Jumat, 04 November 2011

Catatan Harapan untuk Ayah dan Bunda


Muhammad robby akbar. Seorang anak pria yang lugu, baik dan pintar. Dia begitu pandai dan kreatif di sebuah panti asuhan. Dia anak yang rajin dalam beribadah. Banyak pembimbing di panti itu sangat mengagumi anak itu dan kadang menjadikan dia sebagai contoh untuk anak yang lainnya. Dulu orangtua robby menitipkan robby ke panti asuhan ini dan mereka entah pergi kemana. Sejak 2 bulan, robby tinggal bersama pembimbing-pembimbing cantik yang ada di panti itu. tapi tak hanya Robby yang memiliki nasib seperti itu, masih banyak teman-teman di panti itu yang memiliki nasib yang sama dengan robby. Di dalam panti itu robby memiliki banyak teman yang sudah dia anggap sebagai saudara dia sendiri.
          Suatu hari ada suatu pasangan suami istri kaya yang datang ke panti itu dengan sebuah mobil mewah yang harganya bisa mencapai milyaran. Anak-anak begitu ramah dan sopan menyambut kedatangan mereka. Mereka senang karena masihada yang mau berkunjung ke rumah kecil mereka. Saat itu robby, bocah berumur 7 tahun itu sedang memimpin teman-temannya dalam shalat berjaaah. Dia begitu khusu menjadi seorang imam untuk teman-temannya, meskipun sesekali temannya tidak mengikuti gerakan-gerakan shalat dengan benar. Maklum saja , mereka belum terlalu mengerti. Nita dan ridwan pasangan yang baru saja datang ke panti itu, berkeliling mencari ibu pembimbing karena ada suatu keperluan. Setelah bertemu dengan ketua panti dan membicarakan keperluan mereka yaitu mereka ingin mengadopsi salah satu anak di panti itu untuk dijadikan anak kandung mereka, ibu Ratih mengajak nita dan ridwan masuk ke dalam rumah tempat anak-anak berkumpul. Sebenarnya nita tidak terlalu menyukai anak kecil tapi karena ini perintah dari mertuanya atau ibunda dari ridwan maka nita pun terima perintah ibunya itu. nita melihat begitu banyak anak yang nakal dan tak mau diam bahkan susah untuk di atur, kecuali seorang anak pria kecil yang menggunakan kacamata tebal dan switer coklat bermotifkan natal yang sedang membaca buku di sebuah sofa di tengah rumah. Hanya dia yang diam dan tak berlarian seperti teman-temannya yang lain. Akhirnya nita dan ridwan mengadopsi anak pria itu. dia adalah robby.
          Saat nita dan Ridwan memutuskan untuk mengadopsi robby. Pembimbing bertanya dahulu kepada robby. Apa dia mau untuk diadopsi oleh mereka. Robby menerima permintaan dari pasangan itu. saat robby memutuskan untuk ikut dengan pasangan itu. teman-teman panti asuhan robby sangat sedih. Mereka kehilangan kawannya yang pintar, mereka kehilangan seorang imam saat mereka shalat berjamaah. Tapi demi kebahagiaan robby. Mereka merelakan kepergian robby.
          Robby dibwa oleh pasangan itu ke rumah mereka yang cukup megah. Robby sebenarnya kesepian karena dia tidak memiliki teman di rumah itu. dia hanya ditemani sebuah catatan kecil dari pembimbingnya. Dia hanya bisa menonton televisi dan tak ada kegiatan lain yang bisa dia kerjakan. Suatu hari saat robby sedang menonton televisi, nita atau ibunya mengajak pergik supermarket di kota. Nita akan berbelanja kebutuhan-kebutuhan di rumah. Saat itu robby bergegas ke kamar dan berganti pakaian tapi tiba-tiba terdengar suara kumandang adzhan dzuhur saat itu. robby berlari mengambil air wudhlu dan menunaikan shalat dzuhur dahulu. Di saat rakaat ke 2 terdengar suara teriakan nita yang tak sabar menunggu anaknya itu.
          “robbiiii... ayoo cepaaatt.. lagi ngapain sih kammuu !”
          Robi mencoba tetap khusu dalam shalatnya. Baru saja selesai melaksanakan shalat dzuhur. Dan sedang berganti pakaian untuk mengantar ibu angkatnya itu belanja. Nita sudah menggeret robi dengan keras dan mencubit tangan robi hingga merah karena kesal. Robi meminta maaf pada ibunya karena dia lupa untuk meminta ijin untuk shalat terlebih dahulu. Tapi ibunya teru menggeret membuat robi merasa kesakitan. Tak hanya ibu angkatnya saja yang menyiksa robi tapi ayahnya pun sama begitu. Saat itu tidak sengaja robi menyenggol gelas kopi ayahnya dan mengenai kemejanya. Saat itu juga robi di siram dengan kopi yang masih panas itu hingga kulit perut robi melepuh.  Sering mereka menyiksa ataupun melampiaskan emosi mereka pada robi. Tapi robi tidak pernah menangis di depan mereka. Robi hanya membagi ceritanya kepada allah di saat dia melaksanakan shalat. Dia menangis. Dia merasa kesakitan. Tapi robi tidak pernah merasa benci kepada orangtuanya itu meskipun perlakuan mereka yang selalu membuat robi kesakitan dan menangis. Robi selalu menuliskan do’a untuk ayah dan bundanya itu dalam buku catatan kecil berwarna biru dipenuhi dengan hiasan  kaligrafi huruf arab buatan robi sendiri. Di buku kecil itu robi mencurahkan semua isi hatinya yang begitu menyayangi orang tuanya.
          Pagi hari nita heran mengapa tidak ada suara mengaji dari robi, padahal dari saat dini hari robi selalu shalat hubuh dan mengaji di kamarnya tapi kali ini tidak terdengar. Dari bawah nita berteriak memanggil robi tapi sama sekali tidak ada suara dari kamar robi. Nita naik ke lantai atas dan masuk kamar robi. Dan terlihat robi masih ada di dalam selimut ungu kesayangannya. Muka robi terlihat bersinar saat itu. dari luar pintu nita sudah mengomel melihat robi yang masih tidur.
          “ya ampun jam segini belum bangun.. ! pemalas sekali kamu robi. Ayo bangun. Pekerjaan kamu banyak hari ini. ayo cepat.”
          Tapi tidak ada sedikitpun gerakan dari robi. Nita berteriak memanggil ridwan yang sedang menonton televisi sambil menikmati secangkir kopi saat itu. ridwan menyimpan cangkir kopinya lalu menghampiri istrinya.
          “Liat tuh anak angkat kamu ! pemalesnya ga ada duanya. Jam segini dia masih enak-enakkan tidur. Cepet bangunin sama kamu.”
          Ridwan kesal dan menggoyang-goyang badan robi tapi tak ada sedikitpun gerakan dari robi. Ridwan memegang denyut nadi di tangan robi ternyata tangan robi sudah dingin dan tidak ada denyut nadinya. Anak angkat mereka kini meninggal dunia. Dia meninggal dalam keadaan muka yang begitu bersinar dan tersenyum. Ridwan melihat buku catatan biru yang ada di samping robi saat itu. ridwan membuka buku itu dan ridwan juga nita membaca catatan yang ada dalam buku catatan kesayangan robi
            “bismillahhirohmanirohim. Ya allah robi sayang ayah dan bunda. Lindungi mereka ya allah, ampuni dosa-dosa mereka. Robi ingin ayah dan bunda selalu bahagia. Amiin”
        Saat membaca itu air mata nita berlinang dan ridwan begitu kaget melihat tulisan anak polos yang tidak berdosa ini begitu berarti untuknya. Di halaman ke dua ada sebuah kata-kata dan catatan untuk nita dan juga ridwan.
          “untuk ayah dan bunda :
                Ayah .. bunda.. terimakasih kalian sudah mengangkat ku sebagai anak kalian dan merawatku, aku begitu bahagia memiliki orangtua seperti ayah dan bunda. Aku ingin sekali membuat ayah bunda bahagia dengan aku menjadi anak yang shaleh dan berbakti. Harapan ku saat ini, aku ingin mengunjungi rumah allah di Mekah bersama ayah dan bunda. Tapi mungkin saat ini aku belum bisa mewujudkan itu. maafkan aku ayah dan bundaa.. selama ini aku selalu membuat ayah dan bunda kesal dengan sikap maupun sifatku. Aku meminta maaf sebesar-besarnya. Aku akan selalu mendo’akan ayah dan bunda. Aku sayang ayah dan bundaa..”

          Begitu tersentak hati ridwan dan nita melihat goresan-goresan tinta dari anak mereka sendiri yaitu robi. Selama ini mereka tidak pernah memberikan kebahagiaan kepada robi. Baru mereka menyadari begitu berartinya anak ini. mereka menangis memeluk robi. Mereka terus menerus meneteskan air mata yang membasahi baju robi yang saat itu telah tertidur selamanya. Begitu berdosanya mereka kepada robi. Penyesalan yang amat sangat besar mereka rasakan. Kini mereka sadar mengapa Allah tak memberikan anak kandung kepada mereka karena Allah tak mau titipan sucinya akan berakhir seperti robi. Mereka terhanyut dalam sendu saat menguburkan robi bersama anak-anak panti dan pembimbing panti. Banyak yang menangisi kepergian robi karena robi adalah anak yang sangat shaleh dan juga pintar. Banyak sekali pertolongan yang sering ia lakukan pada teman-temannya. Robi kini tenang berada di sisi allah dan tersenyum untuk semua orang yang menyayanginya. Robi bersenandung di surga bahwa dia sangat mencintai ayah bundanya.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar