Jumat, 04 November 2011

Kekangan itu Sebuah Kasih Sayang


Percikan hujan di pagi hari redamkan emosi meysa saat itu. begitu kesal dia akan perlakuan ibunya yang menganggap dia bak anak taman kanak-kanak yang harus selalu diawasi semua tingkah lakunya. Kini sekarang dia duduk di bangku SMA bukan lagi anak taman kanak-kanak yang harus selalu diawasi. Meysa inginkan seperti teman-teman yang lain dibebaskan dan tidak dikekang seperti tahanan. Hal yang paling membuat meysa kesal itu adalah ibunya tidak mengijinkan untuk memegang handphone sendiri. Hal sekecil itu saja di larang apalagi hal-hal besar lainnya.
Di sekolah, meysa sering mendengar cerita dari teman-temannya tentang pacar mereka yang selalu datang ke rumah dan tidak pernah mereka dimarahi oleh orangtuanya. Mereka di ijinkan dan di bolehkan untuk berpacaran tapi mengapa aku tidaak? Dalam hati meysa bertanya dengan kesal. Terkadang teman meysa memberikan masukan kepada meysa. Mereka bilang “itu tandanya orang tua kamu tuh sayang sama kamu mey. Jangan berpikir yang jelek-jelek dulu deh”. Tapi tetap meysa mersa kesal dengan sikap orangtuanya itu apalagi ibunya yang sangat mengatur segala hal tentang meysa.entah apa yang di inginkan ibunya dengan semua aturan-aturan yang dibuatnya hingga meysa merasa tersiksa oleh kedua orang tuanya itu. dia ingin menikmati kehidupan remajanya. Inginkan bisa mencari pengalaman hidup sendiri, mencari hal-hal baru di luar sana, menikmati kehidupan remajanya bersama teman-teman. Tapi keinginan-keinginan itu meysa kubur dalam-dalam karena meysa tau itu takkan mungkin terjadi pada dirinya dengan berpuluh-puluh aturan dari ibunya. Ingin rasanya meysa teriakkan semua beban hidupnya. Meya inginkan alam semesta ini mendengar teriakkan hatinya. Supaya mereka menjadi saksi perihnya hati meysa menahan semua tajam kata-kata ibunya yang membuat meysa tersiksa.
Suatu hari terdengar dering SMS di handphone yang menjadi milik meysa dan tentu saja ibunya. Saat itu meysa sedang tidak ada di rumah. Dan sepertinya pesan itu untuk meysa. Ibu meysa membaca pesan itu dan bertanya siapa sebenarnya pengirim pesan ini. ternyata ini adalah Henry teman meysa di sekolah katanya. Ibu meysa kesal dan memarahi meysa saat pulang ke rumah untuk tidak memberi tahu nomer handphonenya pada lelaki dan melarang untuk meysa bergaul dengan pria-pria yang tidak jelas. Apalagi Henry yang sangat tidak sopan saat membalas pesan dari ibu meysa. Tapi meysa tidak terima dengan perkataan ibunya. Meysa tetap bersih kukuh bahwa henry itu pria yang baik dan tidak seperti apa yang ibunya pikirkan. Ibu tetap melarang dan mengawasi meysa lebih ketat lagi. Bahkan meysa tidak diberikan waktu untuk keluar rumah meskipun untuk mengerjakan tugas sekalipun ibunya tetap melarang. Meysa sangat kesal dan bahkan dia berpikiran akan nekat untuk kabur dari rumah dan ingin bertemu dengan Henry tapi tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu dan teriakkan salam dari suara seorang wanita tua. Meysa membuka pintu dan menjawab salam dari seorang ibu-ibu yang berdampingan bersama wanita remaja yang terlihat menangis saat itu.
“permisi nak. Apa ada Henry disini?”
“Iya bu. Henry siapa ya bu?”
“Henry subagja nak. Katanya kamu pacar dia sekarang. Dia pasti sembunyi disini. Laki-laki bajingan dia. Dia sudah menghamili anak saya padahal mereka baru saja berkenalan sebulan ini dan lewat SMS tapi begitu lancang dan beraninya dia menghamili anak saya ini. cepat suruh dia keluar”
Meysa begitu terkejut dengan perkataaan ibu itu. karena suara ibu itu cukup keras dan membuat meysa tak enak dengan tetangga-tetangga samping rumahnya. Meysa mengajak ibu dan anak itu untuk masuk ke dalam rumah. Ibu meysa mendengar omongan ibu itu dan keluar dari kamarnya. Meysa meminta ibu itu untuk menceritakan semua dari awal. Ternyata awal perkenalan Ratih, atau anak ibu itu tidak jauh berbeda dengan awal perkenalan meysa dengan henry. Kini ratih tlah mengandung anak dari henry. Betapa miris nasibnya saat itu. meysa hanya melamun dan membayangkan bagaiman jika ia benar-benar kabur dan mengunjungi Henry maka kelak nanti meysa akan bernasib sama dengan Ratih. Masa depan yang kelam yang akan dia dapatkan nanti. Ketika ibu itu berpamitan dan pulang, meysa memeluk erat ibunya dengan air mata yang berlinang dari matanya hingga membasahi baju ibu meysa saat itu. meysa meminta maaf kepada ibunya yang menganggap bahwa selama ini ibunya tidak menyayanginya. Dan dia begitu menyesal telah berpikiran buruk kepada ibunya sendiri yang begitu menyayanginya.
            “Ibuuu,.. maafkan Mey yang selama ini sudah merepotkan ibu. Selama ini meysa berpikir bahwa ibu membenci meysa, meysa mengerti arti peraturan, perhatian dan semua perkataan ibu selama ini kepada meysa. Aku menyayangimu ibuu... “
            Sambil mengelus-ngelus rambut meysa yang masih menangis di pelukannya itu
            “sudah nak.. kau tak perlu menangis. Ibu begitu menyayangimu. Ibu inginkan kamu menjadi anak yang terbaik bukan menjadi seorang pecundang dan sampah hinaan orang nak. Ibu pun menyayangimu. Bahkan sangat menyayangimu. Maafkan ibu yang selama ini terlalu mengawasimu nak”
Sejak saat itu meysa dan ibunya sangatlah akrab bagaikan kaka dan adik. Setelah lulus SMA meysa meneruskan kuliah hingga mendapatkan gelar sarjana. Sedangkan teman-teman yang dulu selalu berbagi cerita dengannya tidak sempat melanjutkan sekolah karena mengalami masalah yang sama dengan ratih hingga terpaksa harus berhenti sekolah dan menikah. Kini mereka menjadi ibu rumah tangga yang tidak memiliki ijazah SMA sama sekali dan tidak memiliki keahlian apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meysa begitu bahagia, kini dia mengerti semua tentang aturan dan larangan-larangan orang tuannya yang membawa kesuksesan untuk meysa sendiri. Meysa bisa membayangkan jika seandainya dia tidak menuruti perintah dari kedua orangtuanya mungkin kini dia akan bernasib sama seperti teman-temannya itu.
“ibu ayah terimakasih atas segala kasih sayang kalian. Kini aku bisa menjadi seorang sarjana. Aku akan membuat kalian tersenyum bangga di surga. Kalian begitu berarti untuk hidup ku ibu.. ayah.. aku menyayangi kalian”
Meysa memberikan sebuah hadiah do’a dan bunga-bunga indah untuk ayah dan ibunya yang kini tenang di sisi Tuhan. Saat-saat terakhir ibunya menitipkan pesan agar meysa tetap menjaga dirinya seperti saat ibunya masih ada di sampingnya. Ucapan orangtua itu bermakna. Bukan mereka membenci. Tapi menyayangi.. . Karya : Mas Roy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar