Jumat, 04 November 2011

Kekangan itu Sebuah Kasih Sayang


Percikan hujan di pagi hari redamkan emosi meysa saat itu. begitu kesal dia akan perlakuan ibunya yang menganggap dia bak anak taman kanak-kanak yang harus selalu diawasi semua tingkah lakunya. Kini sekarang dia duduk di bangku SMA bukan lagi anak taman kanak-kanak yang harus selalu diawasi. Meysa inginkan seperti teman-teman yang lain dibebaskan dan tidak dikekang seperti tahanan. Hal yang paling membuat meysa kesal itu adalah ibunya tidak mengijinkan untuk memegang handphone sendiri. Hal sekecil itu saja di larang apalagi hal-hal besar lainnya.
Di sekolah, meysa sering mendengar cerita dari teman-temannya tentang pacar mereka yang selalu datang ke rumah dan tidak pernah mereka dimarahi oleh orangtuanya. Mereka di ijinkan dan di bolehkan untuk berpacaran tapi mengapa aku tidaak? Dalam hati meysa bertanya dengan kesal. Terkadang teman meysa memberikan masukan kepada meysa. Mereka bilang “itu tandanya orang tua kamu tuh sayang sama kamu mey. Jangan berpikir yang jelek-jelek dulu deh”. Tapi tetap meysa mersa kesal dengan sikap orangtuanya itu apalagi ibunya yang sangat mengatur segala hal tentang meysa.entah apa yang di inginkan ibunya dengan semua aturan-aturan yang dibuatnya hingga meysa merasa tersiksa oleh kedua orang tuanya itu. dia ingin menikmati kehidupan remajanya. Inginkan bisa mencari pengalaman hidup sendiri, mencari hal-hal baru di luar sana, menikmati kehidupan remajanya bersama teman-teman. Tapi keinginan-keinginan itu meysa kubur dalam-dalam karena meysa tau itu takkan mungkin terjadi pada dirinya dengan berpuluh-puluh aturan dari ibunya. Ingin rasanya meysa teriakkan semua beban hidupnya. Meya inginkan alam semesta ini mendengar teriakkan hatinya. Supaya mereka menjadi saksi perihnya hati meysa menahan semua tajam kata-kata ibunya yang membuat meysa tersiksa.
Suatu hari terdengar dering SMS di handphone yang menjadi milik meysa dan tentu saja ibunya. Saat itu meysa sedang tidak ada di rumah. Dan sepertinya pesan itu untuk meysa. Ibu meysa membaca pesan itu dan bertanya siapa sebenarnya pengirim pesan ini. ternyata ini adalah Henry teman meysa di sekolah katanya. Ibu meysa kesal dan memarahi meysa saat pulang ke rumah untuk tidak memberi tahu nomer handphonenya pada lelaki dan melarang untuk meysa bergaul dengan pria-pria yang tidak jelas. Apalagi Henry yang sangat tidak sopan saat membalas pesan dari ibu meysa. Tapi meysa tidak terima dengan perkataan ibunya. Meysa tetap bersih kukuh bahwa henry itu pria yang baik dan tidak seperti apa yang ibunya pikirkan. Ibu tetap melarang dan mengawasi meysa lebih ketat lagi. Bahkan meysa tidak diberikan waktu untuk keluar rumah meskipun untuk mengerjakan tugas sekalipun ibunya tetap melarang. Meysa sangat kesal dan bahkan dia berpikiran akan nekat untuk kabur dari rumah dan ingin bertemu dengan Henry tapi tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu dan teriakkan salam dari suara seorang wanita tua. Meysa membuka pintu dan menjawab salam dari seorang ibu-ibu yang berdampingan bersama wanita remaja yang terlihat menangis saat itu.
“permisi nak. Apa ada Henry disini?”
“Iya bu. Henry siapa ya bu?”
“Henry subagja nak. Katanya kamu pacar dia sekarang. Dia pasti sembunyi disini. Laki-laki bajingan dia. Dia sudah menghamili anak saya padahal mereka baru saja berkenalan sebulan ini dan lewat SMS tapi begitu lancang dan beraninya dia menghamili anak saya ini. cepat suruh dia keluar”
Meysa begitu terkejut dengan perkataaan ibu itu. karena suara ibu itu cukup keras dan membuat meysa tak enak dengan tetangga-tetangga samping rumahnya. Meysa mengajak ibu dan anak itu untuk masuk ke dalam rumah. Ibu meysa mendengar omongan ibu itu dan keluar dari kamarnya. Meysa meminta ibu itu untuk menceritakan semua dari awal. Ternyata awal perkenalan Ratih, atau anak ibu itu tidak jauh berbeda dengan awal perkenalan meysa dengan henry. Kini ratih tlah mengandung anak dari henry. Betapa miris nasibnya saat itu. meysa hanya melamun dan membayangkan bagaiman jika ia benar-benar kabur dan mengunjungi Henry maka kelak nanti meysa akan bernasib sama dengan Ratih. Masa depan yang kelam yang akan dia dapatkan nanti. Ketika ibu itu berpamitan dan pulang, meysa memeluk erat ibunya dengan air mata yang berlinang dari matanya hingga membasahi baju ibu meysa saat itu. meysa meminta maaf kepada ibunya yang menganggap bahwa selama ini ibunya tidak menyayanginya. Dan dia begitu menyesal telah berpikiran buruk kepada ibunya sendiri yang begitu menyayanginya.
            “Ibuuu,.. maafkan Mey yang selama ini sudah merepotkan ibu. Selama ini meysa berpikir bahwa ibu membenci meysa, meysa mengerti arti peraturan, perhatian dan semua perkataan ibu selama ini kepada meysa. Aku menyayangimu ibuu... “
            Sambil mengelus-ngelus rambut meysa yang masih menangis di pelukannya itu
            “sudah nak.. kau tak perlu menangis. Ibu begitu menyayangimu. Ibu inginkan kamu menjadi anak yang terbaik bukan menjadi seorang pecundang dan sampah hinaan orang nak. Ibu pun menyayangimu. Bahkan sangat menyayangimu. Maafkan ibu yang selama ini terlalu mengawasimu nak”
Sejak saat itu meysa dan ibunya sangatlah akrab bagaikan kaka dan adik. Setelah lulus SMA meysa meneruskan kuliah hingga mendapatkan gelar sarjana. Sedangkan teman-teman yang dulu selalu berbagi cerita dengannya tidak sempat melanjutkan sekolah karena mengalami masalah yang sama dengan ratih hingga terpaksa harus berhenti sekolah dan menikah. Kini mereka menjadi ibu rumah tangga yang tidak memiliki ijazah SMA sama sekali dan tidak memiliki keahlian apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meysa begitu bahagia, kini dia mengerti semua tentang aturan dan larangan-larangan orang tuannya yang membawa kesuksesan untuk meysa sendiri. Meysa bisa membayangkan jika seandainya dia tidak menuruti perintah dari kedua orangtuanya mungkin kini dia akan bernasib sama seperti teman-temannya itu.
“ibu ayah terimakasih atas segala kasih sayang kalian. Kini aku bisa menjadi seorang sarjana. Aku akan membuat kalian tersenyum bangga di surga. Kalian begitu berarti untuk hidup ku ibu.. ayah.. aku menyayangi kalian”
Meysa memberikan sebuah hadiah do’a dan bunga-bunga indah untuk ayah dan ibunya yang kini tenang di sisi Tuhan. Saat-saat terakhir ibunya menitipkan pesan agar meysa tetap menjaga dirinya seperti saat ibunya masih ada di sampingnya. Ucapan orangtua itu bermakna. Bukan mereka membenci. Tapi menyayangi.. . Karya : Mas Roy

Catatan Harapan untuk Ayah dan Bunda


Muhammad robby akbar. Seorang anak pria yang lugu, baik dan pintar. Dia begitu pandai dan kreatif di sebuah panti asuhan. Dia anak yang rajin dalam beribadah. Banyak pembimbing di panti itu sangat mengagumi anak itu dan kadang menjadikan dia sebagai contoh untuk anak yang lainnya. Dulu orangtua robby menitipkan robby ke panti asuhan ini dan mereka entah pergi kemana. Sejak 2 bulan, robby tinggal bersama pembimbing-pembimbing cantik yang ada di panti itu. tapi tak hanya Robby yang memiliki nasib seperti itu, masih banyak teman-teman di panti itu yang memiliki nasib yang sama dengan robby. Di dalam panti itu robby memiliki banyak teman yang sudah dia anggap sebagai saudara dia sendiri.
          Suatu hari ada suatu pasangan suami istri kaya yang datang ke panti itu dengan sebuah mobil mewah yang harganya bisa mencapai milyaran. Anak-anak begitu ramah dan sopan menyambut kedatangan mereka. Mereka senang karena masihada yang mau berkunjung ke rumah kecil mereka. Saat itu robby, bocah berumur 7 tahun itu sedang memimpin teman-temannya dalam shalat berjaaah. Dia begitu khusu menjadi seorang imam untuk teman-temannya, meskipun sesekali temannya tidak mengikuti gerakan-gerakan shalat dengan benar. Maklum saja , mereka belum terlalu mengerti. Nita dan ridwan pasangan yang baru saja datang ke panti itu, berkeliling mencari ibu pembimbing karena ada suatu keperluan. Setelah bertemu dengan ketua panti dan membicarakan keperluan mereka yaitu mereka ingin mengadopsi salah satu anak di panti itu untuk dijadikan anak kandung mereka, ibu Ratih mengajak nita dan ridwan masuk ke dalam rumah tempat anak-anak berkumpul. Sebenarnya nita tidak terlalu menyukai anak kecil tapi karena ini perintah dari mertuanya atau ibunda dari ridwan maka nita pun terima perintah ibunya itu. nita melihat begitu banyak anak yang nakal dan tak mau diam bahkan susah untuk di atur, kecuali seorang anak pria kecil yang menggunakan kacamata tebal dan switer coklat bermotifkan natal yang sedang membaca buku di sebuah sofa di tengah rumah. Hanya dia yang diam dan tak berlarian seperti teman-temannya yang lain. Akhirnya nita dan ridwan mengadopsi anak pria itu. dia adalah robby.
          Saat nita dan Ridwan memutuskan untuk mengadopsi robby. Pembimbing bertanya dahulu kepada robby. Apa dia mau untuk diadopsi oleh mereka. Robby menerima permintaan dari pasangan itu. saat robby memutuskan untuk ikut dengan pasangan itu. teman-teman panti asuhan robby sangat sedih. Mereka kehilangan kawannya yang pintar, mereka kehilangan seorang imam saat mereka shalat berjamaah. Tapi demi kebahagiaan robby. Mereka merelakan kepergian robby.
          Robby dibwa oleh pasangan itu ke rumah mereka yang cukup megah. Robby sebenarnya kesepian karena dia tidak memiliki teman di rumah itu. dia hanya ditemani sebuah catatan kecil dari pembimbingnya. Dia hanya bisa menonton televisi dan tak ada kegiatan lain yang bisa dia kerjakan. Suatu hari saat robby sedang menonton televisi, nita atau ibunya mengajak pergik supermarket di kota. Nita akan berbelanja kebutuhan-kebutuhan di rumah. Saat itu robby bergegas ke kamar dan berganti pakaian tapi tiba-tiba terdengar suara kumandang adzhan dzuhur saat itu. robby berlari mengambil air wudhlu dan menunaikan shalat dzuhur dahulu. Di saat rakaat ke 2 terdengar suara teriakan nita yang tak sabar menunggu anaknya itu.
          “robbiiii... ayoo cepaaatt.. lagi ngapain sih kammuu !”
          Robi mencoba tetap khusu dalam shalatnya. Baru saja selesai melaksanakan shalat dzuhur. Dan sedang berganti pakaian untuk mengantar ibu angkatnya itu belanja. Nita sudah menggeret robi dengan keras dan mencubit tangan robi hingga merah karena kesal. Robi meminta maaf pada ibunya karena dia lupa untuk meminta ijin untuk shalat terlebih dahulu. Tapi ibunya teru menggeret membuat robi merasa kesakitan. Tak hanya ibu angkatnya saja yang menyiksa robi tapi ayahnya pun sama begitu. Saat itu tidak sengaja robi menyenggol gelas kopi ayahnya dan mengenai kemejanya. Saat itu juga robi di siram dengan kopi yang masih panas itu hingga kulit perut robi melepuh.  Sering mereka menyiksa ataupun melampiaskan emosi mereka pada robi. Tapi robi tidak pernah menangis di depan mereka. Robi hanya membagi ceritanya kepada allah di saat dia melaksanakan shalat. Dia menangis. Dia merasa kesakitan. Tapi robi tidak pernah merasa benci kepada orangtuanya itu meskipun perlakuan mereka yang selalu membuat robi kesakitan dan menangis. Robi selalu menuliskan do’a untuk ayah dan bundanya itu dalam buku catatan kecil berwarna biru dipenuhi dengan hiasan  kaligrafi huruf arab buatan robi sendiri. Di buku kecil itu robi mencurahkan semua isi hatinya yang begitu menyayangi orang tuanya.
          Pagi hari nita heran mengapa tidak ada suara mengaji dari robi, padahal dari saat dini hari robi selalu shalat hubuh dan mengaji di kamarnya tapi kali ini tidak terdengar. Dari bawah nita berteriak memanggil robi tapi sama sekali tidak ada suara dari kamar robi. Nita naik ke lantai atas dan masuk kamar robi. Dan terlihat robi masih ada di dalam selimut ungu kesayangannya. Muka robi terlihat bersinar saat itu. dari luar pintu nita sudah mengomel melihat robi yang masih tidur.
          “ya ampun jam segini belum bangun.. ! pemalas sekali kamu robi. Ayo bangun. Pekerjaan kamu banyak hari ini. ayo cepat.”
          Tapi tidak ada sedikitpun gerakan dari robi. Nita berteriak memanggil ridwan yang sedang menonton televisi sambil menikmati secangkir kopi saat itu. ridwan menyimpan cangkir kopinya lalu menghampiri istrinya.
          “Liat tuh anak angkat kamu ! pemalesnya ga ada duanya. Jam segini dia masih enak-enakkan tidur. Cepet bangunin sama kamu.”
          Ridwan kesal dan menggoyang-goyang badan robi tapi tak ada sedikitpun gerakan dari robi. Ridwan memegang denyut nadi di tangan robi ternyata tangan robi sudah dingin dan tidak ada denyut nadinya. Anak angkat mereka kini meninggal dunia. Dia meninggal dalam keadaan muka yang begitu bersinar dan tersenyum. Ridwan melihat buku catatan biru yang ada di samping robi saat itu. ridwan membuka buku itu dan ridwan juga nita membaca catatan yang ada dalam buku catatan kesayangan robi
            “bismillahhirohmanirohim. Ya allah robi sayang ayah dan bunda. Lindungi mereka ya allah, ampuni dosa-dosa mereka. Robi ingin ayah dan bunda selalu bahagia. Amiin”
        Saat membaca itu air mata nita berlinang dan ridwan begitu kaget melihat tulisan anak polos yang tidak berdosa ini begitu berarti untuknya. Di halaman ke dua ada sebuah kata-kata dan catatan untuk nita dan juga ridwan.
          “untuk ayah dan bunda :
                Ayah .. bunda.. terimakasih kalian sudah mengangkat ku sebagai anak kalian dan merawatku, aku begitu bahagia memiliki orangtua seperti ayah dan bunda. Aku ingin sekali membuat ayah bunda bahagia dengan aku menjadi anak yang shaleh dan berbakti. Harapan ku saat ini, aku ingin mengunjungi rumah allah di Mekah bersama ayah dan bunda. Tapi mungkin saat ini aku belum bisa mewujudkan itu. maafkan aku ayah dan bundaa.. selama ini aku selalu membuat ayah dan bunda kesal dengan sikap maupun sifatku. Aku meminta maaf sebesar-besarnya. Aku akan selalu mendo’akan ayah dan bunda. Aku sayang ayah dan bundaa..”

          Begitu tersentak hati ridwan dan nita melihat goresan-goresan tinta dari anak mereka sendiri yaitu robi. Selama ini mereka tidak pernah memberikan kebahagiaan kepada robi. Baru mereka menyadari begitu berartinya anak ini. mereka menangis memeluk robi. Mereka terus menerus meneteskan air mata yang membasahi baju robi yang saat itu telah tertidur selamanya. Begitu berdosanya mereka kepada robi. Penyesalan yang amat sangat besar mereka rasakan. Kini mereka sadar mengapa Allah tak memberikan anak kandung kepada mereka karena Allah tak mau titipan sucinya akan berakhir seperti robi. Mereka terhanyut dalam sendu saat menguburkan robi bersama anak-anak panti dan pembimbing panti. Banyak yang menangisi kepergian robi karena robi adalah anak yang sangat shaleh dan juga pintar. Banyak sekali pertolongan yang sering ia lakukan pada teman-temannya. Robi kini tenang berada di sisi allah dan tersenyum untuk semua orang yang menyayanginya. Robi bersenandung di surga bahwa dia sangat mencintai ayah bundanya.. 

Jumat, 28 Oktober 2011

Aku Ingin Menjadi Pelangimu


“aku ingin menjadi pelangi. Dapat mewarnai langit seusai hujan yang kelam,”
Aku masih menatap  pelangi yang semakin lama gambaran warnanya semakin hilang. Aku sangat mengagumi keajaiban dari Tuhan tersebut, warnanya begitu indah, tak ada warna yang kusam di sana. Begitu menggambarkan bahwa pelangi selalu ceria dan aku tetap ingin menjadi pelangi yang dapat mewarnai langit.
Aroma tanah sehabis hujan masih tercium begitu lembut. Disampingku pun masih terduduk seorang laki – laki berkacamata di lengan kanannya. Ia tak berhenti meratapi nasibnya sebagai orang kaya berotak encer dan mendapat beasiswa ke Belanda, namun ia berada di titik kebingungan. Ia tak mau meninggalkanku, kekasihnya.
“Ayo, Langit! Kita mengagumi pelangi yang berwarna indah itu.” Seruku pada Langit, kekasihku.
“bintang, kau tak mengerti? Aku sedang bingung. Aku tak mau meninggalkanmu hanya demi pendidikan gratis. Aku tak bisa jauh darimu, Bintang,” aku tersenyum. Langit membentakku. Tapi, aku tahu, itu hanya luapan emosinya. Sebentar lagi juga meredam.
“Langit, perlu kau ketahui. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Aku pun tak pernah bisa jauh darimu, kau lebih berarti dalam hariku. Tapi, aku yakin, ini yang terbaik,” Langit menatapku lekat, lalu ia memelukku erat. Aku pun menangis. Tetesan air mataku membasahi T – shirt berwarna hitam yang dikenakan Langit, “Aku akan menjadi pelangi untukmu, dimana pun kau ada.” Ucapku, lirih.
“Kau Bintang. Dan kau sudah lebih dari cukup memberikan kilauan berharga dalam hidupku selama ini.” Aku tersenyum lega.

Pagi ini, aku akan mengantar kepergian Langit untuk melanjutkan studi di Belanda atas nama beasiswa yang ia terima. Aku akan bertemu dengannya di Bandara.
Sekarang aku sudah berdandan rapi, tidak berlebihan tentunya. Ya setidaknya, sebelum Langit pergi, ia masih dapat melihatku berdandan rapi.
“Kha, tolong nanti kamu berangkat sekolah diantar Pak Kosim saja, ya. Mbak mau ke bandara, mengantar Mas Langit.”
“Ya, mbak. Salamkan kepada Mas Langit ya?! Maaf aku tak bisa ikut mengantarnya.” Khaniesa tersenyum. Khaniesa adalah satu – satunya adik perempuanku.
Aku buru – buru berangkat mengendarai sepeda motorku. Aku takut aku terlambat. This is last moment, aku tak  boleh melawatkannya.
Ada sedikit perasaan sedih dalam hatiku. Dalam beberapa bulan mungkin tahun, aku tak akan bertemu Langit yang selalu hadir dalam bahagiaku, sedihku, candaku, tawaku, jatuhku, ya hampir segalanya. Maklum, aku jauh dari kedua orang tuaku. Aku di Yogyakarta, tapi kedua orang tuaku di Jakarta. Mereka memiliki sebuah perusahaan tekstil yang lumayan besar. Jadi, mereka jarang sekali pulang ke Yogyakarta. Pantas saja kan? Jika aku melalui hariku bersama orang yang mencintaiku dan sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri.
Ternyata Langit belum tiba di bandara. Katanya dia on the way. Aku pun sabar menunggunya. Tak beberapa lama kemudian, Langit tiba di hadapanku dan ia langsung memelukku dengan masih ransel yang digendongnya dan koper yang digusurnya. Entah perasaanku saja atau memang Langit mempersiapkan semuanya, Langit terlihat berbeda hari ini. Ia tampak cerah dan lebih sedikit tampan dari biasanya.
“Sudah lama menunggu?” tanyanya. Aku menggeleng sambil tersenyum. Kini, matanya menatapku lekat, lagi. Hingga aku tak mampu menahan air mataku, namun aku masih tetap tersenyum. Aku tak mau menghancurkan hari ini. Aku ingin Langit tenang meninggalkanku. Meski aku tahu, Langit mempunyai perasaan yang sama denganku.
“Duduk dulu, yuk?! Pesawatnya baru berangkat tiga puluh menit lagi kok,” Langit tersenyum. Kami pun duduk bertiga–bersama Mbak Roro, satu – satunya kakak perempuan Langit. Tentu aku sudah sangat mengenalnya.
“Bintang, aku titip padamu. Jika suatu hari nanti aku kembali padamu, pastikan kamu masih menyimpan ini,” Langit menyerahlan sebuah kalung berliontin sepotong pelangi, “Ini pelangi punyamu, dan ini punyaku. Kau tahu, tak mungkin pelangi dapat berwarna sempurna tanpa potongan pelangi lainnya? Jaga ini. Aku pasti kembali.” Langit kemudian memakaikan kalung itu di leherku.
Tanpa terasa, ini saatnya Langit harus pergi. Meninggalkanku dan puing – puing kisahku dengannya. Meninggalkan jejak langkah yang pernah kita lewati.
Mungkin berjuta rasa takut kehilangan Langit tiba – tiba tumbuh di hatiku. Berkali – kali aku menarik napas panjang agar aku merasa sedikit tenang.
“Ingat titipanku dan harus kau tahu aku sangat mencintaimu. Maafkan jika aku banyak berbuat salah,” Langit menggemggam erat tanganku. Perlahan ia menuntun tanganku sampai pada kecupan tulus di punggung telapak tanganku. Napasku mulai tak menentu. Aku terisak. Sedihku tak terbendung. Aku tahu aku akan sangat merindukan Langit. Tapi, ayolah Tuhan, berikan aku kekuatan.
“I will very miss you, baby...” Langit tertunduk.
“I will be your rainbow, wherever. Keep smile please. Make me be a proud. Come on! Dunia menunggumu!” aku memberikan semangat untuknya. Aku tak ingin terlihat bersedih di hadapannya.

Berhari – hari tanpa kehadirannya, aku mulai terbiasa. Semalaman aku mulai terbiasa untuk
tidak tidur nyenyak, aku mulai terbiasa untuk galau, mulai terbiasa untuk bosan. Ya, memang ini perubahan yang sangat drastis. Bagaimana tidak? Setiap hari aku selalu ditemani Langit untuk pergi ke toko buku favorit kami, malam harinya kami masih berjalan – jalan keliling kota atau mengobrol ringan di sebuah tempat favorit kami, taman kota. Tapi sekarang? Semua seakan hilang ditelan bumi. Aku pergi ke toko buku sendiri, nongkrong di taman kota pun sendiri. Bukan berarti aku tak punya teman, tapi jika bersama temanku, rasanya berbeda. Tidak seperti aku dan Langit.

            Kemarin – kemarin  atau tepatnya sebulan yang lalu, itu kali terakhir Langit menghubungiku. Setelahnya ia menghilang tak ada kabar, entah kemana. Aku khawatir. Banyak rasa takut tumbuh di hatiku. Aku takut sesuatu terjadi padanya.
            Mataku memerah. Aku tak bisa tidur, aku hanya menangis sejak pukul 04.00 sore tadi dan sekarang sudah pukul 09.17 tepat. Aku pun memutuskan untukn pergi ke taman kota, sekedar mengenang atau mungkin aku menghibur diri di sana. Semoga aku terhibur.
            Terasa lebih dingin dari biasanya, ketika aku duduk dan tertunduk di kursi kayu yang biasanya aku duduki bersama Langit. Entah apa yang harus aku lakukan tanpanya. Serasa mati separuh tubuhku. Aku terbiasa dengan Langit. Ya Tuhan, jaga dia di sana.
            “Andai Langit di sini. Kau pasti tak akan sedih,” aku terkaget. Siapa yang berbicara itu. Itu perkataan di hatiku. Ku tengok sebelahku, ternyata Kak Dhean. Kakak tingkatku. Ia laki – laki baik. Aku menyadari itu karena ia juga teman dekat Langit. Ia sudah kami – aku dan langit anggap senagai kakak kami sendiri. Ia sangat dewasa. Bahkan saat sebuah masalah besar pernah melanda hubungan kami sampai akhirnya kita hampir putus, Mas Dhean lah yang membantu kami hingga akhirnya kami bersatu lagi dan baik – naik saja.
            “Eh,  Kak Dhean. Sedang apa di sini?” tanyaku.
            “Sedang menemanimu, dan ingin mendengar ceritamu. Aku tahu, kau butuh teman saat ini,” Kak Dhean menatapku dan tersenyum, “Berceritalah,” Aku malah memeluknya dan menagis. Saat ini ia sandaran kesedihanku. Setidaknya ada yang mampu membuat hatiku sedikit tenang.
            “Sudah. Berhenti menangis. Aku tahu bagaimana perasaanku. Karena aku pun sedang merasakan hal yang sama,” aku terperanjat.
            “Kakak juga sama? Kakak merindukan siapa? Mengapa tak pernah bercerita?”
            “Ku rasa, nanti kau pun tahu. Ia tak pernah pergi jauh dari sampingku, tapi aku merasa hatinya selalu jauh dari hatiku. Aku selalu merindukannya,”
            “Wow! Separah itukah?” tanyaku terheran – heran. Setahuku Kak Dhean tak pernah memperdulikan urusan cinta. Tapi ternyata, tak bisa dibayangkan bagaimana sakitnya.
            “Ya. Sudahlah, cepat atau lambat ia akan menyadari. Kembali ke ceritamu, Bintang,” aku terdiam. Aku tak tahu harus memulai cerita dari mana. Ceritanya terlalu panjang untuk dimulai, “Bintang?” aku tersadar dari lamunanku.
            “Eh, ya kak. Inti dan pokoknya, aku sangat mengkhawatirkan Langit. Sudah sebulan ia tak menghubungiku, kak,” aku tertunduk lagi dan lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.
            “Cukup satu yang harus ku katakan. Semangat! Suatu hari nanti, jika ia memang ditakdirkan bersamamu, ia akan kembali padamu dan menjadi milikmu seutuhnya,” Kak Dhean tersenyum sambil menepuk bahuku. Aku pun bersandar lagi di dadanya. Ia mengelus rambutku dan aku menangis. Biasanya Langit yang melakukan ini padaku. Tapi, sudahlah.

            Jenuh. Sepertinya Langit memang melupakanku. Sakit hati. Sangat sakit hati. Aku telah sabar menunggunya. Setidaknya ia mengirimku surat, jika ia tak bisa menghubungiku lewat kabel telepon. Tapi, bagaimana pun, Langit adalah seseorang yang ramah, pasti ia menemukan perempuan lain yang lebih bisa menemaninya setiap waktu.
            Aku tahu, long distance relationship itu berat. Tapi aku sendiri masih mampu, selama Langit masih memperdulikanku.
            Sekarang, saatnya aku berdiri sendiri. Tanpa Langit.

            Aku terburu – buru menaiki anak tangga menuju ruang kelasku. Masih banyak tugas yang harus ku selesaikan. Terlebih, jabatanku sekarang adalah asisten dosen. Jadi, tugasku agak bertambah.
            Sesampainya aku di ruang kelas. Masih sepi. Baru ada satu, dua orang saja. Teman yang dekat denganku baru hadir si Vero.
            “Hey, kenapa buru – buru, Bintang?” tanya Vero. Aku hanya menggeleng. Aku berusaha berkonsentrasi pada tugas – tugasku hari ini, “Aku tinggal tak apa?” tanyanya lagi, aku tetap menggeleng. Vero pun berlalu. Yang lain pun berlalu. Kini hanya aku sendiri di sini. Di ruang kelasku.
            Ku dengar detak langkah yang suaranya semakin mendekat. Aku tak terlalu memperdulikannya, aku hanya peduli pada tugasku.
            Detak langkah itu semakin mendekat saja, membuatku menjadi penasaran, “Siapa di sana?” ucapku agak keras. Kemudian muncullah seseorang yang mengagetkanku. Kak Dhean tampak di sana tersenyum sambil membawa 2 mangkuk sesuatu yang entah apa itu isinya.
            “Kak Dhean. Kakak bawa apa?” tanyaku, penasaran.
            “Kamu belum sarapan, kan? Aku bawakan bubur ayam. Lumayan, untuk mengganjal perut. Kan tugas kamu jadi banyak, setelah kamu jadi asisten dosen,” Kak Dhean tertawa kecil sambil mengacak – acak rambutku. Kami pun menikmati bubur ayam itu.
            “Oh ya, bagaimana dengan Langit?” pertanyaan itu membuatku sedikit tersedak. Kaget, “Eh, sorry, Bintang. Aku hanya bertanya,” Kak Dhean memberiku sebotol air mineral.
            “Sudahlah, kak. Aku tak mau membicarakannya lagi.” Aku tertunduk
“Sorry. Hmm, Bintang? Mau nggak, nanti sore temani kakak?”
            “Ke mana?”
            “Pokoknya mau saja, ya?” Aku pun mengangguk pasti. Kami pun melanjutkan sarapan kami. Setelahnya, Kak Dhean membantuku menyelesaikan tugas – tugasku.

            Kedua mataku ditutup oleh sehelai kain batik milik Kak Dhean, “Ayo, Bintang!” Kak Dhean menuntunku.
            Aku sangat penasaran. Sebenarnya Kak Dhean membawaku ke mana? Kak Dhean lalu mengajakku duduk dan menyuruhku untuk membuka penutup mataku. Dan tampaklah Kak Dhean berdiri tepat di hadapanku dan memberiku sekuntum bunga mawar merah, dan tempat itu adalah taman tempat aku dan Langit menikmati hujan dan aroma tanah sehabis hujan. Air mataku menitik, aku pun memeluk Kak Dhean.
            “Why?” kak Dhean menatapku, lekat. Namun aku hanya menggeleng pelan, “Berceritalah,” Kak Dhean melempar senyumnya.
            “Aku tidak tahu harus bercerita apa lagi. Aku hanya menginginkan Langit di sini, dipelukku bersama senyumnya.” Tangisku semakin tak terbendung.
            “Aku, tak bisa menghadirkan Langit di sini. Tapi, aku bisa membuatmu sempurna, seperti Langit menyempurnakanmu menjadi Bintang terang.” Kak Dhean memelukku lagi. Sekarang rasanya seperti pelukkan Langit. Bahkan lebih hangat dari pelukkan Langit.
            “Jika aku mencintaimu dengan hati yang tulus, kau akan menjadikanku langit untuk kilauanmu?” Aku mengangguk pasti.

            Hari ini hari sabtu, bulan ketiga aku bersama Kak Dhean dan bulan ketiga pula aku masih merindukan Langit. Hufff
            “Kak Bintang, tadi pagi ada yang menelpon ke ponsel – ku. Katanya Kak Langit akan pulang hari ini,” Khaniesa seperti mendeskripsikan sesuatu yang tak seharusnya ku dengar.
            “Yang menelepon itu, bilang, dia siapa?” tanyaku, penasaran.
            “Mbak Roro kalau tidak salah.” Ha? Mbak Roro? Kakaknya Langit. Berarti kemungkinan besar, benar berita itu. Langit akan pulang hari ini. Lalu, aku harus bagaimana? Bukannya Langit sudah melupakanku?  Oke. Aku akan pura – pura tidak peduli dengan kepulangan Langit. Biar saja, jika Langit memang masih membutuhkanku, dia pasti datang kapadaku.
            “Kak? Kak Bintang?” Khaniesa membuyarkan lamunanku.
            “Iya, kenapa Kha? Kamu jadi pergi sama Dandy? Pergi aja. Hati – hati ya, sayang.” Khaniesa pun berlalu dari hadapanku. Dia pergi tanpa sepatah kata pun, ia hanya tersenyum dan mengangguk.

            Sampai hari ketiga setelah katanya Langit pulang ke Indonesia, ia tak menghubungiku juga. WHAT? Oke lah, mungkin dia memang benar – benar sudah melupakanku. Ya, pahitnya, Langit mungkin datang ke hadapanku dengan menggandeng perempuan bule, calon istrinya yang ia bawa dari Belanda sana, dan ia akan meminta izin kepadakau, dan aku akan menangis di hadapannya, ia pun akan mengerti betapa aku mencintainya dan sungguh tak ingin dikhianatainya. *Ups! Sadis sekali.
            Aku tidak banyak fokus ke Langit, aku lebih fokus kepada tugas – tugas kuliahku. Fokus! Fokus! Fokus! Jika Langit saja bisa melupakanku dan fokus kepada tugasnya, mengapa aku tidak?
            Tiba – tiba ponsel – ku berdering berturut – turut tiga kali. Pertanda 3 pesan singkat masuk. Aku kaget, biasanya ponsel – ku sangat sepi tak bergetar sama sekali. Tapi kali ini, sampai tiga kali. Ckckck. Ternyata pesan singkat itu dari Raisa, adik dari Kak Dhean. Seseorang yang sudah ku anggap kakakku sendiri itu. Setelah membaca beberapa kali SMS itu, aku ternganga, tercengang, kaget dan tak percaya. Aku terdiam. Bertanya – tanya, apakah benar atau tidak? Aku segera membereskan buku – buku yang sedang kubaca dan kupelajari. Aku berlari menuju parkiran dan segera melaju menuju tempat Kak Dhean.
            Sesampainya di sana.......
            “Rai, mana Kak Dhean? Mana?” Aku terengah – engah. Raisa memelukku, ia menangis. Menahan rasa sakit. Bukan ‘sakit’ itu yang dimaksud, tapi sakit. Raisa merasa tak ada lagi tumpuan hidupnya selain kakaknya itu. Ya, Dhean memang kaka yang sangat baik untuk seorang adik perempuan bandel seperti Raisa, “Rai, katakan di mana Kak Dhean?”
            “Dia di ruang ICU, kak. Kak Dhean luka parah. Aku bingung harus kepada siapa lagi aku mengadu. Yang aku tahu, yang selalu dipedulikan Kak Dhean adalah Kak Bintang, dan tidak mungkin saat Kak Dhean dalam keadaan seperti ini, Kak Bintang tidak peduli,” Raisa menjawab sambil masih meneteskan air matanya. Aku tahu, dia sangat ketakutan jika Kak Dhean harus pergi sekarang juga. Jangankan Raisa, aku pun tak mau kehilangan Kak Dhean. Hanya ia yang peduli padaku. Kata Raisa benar.
            “sekarang kamu tenang saja dulu. Kakak peduli di sini.” Aku tersenyum.
            “Kak, seandainya Kak Dhean memang harus pergi sekarang, kakak akan melakukan apa untuknya?” pertanyaan itu sungguh menodong perasaanku. Entah aku harus menjawab apa. Ada sejuta jawaban di hati ini. Aku merasa nyaman, aman, bahagia, merasa dipedulikan, merasa ada, merasa hidup dan akhirnya aku mencintainya.
            “Kakak mencintainya, Rai, dan jika memang Kak Dhean harus pergi sekarang, kakak akan menjagamu. Karena kakak tahu, kamu lah yang sangat dicintai Kak Dhean, dan kakak berhak menggantikan Kak Dhean ketika ia pergi,” Raisa kemudian meneteskan air matanya lagi, tapi setelahnya ia tersenyum, “Kak, ayo kita ke ruangan Kak Dhean. Sepertinya ada yang ingin dikatakan Kak Dhean,” Raisa pun menarik tanganku.
            Ketika aku memasuki ruangan putih dingin ini, rasanya aku tak kuat menahan air mataku. Aku takut tak mampu melihat wajah Kak Dhean. Raisa kemudian menunjukkan ke salah satu tempat tidur, yang di sana terbaring lemah seorang laki – laki yang bercucuran darah di bagian kepala. Kak Dhean. Air mataku semakin menjadi. Di sana, di tempat tidur bersih itu terbaring laki – laki baik yang terlalu mempedulikanku selama ini.
            “Kak Dhean, ini aku, Bintang.” Aku membisik. Tapi, Kak Dhean tak merespon sedikit pun. Isyarat pun tak ada. Mungkin Kak Dhean belum sadar.
            Aku berniat untuk jaga di rumah sakit menemani Raisa. Aku korbankan acaraku yang tadinya aku ingin pergi ke toko buku.
            “Kakak nggak pulang?” aku menggeleng. “Kenapa? Kakak kuliah besok?” aku mengangguk. “Lalu?”
            Aku menarik napas panjang, “Kakak akan menginap di sini, Rai.” Jawabku.
            “Yang benar?” aku mengangguk pasti.

            Hatiku tak tenang. Aku masih ingin bersama Kak Dhean. Tapi, di sisi lain aku tak ingin melewatkan kuliahku. Sekarang, aku berada di ruang kelas yang sangat ramai, tapi aku merasa sendiri. Sudah jelas, aku mencintainya.
            “Bintang, Dhean kecelakaan ya?” tanya Deri, teman Kak Dhean. Aku menengok, “Iya, Der. Kak Dhean luka parah.” Aku menjawab sambil tetap fokus ke sebuah buku.
            “Kalau nanti kamu ke rumah sakit, tolong sampaikan salam untuk Dhean. Maaf aku tak bisa menemuinya,” Aku mengangguk. Deri pun menepuk – nepuk bahuku, menguatkanku.
            Ponsel – ku berbunyi. Aku merogohnya dari tasku, ternyata telepon dari Raisa, “Halo, Rai? Ada apa?” Di seberang telepon, Raisa hanya diam. Tak ada kata. Hening, “Rai? Halo Raisa?” kali ini terdengar cegukkan. Pasti Raisa baru saja menangis. Apa yang terjadi?
            “Raisa, bicaralah,” terdengar helaan napas yang kuat, “Kak, Kak Dhean.......” telepon terputus. Aku segera pergi untuk menemui Raisa yang setahuku dia berada di rumahnya.

            Di tempat ini tangisku masih saja tak berhenti. Di kursi ini, malam ini SENDIRI. Harusnya, jika tadi siang Kak Dhean tak “pergi” untuk selamanya, ia berada di sisiku saat ini. Menemaniku menatap bulan yang tak pernah lelah tuk bersinar, menggantikan Langit yang seakan sudah tak peduli padaku. Sekarang, aku benar – benar sendiri. Tak ada siapa pun laki – laki yang mampu membuat hariku lebih berarti.
            “Aaaaaarrrrggggghhh!!!!!!” aku berteriak sambil meneteskan air mataku yang tak habis juga. Tiba – tiba, saat aku menangis kencang, ada seseorang yang menepuk bahuku. Siapa yang tak kaget? malam hari, sendiri, dan ada yang menepuk bahu secara tiba – tiba. Tapi, aku hanya berharap itu adalah malaikat yang akan menjemput nyawaku untuk bertemu Kak Dhean.
            “Siapa?” tanyaku sambil masih menangis dan tak menengok. Ternyata itu seseorang. Ia duduk di sampingku, aku tak peduli. Mungkin itu supirku, atau mungkin orang lain yang ingin tahu aku sedang apa, atau banci yang lagi mangkal. Entahlah. Setelah sekitar 3 menit seseorang itu tak berbicara, aku mulai mengenali wangi dari orang itu. Aku menengok kepada orang itu, dan ternyata benar, “You?” aku memeluknya. Aku menumpahkan rasa sedihku pada laki – laki itu, walau dalam hati, aku geram, marah, dan benci pada laki – laki yang ku kira sudah melupakanku karena sibuk di luar negeri itu. Langit.
            “Sorry,” kata Langit penuh penyesalan. Aku tak mampu berbicara lagi. Aku hanya menangis dan menangis. Belaian dari tangan Langit, kini ku rasakan lagi, meski hatiku terasa sakit.
            “Kamu ke mana? Kau tahu, aku masih kekasihmu? Aku menunggumu di sini, setiap malam.” ucapku, lirih. Aku pun melepaskan pelukannya. Ia mencoba menghapus air mataku yang tak berhenti.
            “I’m so sorry, Bintang. Aku tak pernah bermaksud melupakanmu,” Langit menggenggam tanganku, erat.
            “Lalu, kau ke mana?” teriakku. Seketika Langit menunduk di hadapanku. Ia menangis di hadapanku, “Jawab, Langit!” teriakku lagi.
            Ia menengadah, menghela napas panjang, “Aku dijodohkan oleh mami dengan saudara jauhku. Aku tak mau, aku punya kamu. Aku kabur dari tempat tinggalku di sana. Segalanya ku tinggalkan, termasuk ponsel – ku yang tak sengaja tertinggal. Aku hanya membawa bekal seadanya. Uang hanya jatah dari beasiswa, dan itu tak cukup untuk membeli ponsel baru di sana. Aku sempat mencoba menghubungimu melewati telepon umum, tapi kau tak mengangkatnya,” Langit menatapku, lekat. Aku mencoba percaya dengan ceritanya, sampai akhirnya aku percaya sepenuhnya. Hatiku berkata yakin dengan ceritanya. Sempat air mataku berhenti mengalir, sesaat, tapi kali ini kembali menetes. Cintaku memang masih untuk Langit, rinduku pun masih untuknya. Aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku memang mencintai Kak Dhean, tapi ternyata tak lebih dari cinta antara sahabat baik saja. I love you so much, Langit.....

            Duduk dan tersenyum dengan memakai dress tosca. Aku tak tahu kejutan apa yang akan diberikan Langit untukku. Aku hanya disuruhnya untuk menunggu di taman ini, tempat dulu ketika aku tak hentinya berharap menjadi pelangi untuk Langit.
            Dari belakang ada yang memanggilku pelan, dan itu Langit. Ia beralih ke hadapanku, dan ia memberiku setangkai mawar putih. Setelah aku menerima mawar itu, Langit memberiku sebuah kotak kecil beludru berwarna merah, tentu saja itu sebuah cincin yang berkilau. Aku tersenyum, dan berdiri. Langit memelukku, aku menghirup wanginya dalam – dalam. Wangi yang kurindukan. Saat aku melihat ke langit biru sehabis hujan, di sana terlukis garis pelangi yang berwarna – warni, “Langit, look that!” aku menunjuk pelangi yang semakin jelas terlukis. Langit pun melepas pelukku, “Hey, do you remember about that?” aku mengangguk, “Aku ingin menjadi pelangi untukmu, Langit, tapi aku adalah bintang,” ucapku, tersenyum, “tapi, kilauanmu sudah lebih dari cukup untuk setiap detik hidupku,” Langit memakaikan cincin yang berkilau itu di jari manisku, dan menciumnya...
            Helaan napas penuh keyakinan beserta senyuman dari Langit, “you’re my rainbow, you’re my star’s. And i know, everything will be fine, with you.....”
*TAMAT*

I said: terkadang kau tak bisa memiliknya seutuhnya. Suatu waktu ia akan menghilang tanpa jejak, tapi jika ia takdirmu, suatu hari nanti ia akan kembali untuk membahagiakanmu! Believe it! J
            

Kamis, 27 Oktober 2011

Love Man or Woman


Semua orang pasti mempunyai takdir cinta masing –masing ,walau  selalu  akan mengalami kegagalan dalam percintaan.semua orang pasti pernah mengalami jatuh cinta ,tidak hanya orang dewasa anak kecil pun sudah mengenal masa-masa pacaran
cinta,cinta, dan cinta
Aku mempunyai rasa yang tak seharusnya ku rasakan sebagai seorang pria. Biarkan orang percaya atau engga,dan terserah juga orang maw bilang apa tentang aku dan hidupku ini. aku hanya bisa berjalan mengikuti alur cerita yang sebenarnya aku tak inginkan menjadi tokoh ini. seorang pria tampan yang memiliki perasaan seperti pria jantan dan bisa merasakan sebagai wanita.
Mungkin Tuhan mentakdirkanku seperti ini ,kadang aku sendiri menyesal kan hal yang terjadi padaku , mengapa ku harus  seperti ini ? aku sadari aku seorang pria yang seharusnya bisa seperti pria remaja yang lain dan bukan menjadi seorang pria yang lemah gemulai dan dihina setiap teman-teman yang mengenalku. Aku mencoba tak terlihat sedih dan marah akan semua cacian mereka. Aku hanya tertawa dan tersenyum mendengar celotehan mereka yang menghina tentang diriku “pria bertingkah laku wanita”. Mereka berpikir aku seperti itu, meskipun memang kenyataan begitu , tetapi sebenarnya aku tak inginkan menjadi pria seperti itu. aku hanya inginkan menjadi lelaki normal yang jantan dan memiliki wanita yang dipanggil sebagai  "kekasih". Takdir ini berpengaruh besar pada perjalanan rasa cintaku. Akan ku ceritakan semua di selembar kertas dengan sebuah tinta hitam yang pekat ini.
          Aku memiliki tubuh seorang pria yang seharusnya memiliki ketertarikan kepada lawan jenisku yaitu wanita. Banyak wanita cantik di sekitarku yang menjadi teman ku. Tapi mereka berteman denganku bukan karena aku pujaan semua wanita tapi karena aku pria yang bertingkah laku hampir sama dengan mereka. Terkadang aku tertarik pada salah satu dari mereka tapi perasaan itu tak akan lama. Dan hal yang semakin tidak wajar lagi, jika aku melihat pria gagah, tampan dan menawan, rasa cinta dan suka terkadang timbul dari dalam hatiku. Aku tak menyadari hal itu terjadi pada diriku ini. ini tak sepantasnya aku rasakan. Aku sama dengan pria itu , memiliki tubuh yang sama, tapi mengapa aku bisa merasakan cinta pada pria lagi? Terkadang aku ikut dengan teman-teman wanitaku yang mempunyai hobi menongkrong di depan kelas dan melihat pria-pria yang ada di sekolah dan mencari yang memiliki paras menarik untuk mereka. Aku juga lakukan hal yang sama bersama mereka. Dan aku merasa senang melihat pria-pria tampan yang ada di sekolah. Teman-teman wanita ku senang dengan pria pilihan ku setiap ada di depan kelas.
          Suatu hari ada seorang pria yang sangat tampan dan menaklukan hatiku. Aku seorang pria pun takluk apalagi teman-temanku. Pria itu bernama Rendi. Dia anak kelas X D jurusan Pariwisata di SMK ku. Aku memanggil teman dekatku bernama Sinta yang ada di dalam kelas.
          “nta.. sini deh.. liat ada cowo cakep tuh.. ayo cepet”
          “mana ? mana?” sinta berlari dari dalam kelas dan menghampiriku
          “itu tuh yang pake sepatu item ada corak birunya terus pake jam tangan”
          “iih bener.. cakep banget ih .. kamu tau ga namanya ? pasti tau deh”
          “ahaha iya dong. Itu kan mantan aku hehe. Itu namanya Rendi kelas Xd parwis”
          “euh kamu. Mintain nomer hpnya dong”
          “iya iya”
          Dengan tampang seolah aku ini pria jantan, aku menghampiri rendi dan meminta nomer handphonenya dengan alasan untuk suatu keperluan. Saat ku hendak masuk ke kelas. Aku berpikir untuk menguji hati ini. sinta tak tau nomer handphoneku. Aku akan memberikan nomer ku kepada sinta dan mengaku sebagai rendi dan aku  sms rendi dengan nomer yang lain dan mengaku sebagai sinta. Rasa suka ku lebih besar terhadap Sinta atau mungkin Rendi? Aku memberikan nomer handphone ku kepada sinta dan seolah-olah itu nomer rendi
          Setelah jam pulang sekolah, aku bergegas pulang dan jalankan rencanaku itu. handphoneku bergetar. Aku membuka pesan tersebut. Ternyata pesan itu dari sinta. Dia menyapaku dan aku meresponsnya seolah aku ini rendi. Pria tampan yang di idam-idam kan sinta. Sinta begitu perhatian dan aku mulai menyukai dia dengan semua perhatiannya. Aku membuka selembar kertas yang ada di saku celanaku. Ternyata itu nomer rendi yang aku dapat pada jam istirahat tadi. Aku mengirimkan sms itu seolah aku ini sinta. Rendi begitu ramah dan memanjakan aku. Aku merasa nyaman saat sedang berbalas sms dengan rendi. Aku belum bisa memastikan tentang diriku dalam sehari ini. aku terus membohongi mereka salam waktu satu bulan ini. ternyata aku lebih menyayangi sinta daripada rendi. Aku terpesona oleh cantik menawan dan lembut kasih sayang sinta. Aku mulai berubah meski dengan sebuah kebohongan. Aku mencoba mendekati sinta dan jujur tentang semua ini. sinta sedang asyik mengobrol dengan teman-teman dekatnya. sepertinya ia menceritakan soal rendi yang sebenarnya itu aku. aku memanggil sinta untuk duduk di kursi sebelah ku. aku menarik nafas panjang dan menjelaskan kepada sinta. aku kira sinta akan membalas rasa sayang ku, ternyata tidak. dia hanya tertawa dan menghina ku. sejak saat itu, dia tak mau lagi bertanya bahkan dekat denganku. aku ingat perkataannya saat itu
   "hah? jadi yang slama ini sms aku itu kamu? ya ampun tega banget sih kamu! aku tuh ga suka sama kamu! liat penampilan kamu sekarang. REMPONG tauu!"
     perkataan sinta itu sungguh membuat aku terluka dan sejak saat itu aku merubah semua dalam diriku. tekad dalam hatiku sungguh besar. aku tak ingin terus menerus menjadi hinaan orang. aku merubah penampilan, cara berjalan bahkan berbicara. dengan usaha yang cukup kuat dan terus menerus. aku bisa merubah diriku menjadi seorang pria gagah dan jantan. bukan lagi menjadi pria lemah gemulai hinaan mereka. kini setiap ke sekolah aku membawa motor ninja biru yang tidak pernah di pakai ayah ku sejak lama untuk memperlengkap penampilan ku nanti. tak ada lagi rasa kewanitaan dalam diriku kini.
    saat tiba di sekolah , sinta melihat perubahan drastis padaku. aku hanya tersenyum saat dia terpesona melihatku dan penampilan ku kini. aku begitu percaya diri. diriku bak seorang raja tampan yang baru datang dari kerajaan ke sebuah desa dengan banyak wanita yang tiada henti menatapku dari ujung rambut hingga kaki. aku membawa helm dan masuk ke dalam ruangan kelas. dari tempat parkir hingga ruangan kelas banyak wanita yang memperhatikanku dan terpesona dengan penampilan ku saat ini. saat di ruangan kelas sinta mendekatiku dan bertanya padaku.
     " hey, nomer hp kamu masih yang itu kan?"
aku hanya menjawab dengan senyuman yang membuat sinta tersipu dan terpesona. Sejak saat itu sinta sering sms ku dan lama kelamaan kita menjalin hubungan yang lebih dari teman. Dan Rendi. Aku dan dia menjadi sahabat dekat yang sering nongkrong bersama.  Kini tuhan tlah berikan ku sebuah perubahan. Aku merasa bahagia tak menjadi bahan hinaan para teman-temanku baik pria ataupun wanita. Ternyata cintaku tetap untuk seorang wanita. Kepastian yang menyenangkan yang kudapat bukan suatu kepastian yang menyakitkan. My love for a woman not for man .. :D   

AKEN SI OLEGUN


Di sebuah sudut kota di kota kembang tinggal seorang pria lugu yang gila dan kegokilannya melewati batas maximum. Angga Kenata Surya. Cowo yang hobi menggunakan jam tangan ini sekarang duduk di kelas 11 di suatu SMA negeri favorit di Bandung. Dengan styleannya yang sok sok kota tapi tetep norak, dia tetap pede alias percaya diri dengan penampilannya itu di sekolah. Dia merasa bagaikan raja di sekolah dengan ketampanan dan penampilan yang bijaksana tapi itu cuman impian dan motivasi Aken, panggilan cowo kelewat pede ini. di sekolah tetap saja dia berpenampilan bak kacung anak-anak SMA di sana. Dengan kepedean dan rasa pemalunya yang menjadi malu-maluin, Aken sering dijadikan bual-bualan hiburan oleh teman-temannya. Dia begitu mudah dibodohi dan dia seorang anak yang penurut sampai-sampai semua perintah konyol temannya ia turuti dan lakukan. Setiap ada aken, semua murid di kelas 11B tidak pernah cemberut. Pasti saja ada bahan tertawaan dari sang gokilers di kelas mereka ini. banyak kegokilan yang sering aken lakukan. Jika semua itu di ceritakan mungkin ini tak jadi sebuah Cerpen tapi bakalan jadi sebuah novel yang tema nya ngaler ngidul nyeritain si aken ini.

            Di ceritakan di suatu hari yang tampak terlihat cerah karena pantulan sinar dari jidat Joni Saputra yang luasnya sampai 2m dan bisa dijadikan arena ice skateing karena kelicinannya. Aken sang gokilers sedang asik kumpul bersama sahabat-sahabat karibnya disebuah kantin es kelapa muda yang menjadi minuman favorit anak cupu dan gila ini. percakapan dimulai oleh pria yang slalu menggunakan kacamata hitam yang menganggap dirinya seperti Ian Kasela ini. namanya ga jauh katro dari yang lain Solihin rohmat. Nama yang diberkahi oleh orangtua nya ini sengaja ia ubah di akun facebooknya menjadi solihin kasela. Karena begitu ngefansnya solihin pada Ian kasela di band raja
            “ken, jon, gimana penampilan gw hari ini? nambah mirip ian kasela kan? Sebelum ke sekolah kan gw harus keliatan gaya biar keliatan orang kotanyaa..”
            “tanya aja nih sama jidat gw” celetuk si jonnong yang memiliki jidat lebar 2m itu
            “jidat lu ga bisa boong jon. Dia begitu terpesona liat penampilan gw ini” dengan PEDE yang tak tertahankan lagi, solihin menjawab candaan joni
            “buset, noh liat gara-gara omongan lu itu. poon-poon jadi kering, rumput-rumput berhenti bergoyang, burung-burung pun berhenti berkicau, sampe-sampe pangeran aken muntah-muntah dengernya” aken yang lebih gila lagi menjawab celotehan teman-temannya yang sama tingkat kegilaannya dengan aken.
            “lu pangeran jangkrik ken. Ngomong-ngomong jam berapa ini? kita langsung caw ke sekolah aja nyok.. tugas bahasa inggris gw belum nih. Mana pa ridwan yang ngajar. Gw takut di makan kalo belum ngerjain tugas-tugasnya”
            “ok ok . kita langsung caw dengan pesawat puing 757 yang mengalami kerusakan berat hingga menjadi tiga motor butut kita ini” jawaban jonnong untuk si fans gila ian kasela
            “banyak omong lu!” sambil keisengannya aken mendorong joni dengan tenaga dalam sedalam samudera dan lautan lalu di sertai dengan dendam kusumat dalam hatinya.

            Tiba di sekolah, angin berhembus menerpa helaian rambut aken, jonnong, dan solihin kasela yang bagaikan di sinetron-sinetron. Mereka melangkahkan kaki perlahan-perlahan yang tiba-tiba menjadi cepat seperti atlet lari karena mendengar bunyi bel tanda masuk kelas. Mereka lari terbirit-birit menuju ruang kelas mereka. Jonnong yang kelasnya dekat dengan gerbang terselamatkan dari ibu sri yang buawelnya lebih dari ikan bawal. Si kasela juga udah masuk ke ruangan lab computer yang ruangannya ga jauh dari kelas si jonnong. Dan yang kena sial hari ini adalah si aken. Ruangan kelas 11B yang ada di lantai 2 membuat dia harus lebih ekstra lari dengan hati-hati di tangga sekolah. Sampai di depan ruang kelas. Sudah terdengar suara ibu susi guru matematika yang ndut dan unyu-unyu tapi liar sedang menjelaskan angka-angka di pelajaran matematika yang paling aken benci. Aken bingung harus memberikan alasan apa. Dengan begonya aken masuk dengan tangis-tangis seolah dalam keadaan duka.
            “assalammualaikum ibu, maaf saya telat” sambil menangis terisak-isak
            “kenapa kamu angga? Kenapa terlambat dan mengapa kamu menangis?” dengan wajah yang tetap saja unyu-unyu tapi sangar
            “maaf ibu tadi saya ngubur kucing saya dulu. Dia meninggal ibu. Aeuukkkhh aeuuukkhh .. saya sedih sekali ibu, mengapa begitu cepat dia meninggalkan sayaaaaa” sambil memeluk ibu susi tangis aken semakin menjadi-jadi. Teman-teman di kelas hanya bisa menahan tawa karena setiap telat pasti itu alasan si aken.
            “oh iya silahkan kamu duduk angga. Kita ulang pelajaran lagi dari awal”

            Aken tertawa licik dalam hatinya dan dia begitu mengagumi ibu susi dengan memujinya dalam hatinya “ibu susi begoo sekualliiii. Hahahaha”. Refal yang menjadi teman sebangkunya hanya mengkomen dengan menahan tawanya.
            “gila lu ! ga ada alasan lain apa.? Tapi keren, akting lu tambah jago. Kenapa ga jadi tukang baso aja lu”
            “gua ga mau sombong ah. Jadi orang biasa aja meskipun gw punya talenta yang lebih bagus dari artis-artis indonesia” tetap dengan pede nya yang sudah stadium akhir itu aken menjawab pujian dari Refal.
            Bel tanda jam istirahat sudah berbunyi. Aken dengan semangat 45 nya keluar kelas dan menuju ruangan kelas sahabat-sahabatnya. Mereka bertiga menuju tempat favorit mereka yaitu Kantin. Tempat ini membuat mereka betah di sekolah dan saat di kantin mereka merasa ada di surga dunia yang indah penuh dengan kenikmatan dan hutang-hutang yang tidak pernah mereka bayar pada ibu-ibu kantin di sekolah. Setiap mereka bertiga ada di kantin semua pemilik kantin pasti was was kemalingan oleh trio amit-amit ini. mereka bak tuyul-tuyul yang sedang beraksi. Mengambil tanpa diketahui oleh pemilik kantin. Disaat kantin sedang penuh dan banyak murid yang membeli makanan. Tangan mereka selalu menyeludup di deretan banyak murid itu. mengambil, kenyang tanpa membayar. Itu prinsip mereka. Tak ada murid lain yang bisa mengalahkan kegilaan mereka.
            Setelah jam istirahat selesai. Mereka kembali ke alamnya masing-masing. Aken masuk ke ruangan kelas dengan hati yang riang tiba-tiba aken melihat siti yang sedang menangis di kursi belakang. Aken menghampiri siti dan bertanya ada apa dengannya. Siti hanya menangis dan tidak menjawab pertanyaan dari aken. Akhirnya aken berpikir memutar otak-otaknya hingga matang. Mata aken tertuju pada sebuah sapu yang tidak berdaya di sudut kelas. Aken mengambil sapu itu kemudian di depan kelas dia berpidato seperti presiden kanak-kanak yang bego.
            “selamat siang kawan-kawan 11B yang saya cintai. Kali ini saya akan menyanyikan sebuah lagu yang dikhususkan untuk Siti Khadijah Kenata yang kelak menjadi istri saya..”
            “Amiiinnnnnnnnnnnnnnn” sorak siswa 11 b di dalam kelas
            Siti tidak tertunduk dan menangis lagi. Siti melihat tingkah si aken yang menyanyikan lagu st12 di depan kelas dengan penuh ekspresi.
            “jangan menangis sayaaannggg .. ini hanyalah cobaan Tuhan . Hadapi semua dengan senyuman syalalalalala”
            Siti tertawa melihat tingkah laku Aken dan Aken menghampiri siti lalu saat itu menjadi kesempatan si angga kenata surya itu. sejak lama dia menaksir siti dan saat itu dia menyatakan cinta pada siti dengan gaya yang sangat norak. Tapi cara itu sukses membuat aken dan siti menjadi pasangan. Kegilaan aken tetap berlanjut meskipun memiliki kekasih. Siti tidak pernah malu memiliki pasangan seperti aken justru siti merasa senang akan kegilaan aken yang membuat mereka berdua memiliki hubungan kini.
            Beberapa tahun kemudian setelah aken lulus dari sma dan telah menyandang gelar sarjana. Aken menikahi Siti Khadijah kekasihnya sejak SMA. Mereka menjadi keluarga bahagia. Joni Saputra masih menjalankan kuliah dan dia sudah memiliki kekasih yang tertarik oleh kesexyan jidat joni. Dan solihin kasela kini sedang menjalankan pemotretan. Dia terkenal sebagai parodi dari ian kasela. Namanya memuncak saat dia sedang bernyanyi di jalan dengan gaya sok ian kasela lalu ada produser yang melihat dan menarik solihin untuk ikut dengan mereka. Artis. Mungkin solihin kini memiliki status itu. tahun 2011 mereka datang ke acara reuni di SMA dan membawa pasangan masing-masing bahkan ada yang membawa anak-anaknya yang cukup banyak. Saat acara itu para alumni dibagikan kaos dan buku-buku yang berisi kenangan di SMA. Saat itu Farel anak dari Angga dan Siti membuka buku-buku itu dan melihat foto saat ayahnya sedang dihukum berlari dengan menggunakan boxer penuh gambar love sana sini. Begitu narsis ayahnya dengan gaya nya bagaikan artis hollywod. Di halaman berikutnya ada foto ayahnya dengan 2 kawannya. Jonnong dan solihin kasela. Di halaman itu di ceritakan bagaimana badung dan gilanya mereka saat di sekolah. farel hanya tertawa-tawa membaca semua itu. dia baru tau nama panggilan ayahnya adalah AKEN yang diambil dari singkatan namanya yaitu Angga KENata. Lalu di halaman selanjutnya, ada foto ibu dan ayahnya yang menjadi pasangan terfavorit di SMA waktu dulu. Di bawah itu ada nama SITI KHADIJAH dan AKEN OLEGUN. Farel bingung dengan nama yang ada di belakang nama panggilan ayahnya itu.
            “ayah .. ini ada foto ayah sama ibu. Olegun itu apa ?” dengan polos farel bertanya pada aken
            “hehe olegun itu nugelo nak . coba baca dari belakang. Itu julukan ayah sama om joni dan om solihin dulu. Waktu SMA, ayah itu selalu bertingkah aneh-aneh. Tapi ayah ga pernah lakuin hal-hal yang di luar batas kewajaran untuk pelajar. Ayah senang melihat teman-teman di sekitar ayah termasuk ibu mu ini yang kegaet sama ayah gara-gara kegilaan ayah dulu. Nanti kamu boleh lakuin hal yang kamu mau selama itu masih di dalam batas wajar dan positif. Tetap jadi diri kamu sendiri ya nak. Ayah dan ibu selalu dukung yang terbaik buat kamu”
            Beberapa tahun kemudian saat farel SMA ternyata Farel menjadi anak yang gila seperti ayahnya tapi pintar seperti ibunya. Kesenangan itu bisa kita dapat saat menjadi diri sendiri. Suatu hal akan indah, saat kita menyukainya.

Jumat, 21 Oktober 2011

Tangisan Permata Ibu

     Obat-obatan berceceran di sebuah ruangan yang kotor yang tak pernah dibersihkan. Berpuluh-puluh suntikkan tergeletak di sudut-sudut ruangan. Terlihat sesosok pria remaja bernama Rehan yang begitu pucat karena telah menggunakan obat-obatan dan meminum-minuman keras. Dia hanya bisa terdiam lemas karena mengalami efek dari obat-obatan yang disuntikkan masuk ke dalam tubuhnya. Dia melihat ke tumpukkan tempat di mana dia menyimpan semua barang berharganya itu. Ternyata obat-obatan yang dia beli dengan uang hasil memalaknya di sekolah dan mencuri dari lemari ibunya sendiri sudah habis. Dia mengambil handphone dan tas kucelnya untuk membeli obat-obatan ke orang yang biasa menyetorkan padanya. Saat rehan hendak keluar rumah. Terlihat ibu yang sedang duduk santai di tengah rumah. Ibu yang sangat lemah lembut itu bertanya pada anaknya.
            “Rehan.. mau kemana kamu nak? Sudah makan belum? Ibu siapkan makanan favorit kamu di dapur.”
            Tapi dengan wajah tanpa ekspresi apapun rehan keluar dan menutup pintu dengan kencang. Saat itu, ibu hanya bisa mengelus dadanya dan tersenyum. Anak itu sampai saat ini belum mengerti tentang orang tuanya. Ibunya berusaha semampu mungkin untuk memenuhi semua keinginan anaknya itu. Tapi ibu yang memiliki kenginan sedikit, yang hanya menginginkan anaknya menjadi anak yang soleh dan berbakti pada kedua orang tuanya, sulit untuk dia penuhi. Apa semua remaja  kini seperti Rehan? Tanya Ibu Widya dalam hatinya.
            Rehan pulang dengan wajah ketus dan emosi, karena dia tidak mendapatkan kebutuhannya itu. Dia mengamuk di kamar dan berteriak-teriak membuat Ibu Widya khawatir akan keadaan anak semata wayangnya itu. Ibu widya menghampiri Rehan yang ada di kamar. Pintu kamar Rehan terkunci. Entah apa yang dia lakukan di dalam. Ibu berusaha mengetuk pintu kamar rehan tapi tak ada respons sedikitpun dari dia. Untungnya ibu menyimpan semua kunci cadangan ruangan-ruangan di rumah. Ibu membuka pintu kamar yang di penuhi dengan poster-poster itu. Ibu begitu terkejut melihat anak kesayangannya itu seperti orang yang ketakutan di sudut kamar yang gelap dan juga sangat berantakan karena keberontakkan dari Rehan. Ibu memeluk rehan dan tak ingin terjadi apa-apa pada anaknya itu. Rehan hanya menggigil dan terdiam dalam pelukan ibunya itu. lama kelamaan rehan tertidur dalam pelukan Ibu Widya. Ibu meminta tolong pada pembantunya untuk mengangkat rehan ke kamar tamu untuk tempatnya beristirahat sementara. Anak sekolah menengah atas yang kini remaja dan mencari jati dirinya itu tertidur pulas di sebuah ranjang yang besar dan dihias senyaman mungkin oleh Ibu Widya. Dia terlihat begitu pucat dan lelah. Terlalu banyak obat yang dia masukan ke dalam tubuhnya itu. Setelah mengurus anaknya itu, Ibu Widya bergegas menuju kamar Rehan dan merapihkan kamarnya yang sangat menyeramkan itu. Ibu Widya menangis melihat banyak sekali suntikan dan bungkus obat-obatan bahkan sebuah lem keras yang entah apa fungsinya di kamar itu. Ibu begitu sedih melihat anaknya kini yang telah terbawa oleh pergaulan yang salah. Yapi ibu tak ingin menunjukkan kesedihan dan air matanya ini pada anak kesayangannya itu meskipun Ibu merasa gagal sebagai orang tua. Tomi atau ayah kandung Rehan sibuk mengurus pekerjaannya di luar kota hingga Ibu Widya mengurus anaknya itu sendirian. Ibu Widya membereskan ruangan itu sehingga terlihat rapih dan tidak menyeramkan lagi. Keesokan harinya Rehan baru sadar dari efek obat-obatan yang dia konsumsi kemarin. Dia merasa kebingungan mengapa sekarang dia ada di kamar tamu. Apa yang terjadi kemarin padanya? Dia melangkah dengan lemas menuju kamarnya. Saat dia membuka pintu kamarnya , emosi Rehan memuncak melihat semua obat-obattannya tidak ada dan semua  menjadi bersih tertata rapi. Ibu. Pasti dia yang melakukan ini semua. Rehan kesal mengapa ibu nya itu selalu merusak keinginannya. Apa yang di inginkan oleh ibunya itu.
            Terlihat Ibu Widya yang sedang duduk di halaman taman dengan secangkir teh dipangkuannya. Dia begitu tenang dan nyaman melihat bunga-bunga yang dia rawat selama ini. Tiba-tiba Rehan berteriak dari dalam rumah.
            “Mamaaaahhhhhh ....” teriak Rehan dari dalam rumah.
            Ibu widya menyimpan tehnya di kursi taman dan menghampiri rehan di dalam rumah.
            “Ada apa nak? Ko kamu teriak-teriak kaya gitu?”
            “Aaaahh jangan banyak ngomong deh mah. Mamah buang kemana semua obat sama suntikkan yang ada di kamar Rehan! Mamah jangan asal buang barang orang ! itu tuh penting buat Rehan.”
            “Mamah buang semua itu ke bak sampah dan mamah bakar nak.” Masih dengan nada lembut Ibu Widya menjawab sentakkan dari Rehan.
            “Mamah itu apa-apaan sih! Itu punya Rehan, mamah gak ada hak buat buang semua itu bahkan bakar. Mamah pengennya apa? Rehan gak ngerti sama pikiran mamah gimana?”
            Ibu widya menjawab dengan alunan lembut tapi berisi sentakkan.
            “Mamah yang gak ngerti sama pikiran kamu han. Buat apa kamu koleksi dan bahkan pakai semua yang rusak badan kamu sendiri. Kamu tanya pengennya mamah apa? Percuma mamah bilang karena belum tentu kamu bisa penuhi itu.”
            “Mah Rehan itu anak remaja. Wajar kalo Rehan pake itu. hampir semua anak remaja pake itu juga. Ini tren maah.. ayo mah bilang aja pengennya apa? Uang? Mobil? emas? Rehan buktiin rehan bisa dapetin semua itu.”
            “Anak remaja? Apa remaja harus lakukan itu? tidak nak.. tolong kamu berpikir lebih dewasa dan memikirkan efek dari semua yang kamu pakai bukan memikirkan tren. Tidak, mamah tidak inginkan itu. mamah hanya inginkkan kamu menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada mamah dan ayah kamu. Mamah mengandung kamu selama 9 bulan, mengurus kamu sejak kecil, merawat dan memenuhi semua keperluan kamu bukan untuk menjadikan kamu seorang anak pengobat seperti ini. Bahkan mamah sering melihat kamu melakukan seks dengan wanita yang tidak jelas di kamar kamu. Apa itu bagus nak? Mamah tak ingin melihat anak yang mamah sayang harus menikah dini. Kamu belum mapan nak .. mau kamu kasih makan apa anak dan istri kamu nanti? Mamah mohon nak.. kamu sudah dewasa tolong mengerti mamah. Jauhi semua itu. bereskan sekolah kamu dengan sungguh-sungguh. Mamah ingin kamu jadi yang terbaik untuk semua . bukan dipandang sebagai seorang pecundang oleh semua.”
            Ibu Widya menangis di depan Rehan. Ibu memeluk Rehan dan air mata Rehan menetes di baju Rehan dan bahkan menembus hingga dalam hati Rehan. Ibu selalu tersenyum di depan rehan meskipun perlakuan Rehan tak pantas untuknya. Kini Rehan memeluk seorang wanita tua yang merawatnya sejak kecil dan menyayangi dengan sepenuh hatinya sedang menangis karena tingkah laku Rehan sendiri. Betapa berdosanya aku. Rehan terlarut dalam tangisan ibunya. Dia menyesali tak bisa penuhi semua keinginan orangtuanya. Air mata ini membuat Rehan mengerti.
            Setelah kejadian itu Rehan merubah semua hal darinya. Dia mulai mengikuti rehabilitasi. Setelah itu dia menyelesaikan sekolah dan bekerja. Tak hanya itu, dia menjadi rajin beribadah dan bahkan dia membiayai kedua orangtuanya untuk naik haji. Ibu Widya tersenyum melihat anaknya sekarang yang sukses dan soleh. Bukan seorang anak berandal yang tak jelas arah hidupnya. Rehan berjanji dia akan bahagiakan ibunya di masa- masa tuanya. Rehan tak ingin lagi melihat ibunya menangis dan meneteskan air mata karena sikapnya. Masa remaja bukan mengikuti tren. Tapi mengikuti hati dan pikiran logika kita. Orang tua yang akan memberikan arahan hidup dan harus kita ikuti semua itu di jalan yang positif. Masa remaja akan indah jika kita menjalaninya dengan hal yang positif dan membuat sebuah kebanggaan untuk semua.

                                                                                                                        Karya : Roi Setiawan