama
anak-anak panti dan pembimbing panti. Banyak yang menangisi kepergian robi
karena robi adalah anak yang sangat shaleh dan juga pintar. Banyak sekali
pertolongan yang sering ia lakukan pada teman-temannya. Robi kini tenang berada
di sisi allah dan tersenyum untuk semua orang yang menyayanginya. Robi
bersenandung di surga bahwa dia sangat mencintai ayah bundanya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar