Percikan
hujan di pagi hari redamkan emosi meysa saat itu. begitu kesal dia akan
perlakuan ibunya yang menganggap dia bak anak taman kanak-kanak yang harus
selalu diawasi semua tingkah lakunya. Kini sekarang dia duduk di bangku SMA
bukan lagi anak taman kanak-kanak yang harus selalu diawasi. Meysa inginkan
seperti teman-teman yang lain dibebaskan dan tidak dikekang seperti tahanan.
Hal yang paling membuat meysa kesal itu adalah ibunya tidak mengijinkan untuk
memegang handphone sendiri. Hal sekecil itu saja di larang apalagi hal-hal
besar lainnya.
Di
sekolah, meysa sering mendengar cerita dari teman-temannya tentang pacar mereka
yang selalu datang ke rumah dan tidak pernah mereka dimarahi oleh orangtuanya.
Mereka di ijinkan dan di bolehkan untuk berpacaran tapi mengapa aku tidaak?
Dalam hati meysa bertanya dengan kesal. Terkadang teman meysa memberikan
masukan kepada meysa. Mereka bilang “itu tandanya orang tua kamu tuh sayang
sama kamu mey. Jangan berpikir yang jelek-jelek dulu deh”. Tapi tetap meysa
mersa kesal dengan sikap orangtuanya itu apalagi ibunya yang sangat mengatur
segala hal tentang meysa.entah apa yang di inginkan ibunya dengan semua
aturan-aturan yang dibuatnya hingga meysa merasa tersiksa oleh kedua orang
tuanya itu. dia ingin menikmati kehidupan remajanya. Inginkan bisa mencari
pengalaman hidup sendiri, mencari hal-hal baru di luar sana, menikmati
kehidupan remajanya bersama teman-teman. Tapi keinginan-keinginan itu meysa
kubur dalam-dalam karena meysa tau itu takkan mungkin terjadi pada dirinya
dengan berpuluh-puluh aturan dari ibunya. Ingin rasanya meysa teriakkan semua
beban hidupnya. Meya inginkan alam semesta ini mendengar teriakkan hatinya.
Supaya mereka menjadi saksi perihnya hati meysa menahan semua tajam kata-kata
ibunya yang membuat meysa tersiksa.
Suatu
hari terdengar dering SMS di handphone yang menjadi milik meysa dan tentu saja
ibunya. Saat itu meysa sedang tidak ada di rumah. Dan sepertinya pesan itu
untuk meysa. Ibu meysa membaca pesan itu dan bertanya siapa sebenarnya pengirim
pesan ini. ternyata ini adalah Henry teman meysa di sekolah katanya. Ibu meysa
kesal dan memarahi meysa saat pulang ke rumah untuk tidak memberi tahu nomer
handphonenya pada lelaki dan melarang untuk meysa bergaul dengan pria-pria yang
tidak jelas. Apalagi Henry yang sangat tidak sopan saat membalas pesan dari ibu
meysa. Tapi meysa tidak terima dengan perkataan ibunya. Meysa tetap bersih
kukuh bahwa henry itu pria yang baik dan tidak seperti apa yang ibunya
pikirkan. Ibu tetap melarang dan mengawasi meysa lebih ketat lagi. Bahkan meysa
tidak diberikan waktu untuk keluar rumah meskipun untuk mengerjakan tugas
sekalipun ibunya tetap melarang. Meysa sangat kesal dan bahkan dia berpikiran
akan nekat untuk kabur dari rumah dan ingin bertemu dengan Henry tapi tak berapa
lama terdengar suara ketukan pintu dan teriakkan salam dari suara seorang
wanita tua. Meysa membuka pintu dan menjawab salam dari seorang ibu-ibu yang
berdampingan bersama wanita remaja yang terlihat menangis saat itu.
“permisi
nak. Apa ada Henry disini?”
“Iya
bu. Henry siapa ya bu?”
“Henry
subagja nak. Katanya kamu pacar dia sekarang. Dia pasti sembunyi disini.
Laki-laki bajingan dia. Dia sudah menghamili anak saya padahal mereka baru saja
berkenalan sebulan ini dan lewat SMS tapi begitu lancang dan beraninya dia
menghamili anak saya ini. cepat suruh dia keluar”
Meysa
begitu terkejut dengan perkataaan ibu itu. karena suara ibu itu cukup keras dan
membuat meysa tak enak dengan tetangga-tetangga samping rumahnya. Meysa
mengajak ibu dan anak itu untuk masuk ke dalam rumah. Ibu meysa mendengar
omongan ibu itu dan keluar dari kamarnya. Meysa meminta ibu itu untuk
menceritakan semua dari awal. Ternyata awal perkenalan Ratih, atau anak ibu itu
tidak jauh berbeda dengan awal perkenalan meysa dengan henry. Kini ratih tlah
mengandung anak dari henry. Betapa miris nasibnya saat itu. meysa hanya melamun
dan membayangkan bagaiman jika ia benar-benar kabur dan mengunjungi Henry maka
kelak nanti meysa akan bernasib sama dengan Ratih. Masa depan yang kelam yang
akan dia dapatkan nanti. Ketika ibu itu berpamitan dan pulang, meysa memeluk
erat ibunya dengan air mata yang berlinang dari matanya hingga membasahi baju
ibu meysa saat itu. meysa meminta maaf kepada ibunya yang menganggap bahwa
selama ini ibunya tidak menyayanginya. Dan dia begitu menyesal telah berpikiran
buruk kepada ibunya sendiri yang begitu menyayanginya.
“Ibuuu,.. maafkan Mey yang selama
ini sudah merepotkan ibu. Selama ini meysa berpikir bahwa ibu membenci meysa, meysa
mengerti arti peraturan, perhatian dan semua perkataan ibu selama ini kepada
meysa. Aku menyayangimu ibuu... “
Sambil mengelus-ngelus rambut meysa
yang masih menangis di pelukannya itu
“sudah nak.. kau tak perlu menangis.
Ibu begitu menyayangimu. Ibu inginkan kamu menjadi anak yang terbaik bukan
menjadi seorang pecundang dan sampah hinaan orang nak. Ibu pun menyayangimu.
Bahkan sangat menyayangimu. Maafkan ibu yang selama ini terlalu mengawasimu
nak”
Sejak
saat itu meysa dan ibunya sangatlah akrab bagaikan kaka dan adik. Setelah lulus
SMA meysa meneruskan kuliah hingga mendapatkan gelar sarjana. Sedangkan
teman-teman yang dulu selalu berbagi cerita dengannya tidak sempat melanjutkan
sekolah karena mengalami masalah yang sama dengan ratih hingga terpaksa harus
berhenti sekolah dan menikah. Kini mereka menjadi ibu rumah tangga yang tidak
memiliki ijazah SMA sama sekali dan tidak memiliki keahlian apapun untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Meysa begitu bahagia, kini dia mengerti semua
tentang aturan dan larangan-larangan orang tuannya yang membawa kesuksesan
untuk meysa sendiri. Meysa bisa membayangkan jika seandainya dia tidak menuruti
perintah dari kedua orangtuanya mungkin kini dia akan bernasib sama seperti
teman-temannya itu.
“ibu
ayah terimakasih atas segala kasih sayang kalian. Kini aku bisa menjadi seorang
sarjana. Aku akan membuat kalian tersenyum bangga di surga. Kalian begitu
berarti untuk hidup ku ibu.. ayah.. aku menyayangi kalian”
Meysa
memberikan sebuah hadiah do’a dan bunga-bunga indah untuk ayah dan ibunya yang
kini tenang di sisi Tuhan. Saat-saat terakhir ibunya menitipkan pesan agar
meysa tetap menjaga dirinya seperti saat ibunya masih ada di sampingnya. Ucapan
orangtua itu bermakna. Bukan mereka membenci. Tapi menyayangi.. . Karya : Mas Roy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar