Rabu, 12 Oktober 2011

Persahabatan yang Hancur Karena Cinta


Bagiku cinta itu indah jika diantara dua belah pihak saling setia , namun apabila mereka tidak saling setia dan tidak terbuka maka salah satu diantara mereka akan merasa tersakiti dan bila kamu sudah berjanji maka tepatilah karena apabila suatu hubungan putus di jalan maka kita sendiri yang akan rugi maka tak bisa untuk melupakan seseorang yang kita cintai , maka janganlah kau bermain dengan cinta.                           
Perkenalkan, namaku Joni, hobiku sih olahraga dan bermain game, apa lagi game bola hehee.Saat itu aku dan teman-temanku bermain di rumah deki,  Deki adalah anak yang tampan dan pintar,dan hobinya adalah membaca, tak heran jika dia adalah pria idaman para wanita di sekolah.
“hahahaa, hore goal aku menang “. Ujar ku kepada kepada Deki.
“ gantian dong maennya ”. jelas gito kepada kami.
Gito dia anak yang simple dan iapun anak yang banyak akal tapi banyak juga yang gagal, hehehee, dari kelas 1 smp sampai sekarang duduk di kelas 3 aku selalu sekelas dengan dia, beda lagi klo urusan cewe dia selalu ingin terlihat cool di mata para cewe.
   “ehh, ngomong-ngomong kita taruhan yuk ?”.
“taruhan apa ? “
“yang kalah dari game ini, harus nembak Susi, anaknya pak ahmad, yang cantik itu,pada berani gak nih ?”.
“ayokk, siapa takut..”
Setelah itu kamipun mulai bermain game, dan ternyata yang kalah adalah gito sendiri.
“hahhaaa gito kalah, mampus loe to nembak susi hahaha.”
“haduhh, gw harus nembak susi nihh tapi gimana caranya? “. Dalam hati dia bertanya.
Gitopun cemas, dan kamipun  pulang ke rumah masing-masing. Di tengah perjalan aku dan gito bertemu dengan seorang gadis cantik, tinggi, putih dan bola mata yang indah. Akupun terpesona melihat gadis itu ternyata gadis itu adalah susi.  Gitopun meyuruhku untuk menghentikan perjalanan, lalu gito menghampiri susi dan mengobrol cukup lama, teryata dia meminta nomer handphone susi dan ternyata berhasil, gito senang sekali mendapatkan nomer handpone susi. Setelah itu kamipun pulang.
Keesokan harinya di sekolah gito menceritakan kejadian kemaren kepada deki.
“ehh ki kamu tau ga ?”
“Apa ?”
“Aku punya nomer handpone susi loh..”
“teruss ? “
“ya itu mempermudah rencara gw nembak dia”.
Sepulang sekolah gito mengajak aku dan deki untuk merencanakan bagaimana supaya gito berhasil menembak susi. Seperti biasa kami berkumpul di rumah deki dan membicarakan rencana gito menembak susi.
“gw ada ide nihh, loe pdkt dulu aja lewat sms, abis itu loe tembak dia deh “ jelas Deki
“emmm gimana ya ?, oke dehh gw coba ide lu”.
Gitopun mulai melakukan rencana yang di usulkan oleh deki. Seminggu kemudian setelah gito melakukan pdkt. Rencananya hari ini dia akan menembak susi. Dia pun menembak susi dan ternyata susi menolak gito. Lalu gito pun berlari ke kelas dan dia hanya terdiam.
“ehh to berhasil ga ?”.
“gatot jon, gagal total, sedih gw”
“hahahaa sabar ajaa ya to ! “
“ehh iya, ngomong-ngomong si deki kemana ya jon ? “
“di kantin kali lagi makan”.
“susulin yuk jon”.
“kemonn”.
                Aku dan gito pergi ke kantin dan kami melihat deki sedang makan dengan seorang gadis cantik, ternyata gadis cantik itu adalah susi, melihat hal tersebut gito langsung menghampiri deki, dan ia langsung memukul deki, terjadilah pertengkaran hebat diantara mereka. Susi dan aku langsung melerai perkelahian tersebut.
                Gito lalu pergi ke kelas, tetapi deki di temani susi pergi ke ruang uks, akupun mengejar gito ke kelas, di kelas aku bertanya kepada gito.
“to kenapa loe tadi malah berantem cuman gara-gara deki makan sama susi ? “ jelasku suara keras bercampur emosi. “loe gak malu apa ?, cuman gara-gara cewe persahabat kita ancurr hah ? “.
                Gito tidak menjawab pertanyaan ku, dia hanya terdiam. Aku mulai kesal kepada gito karena kejadian tadi, aku memutuskan untuk pergi keluar kelas.
Keesokan harinya kami tidak bersama-sama seperti dahulu, karena kejadian kemaren kami tidak saling bertanya, menyapa dan bertatapanpun kami tidak mau. Hanya gara-gara seorang gadis cantik persahabatan kami hancur. Sebenarnya aku tak ingin kejadian ini terjadi diantara kami semua tapi apadaya cinta telah menimbulkan kebencian di persahabatan kita. Cinta tak selamanya indah dan membuat bahagia ternyata. Persahabatan lebih indah dibandingkan dengan sebuah cinta yang akan berakhir menyakitkan. Semoga nanti, aku takkan mengalami kejadian seperti ini hanya karena CINTA.

Senin, 10 Oktober 2011

Lorong Cinta


            Reina berjalan setapak demi setapak di sebuah lorong yang miliki banyak kenangan cintanya bersama pria pujaannya. Tersenyum melihat setiap sudut yang ada di lorong itu. tawa canda mereka lalui bersama disini. Setiap saat Rizki menantinya di lorong cinta ini. mereka merajut cinta di sepanjang jalan lorong. lorong ini saksi cinta mereka berdua.
            Reina masih teringat cerita dari awal dia mengenal rizki hingga saat ini mereka memiliki hubungan cinta.
            Di malam sunyi itu hanya terdengar suara alunan angin kencang yang berhembus menerpa dedaunan yang saling bergesekan. Malam itu telah larut sekali tapi reina masih terjaga di depan sebuah latop yang baru saja dia dapatkan dari kedua orang tuanya. Online facebook. Pekerjaan reina setiap malam setelah dia memasang sebuah koneksi internet di laptop yang tak ingin dia lepas setiap malam. ‘dingdong’ terdengar suara yang memberitahukan ada sebuah pesan online yang masuk ke dalam facebooknya. Rizki Eka Riandi. Pria yang mengirimkan pesan pada reani malam itu. Sebelumnya reina belum pernah mengenal pria ini. dia melihat pesan masuk darinya
            “hey, boleh minta tolong ga?” dengan sebuah emotion senyum yang menunjukan bujukan untuk reina
            “emm.. minta tolong apa?” jawabnya dengan ketus
            “tolong cariin tugas bahasa sunda aku dong. Cariin warta sunda”
            “loh? Itu kan tugas kamu. Kerjain sendiri aja. Tinggal cari di google ko ribet”
            “ayolah aku kan minta tolong. Ntar kirimin link nya yah..”
            Karena disaat itu reina tidak sedang mengerjakan tugas apapun maka dia  membantu pria yang mengirimkan pesan itu untuk mencari tugasnya. setelah reina mendapat berita dalam bahasa sunda yang dia cari di google.reina kirimkan linknya pada lelaki yang sebenarnya belum dia kenal waktu itu.  tapi bukannya berterima kasih, pria itu hanya membalas pesan online reina seperti ini
            “ih bukan yang kaya gitu. Udah ko udah ada. Ga usah”
            Dari pertama dia mengirimkan pesan online, dia membuat kesan yang menyebalkan. Reina penasaran dengan pri itu lalu membuka facebook milik pria itu, melihat semua info yang dicantumkan dan melihat foto-fotonya. Reina mengenal pria ini. dia tau wajah ini dan sering melihatnya tapi dia tidak tau siapa nama sebenarnya. Tapi reina tidak terlalu memikirkan pria yang membuatnya kesla malam itu.
            Libur setelah ulangan. Reina mendapatkan waktu selama 2 minggu setelah ulangan semester di SMA nya. Dia pergi menuju rumah pamannya yang ada di karawang. Dia berlibur disana. Berkumpul bersama paman dan bibinya. Menikmati cuaca panas disana dengan berdiam diri di rumah dan menonton televisi meskipun acara-acaranya cukup membosankan juga. Handphone. Hal terpenting yang pertama dari laptop yang tak ingin Reina lepas dari genggaman tangannya. Di saat pukul 12 siang minggu itu, ada seorang teman pria reina yang mengirimkan sebuah sms kepada reina. Dengan kebiasaannya bermalas-malasan sembari bersantai di sebuah karpet hangat berwarna hijau favorit bibinya, Reina membuka pesan yang ternyata dia dapatkan dari Rio.
            “rein.. ada yang minta nomer lu tuh?”
            “siapa? Terus mau ngapain lagi?”
            “namanya Rizki. Ya mau kenal doang sama lu. Kasih aja ya nomernya?”
            “iya deh kasih aja. Asal dia jangan ganggu gua dengan hal-hal ga jelas”
            “iya baweell :p “

            Sekilas percakapan lewat sms antara reina dan Rio. Tak beberapa lama setelah rio mengirimkan sms pada reina. Ada nomer baru yang tidak ada dalam kontak reina yang mengirimkan sms pada reina siang itu. setelah reina membalas sms itu ternyata itu Rizki, teman Rio yang ingin mengenal reina. Mereka saling mengobrol meskipun lewat sebuah sms. Reina dan rizki awalnya membicarakan tentang sekolah mereka masing-masing lalu berlanjut ke sebuah hobi dan mereka ternyata mudah untuk akrab dan merasa nyaman satu sama lain. Karena reina sangat menyukai buah melon. Rizki sering memanggil reina dalam sms dengan panggilan “Ratu Melon” dan karena itu Reina sering menjulukki rizki dengan panggilan “Jin Melon”. Sejak saat itu reina merasa nyaman mengobrol dengan rizki meskipun hanya lewat sms saja. Sepertinya Rizki pun mulai menyukai Reina karena Rizki memiliki rencana setelah Reina pulang dari rumah pamannya. Rizki akan mengajaknya pergi ke sebuah toko buku yang sering dikunjunginya, karena Reina sedang hobi membaca novel-novel yang romantis dan tentang perjalanan hidup. Tetapi sayangnya, saat itu Reina juga sedang dekat dengan seorang pria teman satu sekolahnya. Reina pun lebih dulu menerima cinta pria itu dibanding Rizki. Tapi karena tak ingin membuat rizki kecewa, Reina menerima ajakan Rizki untuk pergi ke toko buku nanti.
            Beberapa hari Reina berlibur di rumah pamannya. Akhirnya Reina pulang ke Bandung dan dia tak sabar ingin bertemu dengan Jin Melonnya itu. dua hari Reina istirahat di bandung. Lalu Rizki menawarkan reina untuk pergi bersamannya siang itu. karena Reina sedang tidak ada kesibukan dan kebetulan dia merasa bosan di rumah, reina menerima ajakan rizki untuk pergi berdua. Rizki belum mengetahui tentang hubungan reina dengan Herdi teman satu sekolah reina saat itu, karena Reina tidak mau rizki meninggalkan dia hanya karena dia sudah memiliki kekasih. Siang itu cukup panas, reina sudah siap dengan pakaian dan styleannya yang sangat biasa aja dan super anehnya.  Rizki mengirimkan sms pada reina bahwa dia sudah ada di lorong dekat rumah reina. Reina bergegas kesana dan melihat sesosok pria menggunakan motor matic dan jaket serta sepatu yang terlihat mencolok harganya. Setelah reina berada di depan lelaki itu. lelaki yang dia pandang dari jauh adalah rizki. Dia menyapa reina dengan sapaan yang tak ada satupun orang yang tau.
            “hey ratu melon. Ini aku disini.”
            “oh kamu rizki. Udah lama?”
            “engga ko , ga lama-lama banget. Ayo berangkat. Nanti tambah panas loh”
            Reina memandang dan menatap benar-benar pria yang selama dua minggu ini dia kenal. Dia memandang wajah pria itu dan mengingat-ingat kembali saat di perjalanan. Ternyata dia Rizki Eka Riandi. Pria yang mengesalkan reina waktu itu. Reina ingin memarahi dan memakinya saat itu. tapi mungkin karena dulu Rizki belum mengenal reina maka dia bersikap seperti itu. hari itu Reina menemani Rizki membeli novel dan menemaninya jalan-jalan berkeliling toko buku. Setelah rizki memilih buku-buku yang akan di belinya dan menuju kasir. Di saat itu Rizki memegang tangan Reina membuat pipi reina memerah dan reina tau pasti ceritanya akan begini.
            “Reina.. aku mau ngomong”
            “ya udah ngomong aja.. ijin segala..”
            “emhh.. mau ga kamu jadi pacar aku?”
            ADUH ! reina bingung harus memberikan jawaban apa pada rizki. Karena dia tak mau membuat rizki kesal dan marah saat itu, reina hanya meng’iya’kan pertanyaan dari rizki dan membuat rizki semakin erat memegang tangan reina. Reina semakin bingung, bagaimana nanti untuk menyembunyikan semua ini? apa dia harus menyembunyikan ini semua dari Herdi ? atau dia harus jujur pada rizki tentang hubungannya dengan herdi? Reina hanya bisa berdo’a agar tuhan berikan dia bantuan dan jalan terbaik untuknya, herdi dan rizki. Reina mencoba tersenyum dan tak memperlihatkan bingung dan cemas di raut wajahnya di depan rizki. Setelah hari mulai sore, reina mengajak rizki untuk mengantarkannya pulang. Sepanjang perjalanan Rizki tak mau melepas tangan Reina mekipun dia sedang mengendarai motor. Reina semakin merasa kebingungan. Dia tak mau merusak kebahagiaan Rizki saat itu. setelah reina sampai di rumah reina mengirimkan sms pada rizki dan menjelaskan kejadian sebenarnya dan Reina jujur kepada Rizki. Saat itu Rizki kecewa kepada Reina dan Rizki menjauh dari Reina. Beberapa bulan Rizki tidak menghubungi Reina lagi.
            Pada suatu hari di saat Reina jalan-jalan bersama temannya ke sebuah perumahan villa dekat rumahnya, Reina melihat Rizki dengan wanita di belakangnya yang begitu mesra dengannya. Saat melihat Rizki dengan wanita lain, Reina merasa cemburu dan sakit hati pada saat itu. Reina tak terima, lelaki yang dulu menyayanginya dan menjulukinya dengan Ratu melon itu ada di pelukan wanita lain. Reina menyesal telah menolak cinta dari rizki. Setelah kejadian itu, reina memikirkan terus rizki yang dulu sangat memperhatikannya. Reina rindu. Reina memberanikan untuk mengirimkan sms pada Rizki tentang penyesalannya. Sering reina mengirimkan puisi-puisi sendu yang menunjukkan rasa sakit hatinya saat melihat rizki dengan wanita lain tapi rizki hanya membalas dengan ketus dan secukupnya saja. Lama kelamaan sifat rizki mulai berubah pada reina. Rizki sering menceritakan soal dia dengan wanita yang sering reina lihat. Mereka kembali akrab dan bahkan lebih dari akrab. Dari mulai panggilan mereka sampai segala halnya menunjukkan seolah mereka berpacaran. Saat itu reina merasa nyaman dan sering tertawa saat bersama Rizki dibandingkan dengan pacarnya sekarang. Karena saat itu reina memiliki masalah dengan pacarnya akhirnya Reina memutuskan hubungan dengan herdi. Rizki pun memutuskan kekasihnya. Tetapi saat itu mereka tidak langsung jadian. Reina masih menanti Rizki untuk menyatakan cintanya.
            Bulan ramadhan tiba. Di suatu hari di bulan ramadhan, reina merasa bosan dan memutuskan untuk meminjam novel-novel milik Rizki. Dan sekaligus ingin bertemu juga dengan Rizki. Mereka sering bertemu tapi bukan di rumah reina ataupun rizki melainkan mereka selalu bertemu di sebuah lorong dekat rumah reina. Lorong itu kini jadi tempat langganan untuk reina dan rizki bertemu. Mereka sering mengobrol dan bertatap muka di lorong itu. meskipun banyak orang lain yang lewat lorong itu, tapi mereka merasa lorong itu hanya milik mereka berdua. Reina masih menantikan Rizki untuk menyatakan cinta padanya lagi karena saat itu reina diberikan hubungan yang tak jelas statusnya. Reina sering mengirimkan puisi ataupun membuat status di jejaring sosial facebook agar Rizki tau bagaimana perasaannya. Di suatu malam,  Rizki mengirimkan sms pada Reina
            “Reiin.. bisa ga sekarang kita ketemu di lorong. Ada yang mau aku omongin sama kamu.”
            Reina kaget dan penasaran dengan pesan yang diberikan oleh Rizki dan reina menemui Rizki malam itu. ternyata Rizki menyatakan cinta pada Reina. Pada malam yang indah di lorong itu mereka menjadi sepasang kekasih.
            Beberapa minggu mereka menjalin hubungan, mereka masih menjadikan lorong itu sebagai tempat bertemu dan lorong itu menjadi saksi perjalanan cinta mereka. Sering kali rizki dan reina beradu kata di tempat itu. suka duka mereka lalui di lorong itu. Bertahun-tahun berlalu , hubungan Reina dan Rizki masih terjalin. Mereka begitu mesra dan bahkan kedua orangtua mereka sudah saling mengenal. Bahkan beberapa bulan lagi mereka akan menikah dan reina meminta untuk menjadikan lorong dekat rumahnya itu menjadi tempat untuk foto pernikahannya nanti. Lorong itu kini dihias sedemikian rupa dan di perbaiki. Lorong cinta. Saksi perjalanan cinta antara Rizki dan Reina

Sabtu, 08 Oktober 2011

Penyesalan Riko



Di Sebuah desa yang damai nan tentram hiduplah  seorang anak bernama riko, riko adalah anak yang baik. sejak berumur 4 tahun dia tinggal bersama kakek dan neneknya, karena kedua orang tuanya pergi merantau ke kota riko pun bersekolah di desa itu, kedua orang tuanya adalah pedagang kecil di kota . waktu terasa cepat berlalu setelah riko berumur 10 tahun dia pun teringat kedua orang tuanya karena pada saat itu riko iri kepada teman-temannya.
 Dalam hati dia berkata “mereka mengambil rapot dengan orang tua, sedangkan aku dengan kakek” sedih sekali rasanya, dia pun berkata kepada kakeknya.
“kek mengapa ayah dan ibu jarang sekali pulang kedesa ?”. Tanya riko kepada kakeknya.“mereka sedang berkerja disana ko, untuk masa depan kamu nanti” jawab kakek sambil tersenyum kepadanya.
“tapi kapann mereka pulang kek ?. Aku ingin bertemu dengan kedua orang tua ku kek! “. Tanya riko kembali.
“mungkin bulan depan mereka kesini ko, jadi bersabarlah”. Jawab kakek riko .
 Sebulan kemudian, pada siang hari setelah pulang sekolah riko melihat kedua orang asing yang sedang mengobrol dengan kakek dan nenek. Dan ternyata kedua orang tersebut adalah orang tua riko, lalu riko berlari ke arah orangtua nyaa.
”ibuuuuu ayahhhh”. Teriak riko dari arah pintu. Riko langsung memeluk erat kedua orang tuanya. “ibu ayah aku rindu kalian,mengapa ibu baru datang kemari ?”
“iyaa nak maafkan ayah karena telah meninggalkan mu selama ini, ayah dan ibu sibuk kerja disana nak, untuk dapat membiayai sekolah mu dan masa depan mu di waktu yang akan datang nak”. Jawab ayah, dan  mata ayah riko pun berkaca-kaca.
“ayah, aku ingin sekolah disana dan tinggal bersama ayah dan ibu, apakah boleh yah ? “
Ayah dan ibu pun bingung ketika riko bertanya seperti itu, ayah pun berbisik kepada ibu. Setelah itu ayah pun menjawab pertanyaan riko.
“iyaa nak tentu saja kau boleh sekolah disana dan tinggal bersama nak”.
Mendengar perkataan ayah rikopun melompat-lompat kegirangan . dia  bersiap-siap pergi untuk ikut dengan orang tuanya ke kota. Setelah sampai disana riko pun sekolah disana.
 Dia tumbuh dewasa disana bersama orang tuanya yang asalnya pedagang kecil menjadi pedagang besar. Riko pun mulai dewasa dan akhirnya dia masuk ke perguruan tinggi disana. Tetapi ketika orang tuanya sukses dia berubah menjadi anak yang sombong. Dia sering menghina teman-temannya yang tidak mampu, dia tergolong anak yang boros. Pada suatu hari dia ingin membayar uang kuliahnya. “pak minta uang buat bayaran  kuliah “ . kata riko terhadap ayahnya. “berapa nak tanya ayah  riko?”
“ 1 juta pak”. Riko menjawab
“ini bawa atm bapak aja, ntar klo udah selesai kembaliin ya nak?”.
“iya yah tenang ajaa”. Jawab riko tersenyum pada ayahnya.
Keesokan harinya riko pun membayar uang kuliahnya, tetapi setelah membayar uang kuliah dia di ajak teman-temannya untuk menghabiskan uang atm milik ayahnya tersebut, rikopun membeli barang-barang yang tidak berguna, dalam waktu 3 hari uang atm ayahnya pun habis tak tersisa, setelah habis riko mengembalikan atm milik ayahnya, yang tanpa tidak di ketahui ayahnya uang atm tersebut telah habis. Keesokan harinya ayah pun pergi kesuatu toko untuk membeli perlengkapan rumah, setelah membeli ayah pun membayar perlengkapan rumah menggunakan atm.
“maaf pak atm anda tidak ada isinya”. Tanya kasir toko tersebut kepada ayah
“gak mungkin, mbak”. Jawab ayah
“tapi atmnya tidak ada isinya pak, klo bapak ga percaya coba cek sendiri aja pak”. 
Ayahpun mengecek isi atm, dan ternyata benar uang di dalam atmnya habis, lalu ayah pun tidak jadi untuk membeli peralatan rumah yang berada di toko tersebut. Lalu ayah pulang kerumah dengan rasa kesal kepada Riko , setelah ayah sampai di rumah, ayah langsung memanggil riko untuk mempertanyakan soal uang atmnya tersebut.
“riko mengapa atm ayah habis ? “ teriak ayah kepada riko
Riko pun hanya bisa terdiam tanpa kata-kata.
Keesokan harinya setelah kejadian tersebut riko jadi malas kuliah karena kejadian kemarin. Kini dia hanya diam di kamar sendiri dan menyendiri.
Hari demi haripun berlalu tetapi riko masih saja selalu menyendiri di kamar, minggu demi minggu pun berlalu dia tetap menyendiri di kamar dan hanya ingin makan saja dia keluar kamar.
Ibu riko pun mulai cemas karena anak semata wayangnya kini berubah menjadi anak yang seperti itu.
Ibu selau memikirkan kuliah riko yang terhenti di tengah jalan karena hal yang sepele.
Karena ibu riko memikirkan riko, ibu pun jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit, ternyata ibu riko terkena penyakit kangker otak, setelah seminggu di rawat ibu riko pun meninggal dunia. Setelah mengetahui ibunya meninggal riko pun pingsan dan tidak menyangka ibu nya telah tiada, seminggu setelah ibunya pergi ayah riko pergi meninggalkan riko entah kemana. Sekarang riko tinggal sendiri, dan dia meyesal atas apa yang dia lakukan selama ini terhadap kedua orang tuanya, yang dengan penuh kasih sayang mengurus dia sampai sekarang, tetapi riko menghianati pengorbanan kedua orang tua nya, riko pun kini hanya bisa menangisi apa yang dia lakukan selama ini terhadap kedua orang tuanya.  

Jumat, 07 Oktober 2011

Tangisan dari Ara


Terik matahari saat itu cukup membuatku tak tahan panasnya selasa siang ini. Untung saja, di sampingku masih ada seseorang yang mau menyejukanku dengan kehadirannya, Rady, sahabatku. Siang itu, kami berjalan menuju ruang kelas kami, untuk melanjutkan mata kuliah setelah jam istirahat. Kami baru saja menunaikan ibadah shalat dzuhur di mesjid kampus.
                “panas banget, Ar,” ucap Rady. Aku hanya tersenyum.
                Kami pun melanjutkan perjalanan kami. Tak terasa, kami pun sampai di kelas kami. Sejenak, kami beristirahat di teras depan kelas.
                “Tumben kamu ngga ke Vioni. Ada apa?” tanyaku disela – sela istirahat kami.
                “Aku lagi berantem sama Vioni. Dia udah bosan kali sama aku.” Rady terlihat murung.
                “Harusnya, kamu samperin dia. Jangan didiemin gini aja, dong. Kalau, gini terus, masalahnya ngga akan selesai – selesai lho, Rad.” Aku tersenyum.
                Rady hanya tertunduk, diam. Entah ada apa dengan hubungannya dengan Vioni. Sudah 2 hari tidak kulihat mereka jalan berdua, ke mesjid berdua, bahakan Rady lebih memilih ke mesjid denganku 2 hari belakangan ini.
                Kulihat, dari kejauhan Syara mendekati kami. Seperti ingin membicarakan sesuatu. Entah apa. Syara cukup tersenyum padaku.
                “Rad, kamu ngga kasian sama pacar kamu? Dia tiap hari pulang sendirian melulu.” Ucap Syara menggemparkan setiap sudut hatiku.
                “Hubungan kita kan emang lagi ngga beres, Syar.” Sahut Rady, santai.
                “Trus, kenapa ngga kamu beresin?” tanya Syara, lagi. Rady kesal. Ia menarik tanganku dan kami pun pergi meninggalkan Syara.


                Di kantin, aku dan Rady hanya terdiam. Asyik dengan gadget masing – masing. Yang membuatku diam hanyalah mengapa Rady sebegitu kesalnya pada Syara yang ingin membantunya meluruskan hubungannya dengan Vioni. Tapi, aku tak tahu apa alasan Rady, mengapa ia memilih terdiam juga.
                Belum ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut kami. Lagi pula, apa yang harus dibicarakan? Jika aku mencoba bertanya tentang Vioni, mungkin hanya akan meruntuhkan reputasiku di daftar persahabatan Rady.
                “Besok aku jemput kamu!” rady menggenggam tanganku, “Kita berangkat kuliah bareng,” lanjutnya. Sejenak setelah itu, aku tercengang. Rady pun meninggalkanku di kantin sore itu.


                Apa yang terjadi pada sistem kerja otak Rady? Apa maksudnya ia menggenggam tanganku tadi sore? Dan apa maksudnya Rady ingin menjemputku besok pagi?
                Mungkin akan ada beberapa juta pertanyaan yang akan terus aku pertanyakan tentang perlakuan Rady padaku belakangan ini.
                Pukul 00.17 aku masih terjaga. The real Insomnia, memang. Hal yang membuatku benar – benar tak bisa tidur malam ini adalah, perlakuan Rady padaku.


                “Aku di depan rumah kamu, Ar,” ucap Rady di seberang telepon.
                Saat aku membuka pintu gerbang rumahku, kulihat senyuman manis Rady yang menyodorkan sebuah helm berwarna putih bertuliskan ‘V © R’. Ironis memang, karena aku tahu betul helm itu yang biasanya dikenakan Vioni jika berboncengan dengan Rady.
                “Kamu ngga bareng Vioni?” tanyaku saat dalam perjalanan. Rady hanya menggeleng. Kurasa jawaban itu cukup menerangkan bahwa, masalahnya dengan Vioni memang cukup rumit dan saat ini ia sedang tidak ingin membicarakannya.
                Saat kami tiba di parkiran, kami – khususnya aku, dikejutkan dengan kehadiran Vioni dan Syara disampingnya. Vioni terlihat biasa saja ketika melihatku turun dari mator Rady, tetapi, Syara melihatku dengan tatapan sinis. Sebenarnya aku heran, mengapa Vioni begitu datar, sedangkan Syara begitu sinisnya terhadap aku? Atau  jangan – jangan.......


                “Kamu kok tadi pergi pas ada Vioni?” tanyaku sambil menyerahkan kunci motor yang ditinggalkan Rady di parkiran, tadi.
                “Aku ngga suka, Ar,”
                “Kenapa? Cerita dong. Aku kan sahabat kamu,” aku tersenyum.
                “Ya, begitulah. Mungkin aku sama Vioni udah ngga cocok lagi. Tapi, aku belum tahu, bagaimana menyelesaikan perasaanku pada Vioni. Aku takut, Vioni hanya sedang kacau saja, jadi melampiaskannya pada hubungannya dengan aku,”
                “Kamu kan bisa omongin baik – baik. Lagian, pasti ada jalan keluarnya, asalkan kamu mau berusaha mencarinya.”
                “Tapi, aku udah ngerasa ngga nyaman sama Vioni,” ucap Rady mengagetkanku. Berarti, ini bukan masalah Vioni. Vioni hanya mengimbangi Rady saja.
                “Lho, memangnya kamu nyamannya sama siapa?” Pertanyaan yang seharusnya tak pernah aku tanyakan pada Rady. Aku takut jawabannya menyakitkan hatiku. Karena, jujur saja, aku merasa nyaman berada di dekat Rady.
                “Aku ngerasa nyaman kalau aku deket sama.....” tiba – tiba kedatangan Syara memotong perkataan Rady. Sejenak, Syara melirikku dengan mata sinisnya – seperti biasa. Ia kemudian menatap Rady dan pergi.
                Apa maksudnya?


                Sampai detik ini, Rady belum mengatakan siapa yang membuatnya nyaman, dan bukan Vioni. Aku sempat bertanya – tanya. Siapa orang itu?? Tiba – tiba dering ponsel – ku mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku.
                “Halo?” sapaku.
                “Ar, aku mau ngomong. Kamu bisa keluar sebentar?”
                “Bisa,”
                Saat aku membuka pintu gerbang rumahku, Rady berdiri tegak dengan kaos kumal berwarna coklat muda dan celana jeans robek – robek, lengkap dengan rambut yang acak – acakan mirip gembel nyasar.
                “Ada apa?” tanyaku masih bingung.
                Rady menyodorkan setangkai mawar merah cantik dan rapi, berbeda dengan tampilannya malam ini. Kuterima mawar itu dengan senyum bahagia, meski aku belum tahu apa maksudnya ini.
                Kemudian, Rady segera menyalakan motornya, mengenakan helmnya. Sesaat sebelum ia meninggalkanku, ia membuka kaca helm – nya, “Aku nyaman sama kamu, Ara!” rady meluncurkan sepeda motornya secepat mungkin, hingga membuat angin mengibaskan rambutku yang terurai.


                Aku tertunduk menuju ruang kelasku pagi itu. Teman – teman sekitarku begitu ‘terpana’ melihat penampilanku pagi itu. Siapa yang tidak ‘terpana’ jika melihat seorang gadis mengenakan kaos yang sudah blel dan celana jeans robek – robek, lengkap dengan rambut yang dijepit dengan asal. Mirip orang gila nyasar. Ada apa denganku hari ini?
                Dari belakang aku mendengar ada yang memanggilku sedari tadi tapi tak kuhiraukan. Aku pun berjalan semakin cepat, karena aku tahu siapa yang memanggilku itu. Tiba – tiba ada yang menarik tanganku dari belakang, aku tak berani menengok ke belakang. Aku takut itu......... Rady.
                “Ara, kamu kenapa?” aku hanya menggeleng dan meneruskan langkahku. Tapi, Rady bersikeras untuk mengejarku, “Kamu kenapa? Maaf kalau kamu ngga suka sama perkataan aku tadi malam,”
                “Ngga. Bukan itu.”
                “Lalu?”
                “Aku kesiangan, Radyyyyyyyyy!!!!!” kami pun tertawa.


                Istirahat siang ini, aku memilih untuk diam di kelas saja. Sepertinya, badanku sedang kurang sehat hari ini.
                Sementara aku mengikat rapi rambutku, Rady menghampiriku sambil membawa 2 botol teh manis dingin, “Nih, minum!” Tersenyum padaku, “Kamu kenapa sih?” tanya Rady.
                “Aku ngga enak badan.”
                “Nanti sore aku antar kamu ke dokter, ya?”
                “Kamu berlebihan, Rad. Makasih.”aku tersenyum dan menyedot es teh manis yang diberikan Rady, “Gimana Vioni?” tanyaku santai.
                “Eh, kamu ngerasa nyaman juga kan deket aku?” Rady mengalihkan pembicaraan. Aku hanya mengangguk. Aku tertunduk. Terdengar detak langkah menuju kelasku. Syara. Seperti biasa, ia menatapku dengan sinis dan kali itu cukup membuatku kesal dan kubalas dengan tatapan sinis pula.
                “Eh Ar, aku ke Vioni dulu ya?! Daaah..” pamit Rady membuatku sedikit lega, karena mungkin, masalah mereka sudah beres.


                Vioni menghampiriku dengan wajah penuh amarah, “Kamu punya hubungan apa sama Rady, hah?” tanyanya.
                “Aku sahabatnya. Kenapa emang?”
                “Mulai detik ini, kamu ngga usah deketin pacar aku lagi!” Vioni pun pergi dengan langkah cepat.
                Aku tahu, pasti harus ada yang mengalah, dan akulah yang akan mengalah. Lagi pula, apa enaknya kita selalu bersama dengan seseorang yang membuat kita selalu nyaman, tetapi tanpa ikatan yang jelas? Aku lelah.


                Kami hanya terdiam. Aku tahu, Rady sudah cukup mengerti apa yang akan aku bicarakan siang itu.
                “Maaf,” Ucap Rady.
                “Aku yang maaf. Maaf aku udah bikin hubungan kamu sama Vioni cukup rumit. Aku ngga maksud.” Aku tertunduk. Rady meraih tanganku dan mngecupnya. Tanpa sadar, air mataku menetes. Aku terlalu sakit untuk mengakhiri ‘kenyamanan’ ini. Dering ponsel Rady mengagetkan kami. Sepertinya sebuah pesan singkat. Tapi, pesan singkat itu membuat Rady berkaca – kaca. Ada apa?
                “Kenapa Rad?” tanyaku. Rady memberikan ponsel – nya padaku dan memberiku isyarat agar membaca pesan singkat tersebut. Aku menelan ludah. Rady menarik tanganku dan segera menyalakan motornya. Kami pun melaju menuju tempat tujuan kami.


                “Maafin aku, Vi. Aku ngga bisa jaga kamu.” Setetes air mata jatuh dan menyerap ke kain batik yang digunakan untuk menutup tubuh Vioni yang sudah terbujur kaku, membisu. Aku hanya dapat menguatkan Rady dengan menepuk – nepuk bahunya dan meninggalkannya. Tapi, Rady menarik tanganku dan kami pun berpelukan, “Sebelumnya, Vioni bilang ke aku, bahwa Ara Vellysta Praramadhani Putri yang layak menggantikannya dalam hatiku.” Rady berbisik, dan bisikkan itu membuatku ingin berlama – lama bertahan dalam pelukannya. Tapi, aku harus melepaskan pelukannya, aku pun berlutut di samping jasad seorang Vioni – yang meninggal karena overdosis obat – obatan terlarang, “Aku akan menjaga Rady dengan sepenuh hatiku, Vioni....”

"Soal Syara, dia emang mata - mata Vioni, takutnya rahasia Vioni yang gemar mengonsumsi obat - obatan terlarang, aku bicarakan sama kamu," Rady tersenyum dan menecup keningku....

Kamis, 06 Oktober 2011

Cita - Cita Kami Untuk Mereka


Deras hujan di sore itu membuat Prilly semakin merasakan kesepian di setiap detik harinya. Dia sendiri dengan sejuta cita-cita dan keinginan untuk bahagia. Dia memandang suatu gambar sekolah yang dia gambar sendiri dengan penuh keinginan dan optimis dia bisa membuat gedung sekolah itu untuk semua anak-anak yang ada di setiap pelosok kota yang hanya bisa bernyanyi apa adanya tanpa not not yang benar, memasang wajah yang menunjukkan bahwa dia membutuhkan bantuan, bahwa dia belum merasakan sesuap nasi di hari itu. andaikan mereka semua sekolah, mereka akan mendapatkan keuntungan dengan hal yang tidak hina seperti itu. Prilly optimis bisa melakukan hal itu untuk mereka.
            Disaat hujan semakin deras terdengar suara bel pintu pukul 04 sore itu. Prilly bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu rumahnya. Ternyata itu Soni. Dia adalah sahabat dekat Prilly sejak SMA hingga kini mereka mendapatkan gelar Sarjana.
            “oh kamu Soni, ayo masuk. Hujan gini, ada apa kamu ke rumah aku?”
            “kasih aku waktu dulu dong prill buat duduk, diem, terus ngeringin baju.  Baru juga aku dateng udah di wawancara.”
            “hehe oh iya maaf, ini anduknya. Keringin dulu baju kamu sama badan kamu. Aku mau buatin dulu teh buat kamu.”
            “rajin banget kamu prill.. hehe makasih sebelumnya yah.. jadi ngerepotin nih”
            Prilly membuatkan teh untuk Soni. Mereka sudah terbiasa bercanda-canda dan tak ada rasa gengsi lagi antara mereka. Disaat Prilly sedang membuat teh, Soni dengan anduk yang ada di bahunya mengeringkan rambutnya secara santai dan melihat kertas-kertas yang ada di meja Prilly. Soni melihat kertas yang bergambarkan sebuah gedung sekolah yang megah. Dia heran mengapa prilly menggambar gedung sekolah ini. karena penasaran, soni menanyakan gambar itu kepada Prilly disaat Prilly baru saja masuk ke ruang tamu dan menyimpankan teh untuk soni di sebuah meja.
            “Ini gambar sekolah kan prill? Untuk apaan?” tanya soni sambil melihat terus gambar itu
            “Oh itu, itu cita-cita aku son.”
            “cita-cita kamu pengen sekolah lagi prill?”
            Prilly tersenyum mendengar jawaban soni. Prilly pun menceritakan maksud dari gambar gedung sekolah itu apa. Dan setelah soni tau, soni mendukung cita-cita prilly itu bahkan dia ingin membantu untuk mewujudkannya. Mereka berdua bekerja sama membangun gedung sekolah untuk para anak yang tidak mampu. Dari uang penghasilan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka masing-masing dan uang jajan yang mereka sisihkan,lalu mereka kumpulkan untuk membeli bahan-bahan membangun gedung sekolah itu.  mereka sangat semangat saat mencari buku-buku pelajaran bekas mereka dan buku buku bekas yang dijual di toko buku. Bahan-bahan untuk gedung sekolah mulai terkumpul, buku buku serta papan tulis sudah bertumpukkan di rumah Prilly. Mereka tidak menggunakan kursi tapi mereka menggelar karpet dan memberikan satu meja belajar untuk masing-masing anak nantinya. Prilly dan Soni sangat optimis untuk bisa membangun gedung sekolah yang bisa membuat para anak yang tidak mampu memiliki banyak ilmu untuk sukses di hari nanti.
            Di suatu hari, Prilly membutuhkan bantuan Soni untuk membantunnya membeli bahan-bahan yang lain dari uang yang diberikan dari orangtua Prilly. Tapi saat Prilly menelfon Soni. Soni tidak mengangkat telfonnya,malah sengaja menolak telfon itu. Prilly mengirimkan pesan kepada Soni untuk segera ke rumahnya dan membeli bahan bangunan gedung sekolah. Soni hanya membalas pesan itu dengan kata “iya”. Prilly menunggu beberapa jam tapi soni tidak datang juga. Prilly terlalu bersemangat hingga dia ingin cepat bangunan sekolah itu segera selesai. Tapi, dia merasa kesal karena tidak ada keseriusan dari Soni untuk cita-cita Prilly yang besar ini. akhirnya Prilly menyetir mobil sendiri dan membeli bahan-bahan gedung sekolah itu sendiri. Tapi saat di perjalanan, Prilly melihat motor milik Soni di sebuah restaurant. Prilly memarkirkan mobilnya menuju restaurant itu dan dari luar terlihat Soni sedang asik bercanda dan makan bersama seorang wanita. Prilly marah dan memutuskan untuk berusaha sendiri membangun gedung sekolah tanpa bantuan Soni lagi. Prilly mengirimkan pesan kepada Soni tentang kekesalannya dan menyuruhnya untuk tidak membantunya lagi. Prilly berusaha sendiri tapi ternyata Prilly tidak bisa, ada saja kekurang yang Prilly tidak mengerti. Prilly putus asa dan menyerah. Dia tak akan melanjutkan lagi cita-citanya. Dia pesimis bahwa dia akan berhasil. Soni beberapa kali mencoba menjelaskan tapi Prilly tak mau mendengarnya. Prilly melihat tumpukkan buku, alat-alat tulis dan yang lainnya yang bertumpuk di rumah Prilly, Prilly ingat wajah-wajah anak-anak yang ada di jalanan kota yang hanya bisa mengemis ke mobil-mobil mewah. Dari saat itu Prilly bangkit dan dia menenangkan dirinya. Dia menjual mobil kesayangannya dan melengkapi bahan-bahan yang kurang dan menyewa para tukang bangunan. Bahkan Prilly terjun langsung dalam pembangunannya. Dia yang mendesain semua gedung sekolah itu. Prilly semangat dan bangkit. Disaat Prilly sedang membantu salah seorang tukang bangunan itu, terdengar suara klakson mobil. Prilly melihat mobil yang dulu dia jual ada kembali dan Soni tersenyum melambaikan tangannya.
            “kenapa mobil aku ada di sini? Kan aku udah jual son”
            “aku beli lagi buat kamu. Kenapa kamu ga mau dengerin aku sih prill. Cewe kemarin itu pacar kakak aku cuman dia lagi ke toilet waktu kamu liat. Aku di suruh nemenin mereka cari tempat makan yang enak. Coba deh kamu liat dalam mobil kamu”
            Prilly membuka pintu mobil dan melihat banyak sekali buku tulis dan buku-buku pelajaran yang lainnya. Bahkan seragam-seragam pun ada. Prilly tersenyum dan memeluk Soni, dia berterimakasih sekali atas bantuan Soni. Beberapa bulan gedung sekolah ini pun jadi. Soni dan Prilly menyusun semua peralatan dan alat-alat lainnya berdua. Mereka sangat bahagia akhirnya cita-cita mereka bisa tercapai. Lalu soni dan Prilly menuju ibu kota untuk mengajak anak-anak disana untuk sekolah. Mereka sangat senang mendengar tawaran dari Soni dan Prilly. Mereka pun ikut dengan Soni dan Prilly. Mereka giat belajar di sekolah yang di bangun oleh Soni dan Prilly.
            Dalam rangkulan tangan Soni, Prilly tersenyum bahagia melihat anak-anak tertawa dan senang belajar di sekolah yang dia bangun bersama Soni. Kini Soni dan Prilly menjadi orangtua mereka dan juga untuk Liberty. Anak kandung Soni dan Prilly. Cita-cita mereka berdua menumbuhkan benih-benih cinta hingga mereka kini bahagia bersama sejuta anak yang mencari ilmu di sekolah mereka.

Selasa, 04 Oktober 2011

Arti Penting Kasih Sayang


           Terlihat sebuah rumah gubuk yang tua di sudut pedesaan kota. Terhalang oleh sebuah pagar putih kusam yang terlihat sudah cukup lama tidak di cat kembali.tinggalah seorang nenek tua di gubuk itu bersama cucu kesayangannya phily panggilan kesayangan dari nenek itu untuknya. Kedua orangtua phily meninggal dunia karena mengalami kecelakaan tragis sebuah pesawat beberapa tahun yang lalu. Dari mulai sejak kecil phily tinggal bersama nyonya sunny atau neneknya sendiri. Mereka hanya tinggal berdua saja di gubuk tua yang berwarnakan warna hijau daun yang kini mulai terlihat kusam dan kotor. Suami nyonya sunny entah kemana perginya setelah mengetahui fonis dokter bahwa nyonya sunny memiliki penyakit jantung yang minim untuk kesembuhannya dan membutuhkan biaya operasi yang cukup besar. Setelah itu suami nyonya sunny pergi dn sampai saat ini belum juga kembali ke rumah. Akhirnya hanya nyonya sunny dan phily yang bertahan di gubuk tua itu.
            Waktu terasa cepat berlalu dan kini philly sudah beranjak dewasa menjadi gadis yang cantik dan anggun percis seperti ibunya dulu saat remaja. Philly kini sedang menjalankan study di sebuah universitas ternama di kota karena dia mendapatkan beasiswa saat SMA dulu. Nenek sunny merawat philly dengan baik sehingga dia kini menjadi gadis yang pintar dan cerdas. Setiap harinya nenek sunny selalu bercerita pengalaman-pengalamannya, menceritakan tentang ibunya dan itu semua menjadikan motivasi untuk philly supaya bisa menjadi nenek dan ibunya serta dia ingin membuat neneknya bahagia di masa tuanya. Selasa pagi philly berpamitan kepada nenek sunny untuk berangkat kuliah. Hal yang berbeda philly rasakan saat melihat wajah nenek terlihat lebih cerah dan cantik. melihat senyuman manisnya membuat philly enggan mengalihkan tatapannya dari wajah nenek sunny. Berbalutkan baju berwarna putih dan dihias dengan sedikit warna gold membuat nenek sunny terlihat lebih muda. Bunga mawar berwarna putih sudah tertata rapih di atas meja makan pagi itu . terlihat banyak sekali hidangan makanan kesukaan philly. Setelah selesai sarapan, philly berangkat kuliah dan mencium kening serta pipi nenek sunny, tiidak biasannya philly melakukan itu.
            Seharian philly berada d universitas, pukul 3 sore philly pulang ke rumah dengan perasaan rindu kepada nenek sunny. Pintu tidak terkunci. Wangi bunga mawar yang nenek sunny susun tadi pagi masih menyengat d sekitar ruangan depan. Sepi ,, sunyi,, tidak terdengar suara celotehan nenek yang menyuruh philly untuk mengambil roti dan selai kacang kesukaan nenek sunny. Philly bergegas melangkah menuju kamar nenek sunny, terlihat nenek sunny yang sedang tertidur di atas ranjang dengan senyuman di bibirnya yang sangat cantik menunjukan kebahagiaan yang mendalam yang dia rasakan. Philly memegang tangan nenek sunny, dia terkejut dengan kulit lembut nenek sunny yang terasa sangatlah dingin , dia memegang leher nenek sunny. Tidak ada denyut nadi di lehernya. Dia memandang wajah nenek sunny dan merasa tak percaya. Nenek sunny kini meninggal dunia, dia telah pergi jauh bersama ayah dan ibunya d surga. Hati philly tak terima , jeritan dalam hatinya semakin keras melihat wajah nenek sunny yang merawatnya sejak kecil hingga sekarang.pepatah darinya, semangatnya, senyumannya masih terasa ada di dalam pikiran philly, philly tak sanggup menahan air matanya. Menangis dalam pelukan nenek sunny untuk terakhir kalinya adalah hal yang paling pahit dalam hidup philly. Pertanyaan dalam hatinya “mengapa Tuhan menjemput semua orang yang philly sayang?”. Entah pada siapa lgi philly harus mengadu, entah pada siapa lagi kini philly harus bersandar saat dia merasakan kerinduan pada kedua orang tuanya. Philly kini hanya bisa menangis.
            Setelah nenek sunny meninggal, kini hanya philly yang menempati rumah tua ini. kehadiran nenek sunny yang membuat rumah ini terasa indah dan hangat kini telah tiada. Betapa philly merasa sangat terpuruk dengan kejadian ini semua. Philly tak sanggup untuk hidup sendiri tanpa dukungan siapa pun d sisinya kini. Philly butuh kehangatan kasih sayang seseorang. Semua hal itu berhasil membuat philly terparuk dan entah kapan dia bisa bangkit kembali. Kuliah philly pun entah bagaimana lagi kelanjutannya, philly merasa tidak bersemangat untuk melanjutkan kuliahnya.merasa bosan dan suntuk berada di rumah , philly memutuskan untuk pergi ke taman di kota untuk sedikit melepaskan beban dalam pikirannya. Celana jins berwarna hitam dan jaket parasit berwarna ungu yang temani dia hari itu. dengan sebuah buku catatan berwarna biru muda yang philly dapat dari nenek sunny dulu. Berjalan dengan penuh tatapan kosong , philly merasakan kehampaan yang sangat mendalam saat ini. disaat philly menuju taman , terlihat seorang kake kake tua yang terlihat sedang kesusahan oleh barang0barang bawaannya. Philly mendekati lelaki tua itu lalu membantunya memasukan barang-barang k dalam mobil .
            “terimakasih nhak.. kau sungguh sempurna. Kau baik dan cantik” dengan tersenyum kake itu kepada philly
            “iya kake, sama-sama. Apa ada lagi barang yang lain yang bisa aku ambilkan?”
            “tidak ada nhak .. siapa namamu gadis cantik”
            “nama panggilanku phiily ke.”
            “oh iya philly.. nama yang cantik .. bagaimana kalau kau ikut dengan ku untuk mengobrol, sepertinya kau sedang bersedih. Apa kau keberatan?”
            “tidak kek tentu saya tidak keberatan. Tapi apa saya boleh untuk datang ke rumah kake?”
            “tidak akan ada yang melarang gadis decantik kamu untuk datang ke rumah ku nhak .. ayo sepertinya sudah mulai mendung dan sepertinya hendak turun hujan. Ayo masuk k dalam mobilku nhak”
            Akhirnya philly pun ikut dengan seorang kake tua yang baru dia kenalnya di taman sore itu. philly merasa aneh. Tidak biasanya dia bisa seakrab ini dengan seseorang yang baru dia kenal. Dia merasakan hal yang berbeda saat bertemu dengan kake itu. kesedihannya karena ditinggalkan oleh nenek sunny tidak terlalu berat dia rasakan. Dia merasa nyaman saat bersama kake tua yang dia tidak tau namanya itu. perjalanan yang cukup jauh dan menghabiskan banyak waktu itu membuat philly tertidur di mobil mewah milik kake itu.
            “philly ,, ayo bangun nhak. Kita sudah sampai” sambil mengguncang badan philly, kake membangunkannya
            Masih dalam keadaan setengah terbangun dari tidurnya, philly keluar dari mobil. dia terkejut melihat rumah yang besar bak istana kerajaan di suatu negeri dongeng. Kake itu seseorang yang kaya raya. Disana philly tertegun melihat rumah kake tua itu. dia membayangkan suatu hal. Andaikan philly bisa membelikan rumah sebesar ini untuk nenek sunny mungkin dia akan merasakan kebahagiaan di masa tuanya sebelum dia menemui tuhan di surga. Tak sadar, philly meneteskan air mata mengingat penyesalannya karena tak memberikan waktu yang terindah di saat-saat terakhir nenek sunny
            “apa kau baik-baik saja philly? Sepertinya kau menangis.”kake menegur philly
            “oh iya kek , aku tak apa-apa.” Philly memberikan senyum manisnya dan menghapus air mata yang ada di pipinya
            “rumah kake besar sekali. Pasti bahagia memiliki rumah sebesar ini. berbeda jauh dengan rumahku yang hanyalah sebuah gubuk tua kecil yang pengaph.”
            Kake hanya tersenyum melihat celotehan philly yang bagaikan sesosok anak kecil yang melihat rumah mainan besar. Kake mengajak philly  untuk masuk ke dalam rumahnya. Terlihat di depan pintu terdapat papan kayu yang bertuliskan “Mr.Stuard jounsan”. Oh kake tua itu ternyata bernama Stuard. Sepertinya kake ini juga campuran antara inggris dan jepang. Pintu depan yang besar berwarna coklat classic yang membuat rumah ini terlihat mewah meskipun belum melihat ke dalamnya. Di dalam banyak interior-interior serta barang-barang mewah yang bisa membuat mata ini tak bosan bosannya untuk menjelajah semua sudut-sudut rumah kake ini. kake mengajak ku ke sebuah ruangan yang sepertinya digunakan sebagai ruangan keluarga. Ruangan ini membuat ku merasa nyaman dan tak ingin pergi dari ruangan itu. tidak lama terdengar keras suara seseorang yang menutup pintu. Nada derap langkah kakinya membuat kake stuard berdiri dari tempat duduknya.
            “darimana saja kau kake tua?” dengan tatapan kasarnya pria itu bertanya pada kake.
            “Apa dulu aku tak mengajarkanmu sebuah kesopanan tuan? Kau tak mengerti kata pemirsi atau pun tak mengerti berbicara dengan nada yang pelan? Aku tadi pergi ke taman untuk menghilangkan beban ku karena mengurusmu. Lalu aku bertemu dengan seorang gadis cantik dan baik yang membantuku. Andai dia cucu kandungku. Dan bukan dirimu cucuku”
            “haha .. siapa yang mau menjadi cucu seorang kake tua bangka sepertimu tuan Stuard Jounsan?? Tentu saja aku tidak. Silahkan lanjutkan obrolanmu dengan gadis cantikmu itu.!”

            philly hanya bisa menatap dengan wajah kesal kepada pria berwajah sombong dan keras kepala itu. apa dia tidak memiliki hati dan perasaan? Betpa kejamnya dia berkata kasar kepada kake stuard yang sudah mngurusnya.
            “kake.. kau baik-baik saja?”
            “aku tentu baik-baik saja philly. Ini sudah menjadi santapan ku setiap harinya. Kau tak perlu khawatir. Philly, apa ada yang mau kau ceritakan padaku. Sepertinya kecerahan wajahmu tertutup oleh sesuatu yang membuatmu sedih. Benarkah itu nhak?”
            “iya kek, aku sedang bersedih. Nenek ku yang sudah mengurus ku sejak kecil. Selasa lalu meninggal dunia, dia terkena penyakit jantung yang cukup parah. Kini aku merasakan kesepian dan merasa tak ada yang menyayangiku lagi.”
            “kedua orang tua mu kemana philly?”
            “kedua orang tua ku sudah meninggal arena kecelakaan tragis sebuah pesawat beberapa tahun yang lalu. Aku kehilangan semua orang-orang yang aku sayang kek.”
            philly melihat foto-foto yang terpampang di atas sebuah tungku dan philly pun terus menceritakan kejadian yang sedang philly alami. Tiba-tiba philly terpaku melihat suatu foto  seorang gadis dalam rangkulan tangan kake stuard yang mesra di sebuah kursi taman. Gadis itu menyunggingkan senyum yang manis dan menunjukkan perasaan nyaman berada di sisi kake stuard. Wanita cantik itu adalah nenek sunny. philly masih ingat bagaimana wajah nenek sunny saat muda karena nenek sunny pernah menunjukkan beberapa fotonya dulu. Apa kake tua yang sedang duduk di belakang philly adalah kake kandungnya. Yang meninggalkan philly dan nenek sunny di saat dalam keadaan yang menyeramkan untuk setiap orang yang mendengarnya. philly benci sekali dengan suami nenek sunny yang tega meninggalkan nenek sunny hanya karena nenek sunny mengidap penyakit jantung. Philly membalikkan badan dan bertanya pada kake stuard.
            “ke, siapa gadis yang kau rangkul di dalam foto ini?”
            Kake mulai menghampiriku dan mencoba melihat foto yang aku tanyakan padanya.
            “oh ini sunny. Dia dulu adalah istriku. Dulu aku meninggalakannya karena mengetahui dia memiliki penyakit jantung”
            “betapa tega kau meninggalkannya sendirian sedangkan kau bersenang-senang, nenek sunny itu nenek ku yang merawat aku dari kecil. Sejak kecil hingga kini dewasa aku membencimu tuan stuarddd”
            Aku lari pergi dan ingin menjauh dari dia. Aku benci padanya tuhan , jauhkan dia dari hidupku. Tapi ketika philly hendak keluar dari ruangan hangat yang dihias senyaman mungkin , kake stuard menarik tangannya dan memberikan tatapan agar philly diam sejenak dan mendengarkan penjelasan darinya.
            “apa sunny sudah benar-benar meninggal philly?” dengan nada yang lemah kake stuard bertanya pada philly. Dengan berlinangan air mta philly menjawab pertanyaan kake.
            “iya ke, selasa lalu nenek sunny meninggal. Dia pergi bersama ayah dan ibu di surga. Di saat dia pergi dia memberikan senyuman terakhuirnya yang manis sekali, dia berikan ku pelukan hangat yang kini aku tak bisa lagi rasakan lagi. Aku sungguh menyayangi mereka ke. Tapi mereka kini tinggalkan aku”
            Kake stuard terrenyuh mendengar cerita philly lalu kake memeluk philly dan membiarkan philly membasahi sweaternya dengan air mata philly.
            “oh maafkan aku cucuku. Dulu aku meninggalkanmu dan sunny karena aku tak kuasa untuk kehilangan sunny kelak nanti. Aku sangat menyayanginya maka aku memutuskan untuk pergi. Maafkan aku nhak”
            Setelah philly mengetahui bahwa tuan stuard adalah kakenya maka kakenya pun meminta philly untuk tinggal bersama kake stuard dan cucu angkatnya , ronald jounsan. Beberapa minggu philly tinggal di rumah mewah itu. philly sering melihat ronald dan kake stuard bertengkar. Masalah kecil pun di besar0besarkan oleh mereka. Rumah ini bak neraka untuk philly. Philly merasa puas karena keinginannya semua bisa dipenuhi oleh kake stuard secara ekonomi. Tapi secara perasaan dan kasih sayang, kake stuard tidak bisa memenuhinya sama seperti nenek sunny. Philly hanya bisa bersabar dan menanti semoga kake stuard mengerti apa yang di inginkan philly sebenarnya.
            Bisnis yang dijalani dan dibangun kakae stuard bersama ronald kini semakin menurun dan bahkan bangkrut. Rumah dan semua harta kake stuard di sita karena menumpuknya hutang kepada sebuah perusahaab. Akhirnya philly mengajak kake stuard dan ronald untuk tinggal di gubuk kecilnya dulu saat bersama nenek sunny.
            Kaki philly melangkah perlahan dan sedih melihat keadaan rumah kenangannya bersama nenek philly kiini tak terawat dan terlihat menyeramkan. Philly membuka pagar putih yang kini dilapisi dengan debu yang sangat tebal. Kake stuard dan ronald terkejut melihat keadaan rumah philly yang sangat mengenaskan. Kunci rumah yang diberikan hiasan gantungan pohon natal yang nenek sunny beli untuk phily masih terlihat baru dan antik. Pintu terbuka dengan suara decitan yang sangat keras karena karat yang kini semakin meluas.tercium wangi harum mawar yang masih tetap hidup di sebuah vas bunga. Aneh. Bunga itu tetap hidup dan bahkan semakin indah. Semua kenangan-kenangan nenek sunny bersama philly masih teringat di pikiran philly. Philly, kake stuard dan ronald mulai membersihkan ruangan-ruangan di dalam rumah dan taman belakang rumah philly. Beberapa bulan mereka tinggal di sana dan membuat rumah itu hangat kembali dengan penuh kasih sayang.gubuk tua membuat banyak perubahan diantara mereka. Kini ronald tidak manja dan kasar lagi setelah mendengar ceritaku saat bersama nenek sunny. Kake stuard pun sering mengunjungi nenek sunny dengan membawakan mawar putih kesukaan nenek sunny. Philly kini mengerti tentang kehidupan ini. hidup tak bermakna jika hanya di isi dengan harta tapi jika kita mengisi semua dengan tulus kasih sayang hidup terasa hangat dan berarti adanya.
            “nenek sunny... terimakasih kau telah merawat ku sejak kecil. Tunggu aku di surga nek.. aku akan menemuimu, ayah , dan ibu di sana. Aku merasakan kehangatan di rumah bersama kake stuard dan ronald. Semoga kau bisa melihatnya dan tersenyum di surga. Aku menyayangimu nek”
            Philly mendekap nisan nenek sunny sambil tersenyum bahagia.

Karma


hembusan angin yang disertai dengan kicauan burung yang silih berganti seakan saling bersaut-sautan memanggil nama nya yang kini sedang aku pikirkan dan selalu aku rindukan. Entah apa yang terjadi pada diriku. Tetapi sambaran petir hapuskan lamunanku, dia mengingatkanku bahwa orang yang kau rindukan telah ada yang miliki, hatinya bukan lagi untukmu, yang dia pikirkan bukan lagi dirimu. Tertunduk dan menetes air mata yang menunjukan kepedihan hati ini. aku hanyalah wanita lemah yang tak bisa menahan rasa pedih di hati saat melihat seseorang yang aku cinta berdampingan dengan seorang wanita yang bukanlah diriku. Mengapa tuhan takdirkan ku untuk berpisah dengannya tapi tuhan tak takdirkan ku untuk bisa melupakan dirinya. Lelaki tampan bertubuh tinggi, dengan gaya rambut yang rapih dan menunjukkan kegagahannya,dia yang aku rindukkan, Rangga. Remuk hati ini saat ku mengucapkan nama indah yang dulu pernah terukir dalam hati ini dan sekarang tlah hilang dan pergi. Sampai kapan aku akan terus terpuruk di dalam rasa sakit hati dan juga putus asa dalam cinta. Lelaki tak hanya satu, tapi mengapa aku hanya mencintai satu lelaki dan yang telah dimiliki oleh wanita lain. Kursi taman dan juga rumput yang bergoyang menjadi saksi rasa sakit ini. akankah dia kembali? Kapankan dia mengisi hati ini lagi? Pertanyaan yang terus-terus menyerang diri ini.
 tak lama saat ku sedang melepaskan rasa pedih yang kurasa, terdengar alunan suara pria yang tak asing di telinga ini. dengan rasa gugup dan juga penasaran aku menolehkan kepala ini menuju sumber suara seseorang yang ku damba. Ternyata benar, dia rangga , dia pria yang ku tangisi saat ini. tapi, di belakangku dia sedang tertawa-tawa bahagia dengan seorang wanita yang dia genggam erat tangannya seolah tak mau bidadari hatinya itu pergi jauh dari dirinya. Aku tak bisa berkata, aku hanya bisa meneteskan air mata hati ini. disaat ku menangis, terdengar suara indah itu mendekatiku. Terasa telapak tangan yang memberatkan di pundakku
“Hey dis, sedang apa kamu disini” tanyanya dengan ramah
Dengan cepat aku menghapus air mata yang ada di pipiku
          “eh kamu rangga. Aku .. aku lagi nyari inspirasi aja disini buat novel yang baru aku buat. Kamu sendiri lagi apa disini? Lagi ngedate yahhh.. ?” dengan sedikit candaan yang menyakitkan ku menjawab pertanyaannya
          “oh gitu, sendiri aja dis? Hehe kamu tau aja dis .. iya niih aku lagi ngajak pacar aku jalan-jalan. Kenalin namanya desi. sayang ini temenku namanya gadis”
          “iya nggha aku sendiri aja disini. Ciye ciye . jdi ngiri nih. Oh iyah hey aku gadis. Salam kenal yah ..”
          “udah pada kenal kan? Bagus deh kalo udah kenal mudah-mudahan jadi akrabh yah. Eh iya diis , aku duluan yah soalnya aku mau keliling-kelling duulu di taman ini. awas jangan ngelamun terus ah nanti kesambet. Hehe bye diis”
          “oh iya ok nggha. Ah bisa aja kamu. Ok bye juga”
          Bagaikan terbang kelangit saat ku bisa melakukan percakapan kembali dengan seorang rangga satria yang dulu adalah orang istimewa dalam hidupku. Tuhan.. mengapa Engkau berikan waktu yang hanya sekejap untukku bertemu dengannya dan memberikan waktu yang tak tau berapa lamanya untukku melupakannya. Aku hanya bisa berharap, semoga Kau berikanku kesempatan kembali untuk bertemu dengannya.

          Mentari tlah terbangun dari tidurmya dan tersenyum untuk seluruh manusia, ayam berkokok menandakan hari tlah pagi dan saatnya untuk terbangun. Dengan mata setengah terbuka aku melihat sinar matahari yang masuk dan menyorot langsung ke dalam mataku. Terdengar ketukan pintu dari luar. Jam masih menunjukan pukul 07 pagi. Dalam hatiku bertanya, siapa yang mau bertamu pagi buta begini. Dengan nyawa yang belum penuh , aku jalan dengan sempoyongan, aku mendekati pintu rumah ku.
          “iya sebentaaarr” teriakkanku dari kamar
          Setelah ku tlah berdiri di depan pintu putih yang bercorakkan gambar-gambar berwarna gold aku membuka pintu itu. jantungku seakan dicabut dan paru-paruku seakan mengecil, ternyata tamunya adalah Dessiii... ada apa dia datang ke rumahku. Mungkinkah dia tau bahwa aku selalu memikirkan kekasihnya? Jantungku berdeguph sangatlah kencang.
          “eh desi, ayo masuk masuk. Maaf yah berantakan, maklum baru bangun.hehe ada apa ni?”
          “oh iya gak apa-apa ko dis. Maaf yah aku datang ke rumah kamu pagi pagi begini. Aku tau alamat rumah kamu dari rangga. Sebenarnya aku mau minta tolong sama kamu dis.”
          “minta tolong apa des? Aku bakalan bantu ko selagi aku bisa, bilang aja des , mau minta tolong apa?”
          “gini dis...”

          Desi menceritakan masalahnya. Dan ternyata dia ingin aku mendekati rangga lagi supaya rangga jatuh cinta lagi kepadaku karena desi tidak bisa berhubungan lebih jauh dengan rangga karena dia akan dijodohkan dengan lelaki yang dia lebih cinta. Aku tak mengerti mengapa ada wanita yang tega meninggalkan lelaki tampan, perhatian serta pengertian seperti rangga sedangkan aku malah mengharapkan dia. Karena aku ingin menolong desi, akhirnya aku mau menerima suruhan desi itu. meskipun ku tau, pasti rangga akan merasakan sakit hati yang kurasa karena harus melihat wanita yang dia cinta menikah dengan pria lain.
          Esok harinya desi merencanakan semua cara agar ku bisa bertemu dengan rangga. Sebulan aku pendekatan kembali dengan rangga dan sepertinya rangga mulai sayang dan suka kembali padaku. Aku tak tau harus bagaimana kalau rangga tau kebohongan aku dan desi selama ini. tapi aku tak mau rangga akhirnya akan ditinggal begitu saja oleh desi. Karena hari demi hari telah mendekati tanggal pernikahan desi. Desi memutuskan untuk bertemu dengan rangga dan dia menunjukkan sikap jelekh seorang wanita yang membuat rangga ilfiiel padanya dan akhirnya rangga mengakhiri hubungan mereka.
          Handphone ku bergetar karena ada satu pesan masuk untukku ternyata itu desi, dia mengucapkan terimakasih padaku karena dia telah putus dengan rangga. Hari itu adalah tanggal 22 juli 2011 dan desi akan menikah dengan prabu lelaki yang dijodohkan dengannya tanggal 25 juli 2011. Aku memiliki waktu 3 hari untuk bisa menghilangkan bayangan desi di pikiran rangga. Setelah selesai membaca sms dari desi. Ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku. Dengan langkah perlahan dan aku melihat lewat jendela ternyata orang di balik ppintu rumah ku adalah  rangga. Dengan sedikit merapihkan penampilanku aku membuka pintu rumah dan tersenyum manis menymbut rangga.
          “hey rangga, ada apa niih . tumben datang ke rumah”
          “ini dis, kmu lagi sibuk ga? Aku mau cerita nih sma kamu”
          “oh engga ko. Ayo masuk dulu nggha”

          Sekitar 30 menit dia menceritakan kejadian tadi saat bertemu dengan desi di sebuah cafe tempat biasa mereka bertemu. Dan dia aneh dengan sikap desi tadi, dia jadi gampang emosi, manja, matre, dan sikap-sikap jelek lainnya yang ga biasanya desi lakukan. Akhirnya rangga memutuskan hubungan mereka. Aku hanya bisa mencoba menenangkan ranga, dan memberikan saran agar dia tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan putus asa begitu saja. Setelah rangga merasa tenang, dia berpamitan untuk pulang dan berterimakasih padaku karena telah mendengarkan kekesalannya dan juga memberikan saran yang terbaik untuknya. 2 hari berlalu sepertinya rangga mulai pulih dan kembali seperti semula. Tepat tanggal 24 rangga mengirimkan pesan melalui handphone. Isi pesan tersebut begini.
          “dis, aku dapet undangan dari desi. Besok dia mau nikah. Ternyata 2 bulan ini dia cuman jadiin aku pelampiasan. Aku ga tau mau gimana. Aku emosi banget diis”

          Aku bingung harus bagaimana untuk bisa menjelaskan dan menenangkan rangga. Akhirnya aku memutuskan untuk datang ke rumahnya. Satu jam perjalanan akhirnya aku sampai di rumah megah rangga. Dengan hati yang gelisah aku menekan bell rumahnya. Pintu itu di buka oleh ibunya rangga.
          “eh gadiss.. mau cari rangga yah?”
          “iya tante, rangganya ada di rumah ga?”
          “ada dis, coba masuk aja ke kamarnya dari pagi dia ga mau keluar dari kamar”
          “oh iya tante, makasih..”

          Dengan ragu aku membuka pintu kamar rangga. Dan aku melihat pemandangan yang sangat buruk yag aku takuti. Kamar rangga begitu berantakan karena keberontakan dia, aku melihat rangga ada di pojok kamarnya tanpa menggunakan kaus dan memegang sebuah pecahan kaca. Aku dengan spontan berteriak menghentikan rangga.
          “rangaaaaaa .... ! jangan !”
          Aku berlari dan melepaskan pecahan kaca di tangan rangga dan menangis di depan rangga.
          “rangga.. kamu ga usah lakuin hal yang buruk kaya gini. Kamu udah kekubur sama rasa emosi kamu. Aku sayang sama kamu rangga , aku ga mau kamu ninggalin aku untuk kedua kalinya nggha . aku sayang sama kamu” dengan terbanjiri air mata aku terus mencurahkan isi hatiku.
          Rangga langsung memeluk erat tubuhku
          “maafin aku diis, aku udah sakitin kamu dulu. Aku udah khianatin kamu. Mungkin sekarang aku dapetin karma karena udah nyakitin kamu. Tapi di saat aku putus asa kamu masih teteph ada buat aku. Makasiieh diis . aku juga sayang sama kamu. Aku ga mau ninggalin kamu diis.”
          Rangga melepaskan pelukannya dan mengecup bibirku. Dia berjanji tidak akan meninggalkan dan khianati aku lagi. Dan dia akan selalu terbuka kepadaku di saat dia ada masalah. Aku dan rangga akhirnya merajut cinta kembali dari awal dan menjadikan kejadian dlu sebagai pelajaran. Janganlah kalian mengkhianati seseorang yang menyayangi kalian karena kelak kalian akan dikhianati oleh seseorang yang kalian sayangi.